Sabtu, 07 Oktober 2017

Semoga saja

Ada dua hal penting dalam hidup seseorang. Selain keluarga, adalah pendidikan dan pekerjaan. Banyak yang akhirnya terpaksa memilih melepas orang yang dicintainya karena tidak bisa memahami pilihan. Tidak bisa menerima kesibukannya dengan dua hal tersebut. Tidak bisa memahami bahwa pendidikan dan pekerjaan adalah hal penting bagi hidup seseorang, itulah mengapa ada orang yang dengan berat harus mematahkan hatinya sendiri saat harus menempuh pendidikan dan pekerjaan ditempat yang jauh. Sementara kekasihnya tak mampu menjalani hubungan jarak jauh. Bahkan mungkin ada yang melepaskan kekasihnya karena pekerjaan yang dipilih. Untuk hal itu, aku pernah takut membayangkannya. Setiap orang berhak memilih dengan siapa dia ingin menjalani hidup. Namun satu yang pasti, perihal masa depan, perihal nasib, tak ada yang benar-benar pasti dalam hidup ini. Biarlah waktu dan hidup yang menjawab semua keresahan. Percaya saja, Tuhan punya banyak hal yang tak pernah mampu ditebak oleh manusia.
Kini saat itu tiba. Perihal, mungkin dengan kamu harus fokus pada pendidikan dan pekerjaanmu. Berusaha mencoba mengerti apa yang sedang terjadi, sebab tidak mudah menerima keadaan yang membuat perasaan merasa mendiamkan. Namun perasaan kepadamu membuat aku mencoba berpikir baik. Barangkali memang butuh waktu sendiri untuk saat ini. Kamu butuh fokus untuk menyelesaikan apa yang sedang dijalani. Berat memang menerima, bagaimana tidak, kebiasaan yang intens setiap hari tiba-tiba berubah mendadak (mungkin nantinya). Harus menenangkan diriku dengan sangat. Meyakinkan diri dengan tenang meski tak semudah yang dibayangkan. Harus mengerti. Biar kujaga semua apa yang harus dijaga. Pun dirimu, semoga demikian.
Selesaikanlah semua urusanmu. Itu yang terbaik saat ini. Aku akan melanjutkan perjuanganku sendiri. Semoga kelak, kita masih punya waktu untuk meneruskan semua cita dan cerita yang tertunda. Sebab paham, pendidikan memang lebih penting dari apapun. Hanya doa dan harapan yang bisa kujaga, aku masih ingin menempuh sisa cerita ini. Masih ingin melanjutkan cerita yang pernah terangkai. Aku masihlah seseorang yang dengan tabah mencintaimu. Seseorang yang selalu menunggu kembali. Jikalau semua urusan sudah selesai, mari bertemu. Namun, jika tak pernah kembali, semoga saja suatu hari nanti catatan ini bertemu denganmu. Sebab; begitu kehilangan saat tiba-tiba pergi. Lalu memutuskan untuk menunggu meski tak tahu apakah kamu pasti kembali, atau malah menghilang bersama cerita ini. Sebab.. dulu sebelum ada kamu. Aku pernah begitu mencintai seseorang. Aku katakan kepadanya, barangkali sulit bagiku menemukan orang baru yang bisa kucintai. Dan memang begitu adanya. Hingga satu tahun lebih berlalu begitu saja. Aku tak menemukan seseorang yang bisa di ajak bersama. Beberapa orang hanya datang dan pergi begitu saja. Hingga akhirnya, kamu datang. Waktu mempertemukan. Dan, semuanya mulai berubah. Perasaan yang dulu seolah mati. Bersemi kembali. Tumbuh menjadi benihbenih kebahagiaan baru. Aku berbenah diri. Harihari baru telah tiba. Aku dan kamu mulai menata cerita. Kita menyepakati banyak hal. Merancang masa depan. Dan kamu begitu bersemangat dengan segala impianmu. Akupun begitu. Aku menjadi punya banyak hal yang ingin kuperjuangkan. Mungkin beginilah cinta bekerja. Seseorang yang merasa sudah tak punya banyak tujuan, tibatiba berambisi untuk menggapai ini itu dimasa depan. Namun waktu seolah mempermainkan. Kini perasaanmu dan perasaanku sedang diuji. Kita dihadapkan bahwa tidak semua rencana bisa berjalan semulus yang kita duga. Kamu di hadapkan pada pilihan Masa depanmu. Dan aku tahu, kamu sudah lama menginginkannya. Namun, rasanya tidak berdaya berdiri sendiri untuk memperjuangkan. Akhirnya, aku memilih menunggu. Membiarkan perasaanku sabar dan rencanarencana kita menjadi tak teratur. Cintalah barangkali yang membuat aku tetap nampu memahami. Hal yang membuat aku tetap bertahan dengan perasaan yang sama. Aku tidak pernah berhenti mencintai. Mendukung dan melihatmu digaris finis yang sukses adalah alasan dan rencana yang kutata begitu jelas. Biarpun langkahlangkah terasa tak pasti. Namun, aku percaya. Aku memilih tetap di sini. Menanti dengan kabar sukses di tanganmu. Menanti kabarmu yang sedang memperjuangkan hidupmu. Aku tahu, kemungkinan kamu tak kembali selalu ada. Tapi, aku tidak berpikir untuk kembali jatuh cinta kepada yang lainnya. Sebab, kau pernah datang sebagai penyemhuh, aku percaya, kau tak akan pergi sebagai pembunuh. Tetaplah bejuang. Kembalilah dengan Pribadi yang akan membuat Ratu rumahmu bangga. Lelaki terhebatmu bahagia. Sukseslah demi orangorangmu. Sebab, tanah pangkuanmu Rindu akan sosok sepertimu. Dariku, do'a dan rahmat bersamamu.
Semoga waktu dan rindu kembali membawamu pulang. Kedekapku, mendekat dan tak pernah lagi berlalu. Semoga saja.



Sabtu, 20 Mei 2017

Maafkan aku

Rupanya Allah punya alur cerita lain. Semua malam yang menggelikkan, seketika menjadi malam yang menyesakkan. Malam itu terus berjalan sampai berhari-hari. Dan aku tidak akan membahasnya atau mengingat-ingatnya. Yang jelas meski menyesakkan aku hanya begitu menikmatinya dalam segala hal dan semuanya telah terlewati. Sekarang cerita kembali berbeda. Malam ini aku harus kembali meminta maaf padamu, karena banyak salah yang telah ku selipkan di ruangmu. Maaf karena telah membuatmu menjadi bagian dari pejuang jarak yang tak nyaman. Sejak aku bergabung di pejuang jarak, aku hanya berusaha bersahabat dari kilo meter dan berusaha menjauh dari rindu. Tapi sering kali rindu tak tau diri; semakin sering aku mengusirnya semakin sering pula dia datang hinggapun aku terbiasa. Maaf, aku juga belum terbiasa dari menahan rindu, sampai rindu acap kali meminta jadi temanku. Maaf, atas perasaan yang salah, lebihpun sikap yang tak biasa. Dan seketika aku sadar; rindu, perasaan, sikap salah yang hadir dalam diriku telah membuka ruang terselipkan rasa kecewa dan luka luar biasa atasmu.
Maafkan aku. Aku mencintaimu๐Ÿ˜ญ









Kamis, 11 Mei 2017

Begitu egois

Semakin kita didiamkan seseorang, artinya kita sedang dianggap tidak penting. Barangkali, aku hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang dia punya, yang punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat. Sementara aku semakin hari semakin menguning. Pelan-pelan mulai digoyah oleh angin. Kau bisa dengan mudah melepasku. Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Jatuh ke tanah. Lalu dipaksa menyerah. Dipaksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?
Maaf begitu egois. Kau tak tahu dera jalanan yang sedang dihadapi. Kau hanya melihat selayang di luar, di dalam yang lelah tak terhiraukan. Tak perlu mengerti, kau hanya perlu tahu; ada yang tak bisa ditahan rindu, namun tetap harus kutenangkan dalam dadaku. Mungkin, ada titik aku merasa aku hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan kegelisahan yang ada di dalam dada. Meyakinkan bahkan kecemasan-kecemasan akan segera reda. Lalu megajarkan bibirku tersenyum –apa pun yang sedang dijalani. Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu. Hinggapun, saat seseorang memutuskan pergi. Meninggalkan begitu saja, yang sudah berusaha memahami, tapi karena egois dan keras kepala. Dia lelah akhirnya menyerah. Hinggapun aku merasa; Nyatanya aku hanya merasa dilukai, tanpa sadar malah lebih sering melukai.







