Semakin kita didiamkan seseorang, artinya kita sedang dianggap tidak penting. Barangkali, aku hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang dia punya, yang punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat. Sementara aku semakin hari semakin menguning. Pelan-pelan mulai digoyah oleh angin. Kau bisa dengan mudah melepasku. Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Jatuh ke tanah. Lalu dipaksa menyerah. Dipaksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?
Maaf begitu egois. Kau tak tahu dera jalanan yang sedang dihadapi. Kau hanya melihat selayang di luar, di dalam yang lelah tak terhiraukan. Tak perlu mengerti, kau hanya perlu tahu; ada yang tak bisa ditahan rindu, namun tetap harus kutenangkan dalam dadaku. Mungkin, ada titik aku merasa aku hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan kegelisahan yang ada di dalam dada. Meyakinkan bahkan kecemasan-kecemasan akan segera reda. Lalu megajarkan bibirku tersenyum –apa pun yang sedang dijalani. Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu. Hinggapun, saat seseorang memutuskan pergi. Meninggalkan begitu saja, yang sudah berusaha memahami, tapi karena egois dan keras kepala. Dia lelah akhirnya menyerah. Hinggapun aku merasa; Nyatanya aku hanya merasa dilukai, tanpa sadar malah lebih sering melukai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar