Minggu, 22 April 2018

Namun, ada beberapa

Matahari senja menampakkan dirinya yang begitu indah setiap hari. Hiruk pikuk dunia pun dimulai. Ketika semua bahkan tidak menyadari betapa indahnya itu, sibuk dan lebih fokus bergegas pada target-target baru.
Namun ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya, untuk sekedar menikmati sinar merah kekuningan dibalik horizontal lautan. Kebisingan, keramaian, keriuhan pun semakin diteriakkan diseluruh penjuru. Di sekitar, di sini dan di sana. Yang terkadang membuat kita muak dan kesal akan keadaannya. Rasanya ingin berlari menjauh dan merasakan kedamaian sunyi dunia.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar tahu bagaimana dunia bersuara. Ada yang berteriak, berpidato, mengungkap fakta dan opini. Bahkan tidak jarang pula yang mengumbar kemunafikan berbalut mulia. Entah itu bangsawan negara, atau bahkan hanya seorang pengemis biasa. Semua berseru dan mengungkapkan keinginan.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar menyuarakan isi hatinya. Berbicara pada Tuhan. Memberi tahu pada dunia. Memberitahu pada semua. Yang tersulitpun, memberitahukannya padamu. Namun, semua bergegas karena waktu pun tidak pernah menunggu. Tidak pernah jadi. Karena, langkah demi langkah yang menggebu menghiasi seluruh sudut kota. Deru tapak kaki yang terdengar bergemuruh bersiut ria selaras putaran ban-ban karet yang berlari kencang. Tidak pernah mundur.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar melangkah dari tempat tidurnya. Menghias dunia lewat karya indah tangan manusia. Berkreasi tanpa henti. Dengan kepalan, rentangan, lambaian serta remasan. Terus menciptakan hal-hal baru. Tidak pernah berputus asa.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar meminum segelas air tanpa bantuan orang lain. Tanpa meminta pada orang lain. Berdiri dan bergegas sendiri. Pun hingga, mampulah melihat lebih dalam, merasa dengan baik, mendengar lebih tajam, berkata lebih lantang, melangkah lebih jauh, berkerja lebih keras, serta bersyukur lebih banyak. Sebab, di tengah kesibukannya terkadang manusia lupa memiliki kesempurnaan yang kadang tidak dimiliki orang lain. Memiliki kesempatan lebih. Menyepeleh, begitu hal biasa bagi kebanyakan manusia. Namun, tanpa sadar merupakan impian terbesar bagi beberapa orang. Tundukkan kepala, renungkanlah. Terkadang kau lupa betapa berharganya diri ini. Bersyukurlah pada anugrah Tuhanmu yang tidak ternilai itu. Karena sesungguhnya, tidak semua manusia mendapatkannya.






Kau tahu

Kau tau, Bagiku, dirimu sebelum bertemu denganku bagaikan kertas kosong tanpa noda maupun tinta, Tak ada coretan, tak ada cerita. Dengan begitu aku bisa memulainya dari awal, mencintaimu tanpa alasan dan pertimbangan baik dan buruk yang akan kuhadapi kemudian. Memulai semuanya dari halaman pertama yang kosong tersebut. Tak ada yang ingin ku usik sedikitpun dari masa lalumu, itu adalah milikmu. Sama sepertiku, masa laluku hanyalah milikku. Sebaik apapun kita menceritakannya, yang paling memahaminnya tetaplah diri kita masing-masing.
Kita adalah dua orang asing awalnya. Lalu karena daya dan kekuatan diluar diri kita, akhirnya kita bertemu. Masing-masing dari kita mungkin pernah berdo’a untuk dipertemukan dengan seseorang yang dapat melengkapi satu sama lain. Adakah do’a kita telah terjawab? Apakah itu aku? Apakah itu kamu? jawabannya ialah ikhtiar kita. Ikhtiar kita untuk mewujudkannya, bahwa benar do’a dan harapan kita telah sampai, telah terdengar, telah terkabul, bahwa jawaban do’a itu adalah aku, bahwa jawaban do’a itu adalah kamu.
Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana kehidupan yang telah kau lalui. Bagaimana waktu telah mengajari dan mendewasakanmu, kisah yang seperti apa yang telah membentukmu seperti ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menghakimimu atas masa lalu yang aku tidak ada didalamnya! Aku mencintaimu atas dirimu saat ini. Saat pandanganku buta akan masa lalu mu, saat pendengaranku tuli akan kisah-kisahmu. Yang aku tau bahwa dihadapanku adalah gadis kuat nan tegar, dan aku mencintainya.
Kita pernah diperkenalkan pada luka yang sangat dalam. Mungkin juga sering kali. Namun apakah kita akan berhenti dan berputar arah untuk kembali? Berharap saat kita kembali, luka itu tak pernah tergores, tak pernah menganga, tak pernah remuk hingga berkeping-keping. Tidak, itu tidak akan membuat kita lebih baik dari pada saat ini. Bagiku, itu terlalu menakutkan, aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang karena berharap dapat mengulang dan menulis ulang masa lalu. Aku terbentuk darinya, aku bersyukur pernah melalui kisah itu. Jika ada sesuatu yang kuinginkan darinya ialah hikmah dan keikhlasan.
Satu hal yang selalu ku pegang baik-baik. aku percaya, cara terbaik untuk jatuh cinta ialah dengan mencintai seakan kita tidak pernah terluka sebelumnya.