Kamis, 20 April 2017

Biarkan, dan bebaskan setiap rasa

Mulai bertanya-tanya apa yang dimau hati, mulai meraba-raba apa yang dirasa hati. Semua menjadi terasa abu-abu dan tak menentu. Bimbang dan gamang, mencoba memahami semuanya.
Benarkah semua tak dipahami, ataukah sesungguhnya tak mau mengakui? Tak mau mengakui apa yang sebenarnya dirasakan hati, menyembunyikan setiap kejujuran yang selalu tertutupi. Mulut ini mampu berucap sejuta pengingkaran. Langkah ini bisa berlari menghindari semua kenyataan. Mata ini mampu mengalihkan pandangan pada yang tak nyata. Namun hati ini selalu mampu menggiring pada kejujuran, perasaan mendalam yang jauh terpendam.
Berujar manis hanya untuk menutupi tangis. Tertawa lepas sembari menghela nafas. Semua menjadi begitu berat untuk berkawan dengan perasaan, semua tunduk pada logika dan setiap perhitungan nalar. Mengapa logika dan perasaan menjadi begitu berjauhan? Adakah yang salah dengan kenyataan?
Selalu mencoba mengingkari dengan berkata ‘tidak’ dan ‘jangan’. Namun semakin kencang semua itu diteriakkan, semakin keras pula bata dalam hati menguatkan fondasi perasaan yang sesungguhnya. Semakin semua mencoba untuk disembunyikan dan diabaikan, maka semakin terang benderang setiap rasa dalam hati. Mengapa harus mencoba begitu keras untuk mengingkari hati? Tidakkah itu hanya akan menyakiti hati jauh lebih dalam, terluka karena kejujuran yang semakin mengakar, terluka karena kejujuran yang semakin diabaikan, dan terluka karena pengingkaran yang semakin kuat diucapkan? Biarkanlah, biarkan setiap kejujuran menjadi nyata, biarkan semua berlari dalam hati dan pikiran, biarkanlah setiap luka menganga hingga tak terasa, biarkanlah senyum itu menjadi penghias hari, dan air mata itu pembasah hati. Biarkanlah, karena itu semua hakikat dari rasa, memiliki jalannya sendiri untuk bertemu dan berkawan dengan logika, memiliki caranya sendiri untuk memahami setiap realita.
Layaknya ayunan yang berayun semakin kencang saat diayun dan berhenti tak bergerak begitu tak ada daya lagi mengayun, selayaknya itulah perasaan yang tersembunyi dalam hati. Berayun oleh hati dan naluri, berayun oleh setiap kata yang mengikuti, berayun oleh setiap canda yang membuntuti. Nikmatilah setiap ayunannya, ayunan yang membuat tersenyum, tertawa, menjerit, hingga menangis. Tak perlu mencoba untuk menghentikannya atau meloncat darinya saat masih terayun, sungguh itu yang akan menyakiti. Biarkanlah, nikmati setiap ayunan dan perasaan yang dibuatnya. Teriaklah saat ingin berteriak, tertawalah saat ingin tertawa, dan menangislah saat ingin menangis. Karna saat ayunan itu tak lagi ingin berayun dan menapakkanmu pada sang bumi, akan ada rindu pada setiap rasa saat berayun yang tak lagi mampu diulangi. Begitulah saat hati begitu dilepaskan untuk merasakan setiap liku rasa tanpa pengingkaran dan penolakan,
Akan ada waktu begitu tak terbatas untuk berkawan dengan hati dan kenyataan. Menikmati senja kedamaian hati bersama secangkir teh kenangan indah yang diseduh dengan berjuta senyuman manis, dengan aroma cinta yang mengayakan emosi dalam hati.
Jadi, mengapa harus takut mengaku bahwa hati ini mencinta dan mendamba? Nikmatilah, dan rasakan, hingga akhirnya akan menjadi cerita sebagai pembelajaran dalam lembaran dongeng kehidupan.

