Selasa, 28 Februari 2017

Cara terbaik itu..

Kau tau, Bagiku, dirimu sebelum bertemu denganku bagaikan kertas kosong tanpa noda maupun tinta, Tak ada coretan, tak ada cerita. Dengan begitu aku bisa memulainya dari awal, mencintaimu tanpa alasan dan pertimbangan baik dan buruk yang akan kuhadapi kemudian. Memulai semuanya dari halaman pertama yang kosong tersebut. Tak ada yang ingin ku usik sedikitpun dari masa lalumu, itu adalah milikmu. Sama sepertiku, masa laluku hanyalah milikku. Sebaik apapun kita menceritakannya, yang paling memahaminnya tetaplah diri kita masing-masing.
kita adalah dua orang asing awalnya. Lalu karena daya dan kekuatan diluar diri kita, akhirnya kita bertemu. Masing-masing dari kita mungkin pernah berdo’a untuk dipertemukan dengan seseorang yang dapat melengkapi satu sama lain. Adakah do’a kita telah terjawab? Apakah itu aku? Apakah itu kamu? jawabannya ialah ikhtiar kita. Ikhtiar kita untuk mewujudkannya, bahwa benar do’a dan harapan kita telah sampai, telah terdengar, telah terkabul, bahwa jawaban do’a itu adalah aku, bahwa jawaban do’a itu adalah kamu.
Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana kehidupan yang telah kau lalui. Bagaimana waktu telah mengajari dan mendewasakanmu, kisah yang seperti apa yang telah membentukmu seperti ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menghakimimu atas masa lalu yang aku tidak ada didalamnya! Aku mencintaimu atas dirimu saat ini. Saat pandanganku buta akan masa lalu mu, saat pendengaranku tuli akan kisah-kisahmu. Yang aku tau bahwa dihadapanku adalah gadis kuat nan tegar, dan aku mencintainya.
Kita pernah diperkenalkan pada luka yang sangat dalam. Mungkin juga sering kali. Namun apakah kita akan berhenti dan berputar arah untuk kembali? Berharap saat kita kembali, luka itu tak pernah tergores, tak pernah menganga, tak pernah remuk hingga berkeping-keping. Tidak, itu tidak akan membuat kita lebih baik dari pada saat ini. Bagiku, itu terlalu menakutkan, aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang karena berharap dapat mengulang dan menulis ulang masa lalu. Aku terbentuk darinya, aku bersyukur pernah melalui kisah itu. Jika ada sesuatu yang kuinginkan darinya ialah hikmah dan keikhlasan.
Satu hal yang selalu ku pegang baik-baik. aku percaya, cara terbaik untuk jatuh cinta ialah dengan mencintai seakan kita tidak pernah terluka sebelumnya.


#SI



Kamis, 16 Februari 2017

Cerita tanpa janji

Entah apa rencana Tuhan hari itu. Entah mengapa hari itu harus berjalan demikian. Hari itu entah mengapa selalu saja ada kenyataan. Dan entahlah, mungkin Tuhan berniat untuk membuatku tak larut dalam harapan. Tuhan menghadirkan sebuah masa lalu, yang entah belum bisa kusikapi saat ini.

Ini memang salah, karena tak seharusnya aku mengetahuinya dengan cara seperti ini. Sebelum cerita ini kutuliskan lebih jauh, permohonan maaf coba kusampaikan untukmu, tak seharusnya aku memasuki wilayah pribadi jejaring sosialmu, tak seharusnya aku mencari, melihat dan membaca semua guratan pesan cerita kamu dan dia. Sekali lagi sebelumnya ‘maaf’…

Dari semua yang kubaca, entah mengapa keraguan justeru yang menyusup dalam hati, kesedihan yang mengiri tiba-tiba…

Mungkin ini adalah cerita lalu tentang dirimu, tapi tak dapat dipungkiri ada sebuah rasa resah yang mengikuti. Cerita tentang bagaimana kamu mencitainya, cerita tentang bagaimana kamu mendambanya, cerita tentang bagaimana setiap janji setia kamu utarakan kepadanya.

Dan jujur, itu semua membuatku gamang, semakin gamang tentang kepercayaan. Sungguhkah rasamu kini padaku? sebesar apakah rasamu padaku? dan janji semanis apa yang bisa kamu sampaikan padaku melebihi untuknya? Dan untuk smua menjadi sederhana bahwa aku *cemburu.*
Kemudian kubuka lembaran ceritaku dengan dia yang telah menjauh, kubaca setiap pesan yang pernah kutulis, dan nyatanya tak ubahnya dengan dirimu, aku pun pernah begitu mencintai dan mendamba seseorang. Maka mungkinkah sama yang kau rasa, cemburu?

