Rabu, 23 Oktober 2019

Untuk satu nama

Untuk satu nama..

Kau dan aku, seumpama benih yang kita semai bersama.
Ada fase ia akan bertunas, maka kita bergembira karena ia hidup.
Ada fase ia akan merekah ke permukaan tanah bersama kuncup dedaunan pertama, maka kita telaten mulai menjaganya.
Ada fase ia akan bercabang dan semakin rindang, maka kita khawatir semakin kencang angin menerpa, semakin deras hujan meremukkan.
Ada fase ia akan dewasa dan berbuah, maka kita bersyukur telah menjaga dan merawatnya dengan baik hingga ia menaungi.
Ia bertumbuh, kita juga bertumbuh.
Kita ragu, kita bimbang, namun harapan adalah penguat, percaya bahwa pohon yang kita rawat telah mengakar dengan kokoh menghujam ke bumi.
Kita mendewasa, kita menyesuaikan diri, bersama keterbatasan, akan kita temukan kelebihan.
Bagaimanapun, kita adalah dua mahkota yang hendak berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, dua pandangan yang berbeda akan dunia, dua perjalanan yang kita harap tetap beriring.
Kita menyebutnya "saling memperjuangkan".
Saling melengkapi bagian-bagian yang kurang, saling mengisi bagian-bagian yang kosong, saling memenuhi bagian-bagian yang lengang.
Sederhananya, kita saling menghidupi, jiwa kita juga raga kita.

Perihal rindu, sering kali ia hanya berakhir pada kertas atau note sebagai cerita bersambung.
Keadaan kadang kala mendorong seseorang untuk memperbaiki sikap dan perilaku. Jika di tahun-tahun lalu, tiada hari tanpa berbicara dan mengobrol, langkah kaki yang khas dan suara pintu kamar yang didobrak sengaja, duduk di beranda rumah seperti pasangan kakek-nenek dengan kursi goyang, ada kala disaat hujan deras atau hanya temaram cahaya lampu jalan dan dedaunan pisang yang berdesir menemani selepas gerimis, musim dingin bahkan bisa sehangat itu saat denganmu. Kini saling berkabar saja menjadi sangat spesial.
Bagian yang menggebu-gebu mengambil bentuk kesabaran. Keinginan bersua yang meluap-luap kemudian berwujud sebuah pengharapan.
Disatu titik; aku menerima, dititik lain;aku berdo'a menyebut namamu. Atas segala hal baik, Tuhan akan mengabulkan, menyatukan kita dalam ikatan yang Ia ridhoi, sebagai matahari dan bulan yang saling menerangi.
Sederhananya, Aku ingin bersamamu, sejak lalu, kini dan esok seterusnya..