#Satria Imaduddin
#Catatanpena
#☺๐Ÿ˜Š



Minggu, 16 April 2017

Hujan dan Jarak

Berawal dari sebuah kelabilan akan sebuah pilihan, akhirnya terbentuklah sebuah perjalanan. Perjalanan singkat (dunia) dan sederhana, namun menghadirkan banyak canda untuk ditawakan, banyak langkah untuk dijejaki, petualangan yang selalu dikenang, dan sebuah rasa yang menawarkan sebuah cerita. Di bawah rintik air yang jatuh malu-malu setia membasahi kota, hujan dan berselimutkan kabut tipis yang samar mengiringi, sebuah lamunan seolah menghisap seluruh isi dunia, gerak dan suara, dalam sebuah bingkai batas khayalan dan kenangan. Terbias sebuah gambaran utuh cerita yang seolah terproyeksi dalam pikiran, tentang aku, tentang kamu, dan entahlah, mungkin tentang kita. Bila kita masih boleh menjadi sebuah harapan dalam sebuah cerita, jarak adalah sejengkal rindu yang tetap akan terjaga. Pada jarak, Mungkin tak ada yang istimewa. Hanya hujan. Hanya kabut. Lalu lalang jalanan. Hutan dan pepohonan. Dalam gelap. Dalam malam masing masing kota kita berpijak. Sendiri dalam diam yang tak sepenuhnya hampa. Suara deru knalpot, sumbangnya klakson, teriakan dan makian sopir angkot menjadi lagu pengiring untuk setiap lamunan. Sepi yang tak seutuhnya kosong. Lalu lalang jalanan, orang-orang yang berlarian,  dan temaram lampu menjadi latar untuk sebuah drama. Dan hujan bersama kabut menjadi utama mengawal kisah ini.
Hujan, mengisahkan apa yang hati kesahkan. Dan hujan itu, kembali mengantarkan pada kisah tentangmu. Hujan, mewakili sebuah babak yang bernama Jarak. Dan dalam hujan, bayangan tentangmu, tentang kepergian, tentang tempat masingmasing dimana kita berpijak menjadi nyata tergambar, dan biarlah. Ini pada akhirnya mengalir menjadi cerita, yang akhirnya terhapus bersama hilangnya air yang menggenangi jalanan.
Bukan keberadaanmu yang aku cemaskan, tetapi justru kedatanganmu yang aku gundahkan. Kepergianmu hanya berarti kesepian, tetapi entah mengapa kedatanganmu justru berarti sebuah kehilangan. Sebuah jarak
Kehilangan. Entah apa sesungguhnya arti kehilangan. Dan selalukah kehilangan menjadi begitu linier dengan kesedihan? Apakah kehilangan adalah saat tak ada lagi berhadapan dan bersentuhan? Apakah kehilangan adalah ketika tak lagi bersama?
Dan kehilangan ini lebih dari sekedar kepergian dan ketiadaan. Ini tentang keberadaan. Tak perlu wujud yang sempurna tanpa penghalang. tak perlu pertemuan sesering detak jarum jam. Hanya perlu ketakberwujudan dan kesemuan namun penuh perlindungan.
Ini bukan tentang apa yang harus dibicarakan dan diutarakan, tapi ini tentang apa yang harus diluapkan. Ini bukan tentang bagaimana bertahan dan menyerah. Tapi ini tentang bagaimana harus menangis. Dan ternyata tak pernah mudah, sekalipun menangis adalah naluriah. Rindu.
Apa artinya jauh, bila dekat saja sudah berarti jarak. Apa artinya diam, bila berbicara saja tak lagi memiliki arti. Diam dan jarak menjadi jawaban atas apa yang disebut sebagai pengharapan.
Dan hujan telah mengantarkan setiap langkah itu menuju sebuah pemberhentian. Persinggahan. Tempat bersandar setiap pedihnya rasa. Sebuah persimpangan atas sebuah pemahaman. Dan juga penerimaan.
Jarak itu tak selalu bersanding dengan kesedihan. Dia hanya menyapa namun akan berlalu. Jarak hanyalah sebuah proses untuk belajar menerima kebahagiaan, yang terkadang datang malu-malu. Ketika telah tersiapkan hati atas kehilangan akan jarak, maka bersiaplah menyambut senyuman yang mengetuk pintu. Membuka gerbang untuk sebuah kisah yang selanjutnya. Kisah yang bermula dari sebuah jarak dan kehilangan (temanjarakjauh).

Satria Imaduddin


#☺๐Ÿ˜—๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…
#kisah
#LDRnamanya

Selasa, 28 Februari 2017

Cara terbaik itu..