Nyatanya kita berdua punya masa lalu. Nyatanya kita berdua pernah berjanji dengan orang lain. Lalu bagaimana sekarang harus kusikapi hubunganku denganmu?
Ahhh, aku tak ingin kata-kata manismu, tak ingin semua janji-janjimu, aku hanya ingin kamu, cintamu yang sungguh sederhana, keberadaanmu yang sungguh nyata, pengertian dan kesetiaan yang menyertai.
Dengan semua keterbatasan yang ada, dengan segala perbedaan yang nyata, hanya ingin bersama mengukir cerita. Utuh…
Dalam setiap keinginan dan kenyataan mencoba menjabarkan kejujuran. Dan juga harapan.

Kita berjalan dalam keterbatasan yang sungguh menguatkan setiap perbedaan. Walupun hanya satu perbedaan, namun rasanya ini adalah segalanya.  Tak bisa memungkiri, kadang ingin menghapus setiap yang berbeda itu, menjadikannya sama, menjadikannya lebih mudah untuk dijalani. Inilah sungguh keegoisan pertama dan utamaku atas kamu.
Tak ingin kamu menjadi seorang manusia luar biasa, yang dipuja, dan dielu-elukan. Hanya ingin kamu yang sederhana dan apa adanya. Tapi sungguh aku tak ingin kamu yang tak berdaya, yang kandas oleh realita, yang tak lagi percaya pada mimpi apalagi diri sendiri.

Aku berada di sampingmu berusaha dan berharap menjadi bagian yangmenguatkan dan mengokohkanmu, bukan melemahkanmu.  Ingin bersandar di pundakmu, berlindung dalam dekapanmu, tapi juga mampu menghapus peluh dan ragumu.

Sanggupkah sayang, kamu meyakinkanku bahwa bersamamu bukan penyesalan? Sanggupkah sayang, kamu meneguhkan hatiku bahwa mimpimu tak kan pernah berhenti? Karena aku adalah wanita yang tak memungkiri tetap mendambakan perlindungan darimu untuk sebuah masa depan sang lelaki yang tetap menghargai kemandirianku. Maka masih maukah kamu percaya bahwa dirimu mampu? Karena bila kamu sendiri tak percaya, bagaimana aku harus menaruh harapan dan kepercayaan masa depanku denganmu? Maukah kamu meyakinkanku?
Sudikah dirimu sayang, menjadikanku bagian darimu? Sudikah dirimu sayang, menjadikanku bagian yang ada dalam suka dukamu? Karena aku adalah seorang lemah yang bukanlah siapa-siapa, yang tak mengerti bagimana menjadi penguat bagimu.

Dan sayang, tak kuperlukan setiap ucapan mesramu, tak kuinginkan setiap janji manismu. Karena sudah terlalu banyak janji yang telah masing-masing kita ucapkan untuk masa lalu kita. Aku tak rela sama dengan dia yang pernah kau janjikan, dan aku tak ingin kamu menjadi sama dengan dia yang pernah kugantungkan janjiku. Karena aku ingin kamu, hanyalah kamu, tanpa janji yang entah sanggup terwujud atau tidak, aku hanya ingin menjalani waktu bersamamu sebagai kini dan dan masa depan, tak lagi sama dengan masa lalu.

Sekali lagi, maaf sayang untuk ketidaksopanan tentang masa lalumu. Dan harus kuakui, aku menaruh cemburu, dan entahlah, mungkin ada luka, karena mengetahui pernah sebegitu besarnya perasaanmu padanya. Dan aku takut kini justeru membuat raguku makin menguat padamu di tengah badai perbedaan kita sendiri.
Tak ingin kata-katamu yang mengatakan bahawa kamu telah melupakannya, itu seperti kata-kata manis yang berakhir pahit. Hanya ingin sebuah ketulusan, yang juga coba aku kuatkan atas dirimu.
Tak ingin janjimu tentang melindungi, hanya ingin benar-benar sebuah perlindungan. Sehingga semuanya akan berakhir utuh sesungguhnya.
Sampai nanti, sampai Tuhan tak lagi ciptakan hari.


SI
2016 September 22,