Kau tau, Bagiku, dirimu sebelum bertemu denganku bagaikan kertas kosong tanpa noda maupun tinta, Tak ada coretan, tak ada cerita. Dengan begitu aku bisa memulainya dari awal, mencintaimu tanpa alasan dan pertimbangan baik dan buruk yang akan kuhadapi kemudian. Memulai semuanya dari halaman pertama yang kosong tersebut. Tak ada yang ingin ku usik sedikitpun dari masa lalumu, itu adalah milikmu. Sama sepertiku, masa laluku hanyalah milikku. Sebaik apapun kita menceritakannya, yang paling memahaminnya tetaplah diri kita masing-masing.
kita adalah dua orang asing awalnya. Lalu karena daya dan kekuatan diluar diri kita, akhirnya kita bertemu. Masing-masing dari kita mungkin pernah berdo’a untuk dipertemukan dengan seseorang yang dapat melengkapi satu sama lain. Adakah do’a kita telah terjawab? Apakah itu aku? Apakah itu kamu? jawabannya ialah ikhtiar kita. Ikhtiar kita untuk mewujudkannya, bahwa benar do’a dan harapan kita telah sampai, telah terdengar, telah terkabul, bahwa jawaban do’a itu adalah aku, bahwa jawaban do’a itu adalah kamu.
Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana kehidupan yang telah kau lalui. Bagaimana waktu telah mengajari dan mendewasakanmu, kisah yang seperti apa yang telah membentukmu seperti ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menghakimimu atas masa lalu yang aku tidak ada didalamnya! Aku mencintaimu atas dirimu saat ini. Saat pandanganku buta akan masa lalu mu, saat pendengaranku tuli akan kisah-kisahmu. Yang aku tau bahwa dihadapanku adalah gadis kuat nan tegar, dan aku mencintainya.
Kita pernah diperkenalkan pada luka yang sangat dalam. Mungkin juga sering kali. Namun apakah kita akan berhenti dan berputar arah untuk kembali? Berharap saat kita kembali, luka itu tak pernah tergores, tak pernah menganga, tak pernah remuk hingga berkeping-keping. Tidak, itu tidak akan membuat kita lebih baik dari pada saat ini. Bagiku, itu terlalu menakutkan, aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang karena berharap dapat mengulang dan menulis ulang masa lalu. Aku terbentuk darinya, aku bersyukur pernah melalui kisah itu. Jika ada sesuatu yang kuinginkan darinya ialah hikmah dan keikhlasan.
Satu hal yang selalu ku pegang baik-baik. aku percaya, cara terbaik untuk jatuh cinta ialah dengan mencintai seakan kita tidak pernah terluka sebelumnya.


#SI



Kamis, 16 Februari 2017

Cerita tanpa janji

Entah apa rencana Tuhan hari itu. Entah mengapa hari itu harus berjalan demikian. Hari itu entah mengapa selalu saja ada kenyataan. Dan entahlah, mungkin Tuhan berniat untuk membuatku tak larut dalam harapan. Tuhan menghadirkan sebuah masa lalu, yang entah belum bisa kusikapi saat ini.

Ini memang salah, karena tak seharusnya aku mengetahuinya dengan cara seperti ini. Sebelum cerita ini kutuliskan lebih jauh, permohonan maaf coba kusampaikan untukmu, tak seharusnya aku memasuki wilayah pribadi jejaring sosialmu, tak seharusnya aku mencari, melihat dan membaca semua guratan pesan cerita kamu dan dia. Sekali lagi sebelumnya ‘maaf’…

Dari semua yang kubaca, entah mengapa keraguan justeru yang menyusup dalam hati, kesedihan yang mengiri tiba-tiba…

Mungkin ini adalah cerita lalu tentang dirimu, tapi tak dapat dipungkiri ada sebuah rasa resah yang mengikuti. Cerita tentang bagaimana kamu mencitainya, cerita tentang bagaimana kamu mendambanya, cerita tentang bagaimana setiap janji setia kamu utarakan kepadanya.

Dan jujur, itu semua membuatku gamang, semakin gamang tentang kepercayaan. Sungguhkah rasamu kini padaku? sebesar apakah rasamu padaku? dan janji semanis apa yang bisa kamu sampaikan padaku melebihi untuknya? Dan untuk smua menjadi sederhana bahwa aku *cemburu.*
Kemudian kubuka lembaran ceritaku dengan dia yang telah menjauh, kubaca setiap pesan yang pernah kutulis, dan nyatanya tak ubahnya dengan dirimu, aku pun pernah begitu mencintai dan mendamba seseorang. Maka mungkinkah sama yang kau rasa, cemburu?

Nyatanya kita berdua punya masa lalu. Nyatanya kita berdua pernah berjanji dengan orang lain. Lalu bagaimana sekarang harus kusikapi hubunganku denganmu?
Ahhh, aku tak ingin kata-kata manismu, tak ingin semua janji-janjimu, aku hanya ingin kamu, cintamu yang sungguh sederhana, keberadaanmu yang sungguh nyata, pengertian dan kesetiaan yang menyertai.
Dengan semua keterbatasan yang ada, dengan segala perbedaan yang nyata, hanya ingin bersama mengukir cerita. Utuh…
Dalam setiap keinginan dan kenyataan mencoba menjabarkan kejujuran. Dan juga harapan.

Kita berjalan dalam keterbatasan yang sungguh menguatkan setiap perbedaan. Walupun hanya satu perbedaan, namun rasanya ini adalah segalanya.  Tak bisa memungkiri, kadang ingin menghapus setiap yang berbeda itu, menjadikannya sama, menjadikannya lebih mudah untuk dijalani. Inilah sungguh keegoisan pertama dan utamaku atas kamu.
Tak ingin kamu menjadi seorang manusia luar biasa, yang dipuja, dan dielu-elukan. Hanya ingin kamu yang sederhana dan apa adanya. Tapi sungguh aku tak ingin kamu yang tak berdaya, yang kandas oleh realita, yang tak lagi percaya pada mimpi apalagi diri sendiri.

Aku berada di sampingmu berusaha dan berharap menjadi bagian yangmenguatkan dan mengokohkanmu, bukan melemahkanmu.  Ingin bersandar di pundakmu, berlindung dalam dekapanmu, tapi juga mampu menghapus peluh dan ragumu.

Sanggupkah sayang, kamu meyakinkanku bahwa bersamamu bukan penyesalan? Sanggupkah sayang, kamu meneguhkan hatiku bahwa mimpimu tak kan pernah berhenti? Karena aku adalah wanita yang tak memungkiri tetap mendambakan perlindungan darimu untuk sebuah masa depan sang lelaki yang tetap menghargai kemandirianku. Maka masih maukah kamu percaya bahwa dirimu mampu? Karena bila kamu sendiri tak percaya, bagaimana aku harus menaruh harapan dan kepercayaan masa depanku denganmu? Maukah kamu meyakinkanku?
Sudikah dirimu sayang, menjadikanku bagian darimu? Sudikah dirimu sayang, menjadikanku bagian yang ada dalam suka dukamu? Karena aku adalah seorang lemah yang bukanlah siapa-siapa, yang tak mengerti bagimana menjadi penguat bagimu.

Dan sayang, tak kuperlukan setiap ucapan mesramu, tak kuinginkan setiap janji manismu. Karena sudah terlalu banyak janji yang telah masing-masing kita ucapkan untuk masa lalu kita. Aku tak rela sama dengan dia yang pernah kau janjikan, dan aku tak ingin kamu menjadi sama dengan dia yang pernah kugantungkan janjiku. Karena aku ingin kamu, hanyalah kamu, tanpa janji yang entah sanggup terwujud atau tidak, aku hanya ingin menjalani waktu bersamamu sebagai kini dan dan masa depan, tak lagi sama dengan masa lalu.

Sekali lagi, maaf sayang untuk ketidaksopanan tentang masa lalumu. Dan harus kuakui, aku menaruh cemburu, dan entahlah, mungkin ada luka, karena mengetahui pernah sebegitu besarnya perasaanmu padanya. Dan aku takut kini justeru membuat raguku makin menguat padamu di tengah badai perbedaan kita sendiri.
Tak ingin kata-katamu yang mengatakan bahawa kamu telah melupakannya, itu seperti kata-kata manis yang berakhir pahit. Hanya ingin sebuah ketulusan, yang juga coba aku kuatkan atas dirimu.
Tak ingin janjimu tentang melindungi, hanya ingin benar-benar sebuah perlindungan. Sehingga semuanya akan berakhir utuh sesungguhnya.
Sampai nanti, sampai Tuhan tak lagi ciptakan hari.


SI
2016 September 22,