Rupanya Allah punya alur cerita lain. Semua malam yang menggelikkan, seketika menjadi malam yang menyesakkan. Malam itu terus berjalan sampai berhari-hari. Dan aku tidak akan membahasnya atau mengingat-ingatnya. Yang jelas meski menyesakkan aku hanya begitu menikmatinya dalam segala hal dan semuanya telah terlewati. Sekarang cerita kembali berbeda. Malam ini aku harus kembali meminta maaf padamu, karena banyak salah yang telah ku selipkan di ruangmu. Maaf karena telah membuatmu menjadi bagian dari pejuang jarak yang tak nyaman. Sejak aku bergabung di pejuang jarak, aku hanya berusaha bersahabat dari kilo meter dan berusaha menjauh dari rindu. Tapi sering kali rindu tak tau diri; semakin sering aku mengusirnya semakin sering pula dia datang hinggapun aku terbiasa. Maaf, aku juga belum terbiasa dari menahan rindu, sampai rindu acap kali meminta jadi temanku. Maaf, atas perasaan yang salah, lebihpun sikap yang tak biasa. Dan seketika aku sadar; rindu, perasaan, sikap salah yang hadir dalam diriku telah membuka ruang terselipkan rasa kecewa dan luka luar biasa atasmu.
Maafkan aku. Aku mencintaimuš
Cintapun hanya terbisukan dengan takdir yang tak sejalan dengan bisikan hatiku -Aku, MERINDUMU-
Sabtu, 20 Mei 2017
Kamis, 11 Mei 2017
Begitu egois
Semakin kita didiamkan seseorang, artinya kita sedang dianggap tidak penting. Barangkali, aku hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang dia punya, yang punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat. Sementara aku semakin hari semakin menguning. Pelan-pelan mulai digoyah oleh angin. Kau bisa dengan mudah melepasku. Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Jatuh ke tanah. Lalu dipaksa menyerah. Dipaksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?
Maaf begitu egois. Kau tak tahu dera jalanan yang sedang dihadapi. Kau hanya melihat selayang di luar, di dalam yang lelah tak terhiraukan. Tak perlu mengerti, kau hanya perlu tahu; ada yang tak bisa ditahan rindu, namun tetap harus kutenangkan dalam dadaku. Mungkin, ada titik aku merasa aku hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan kegelisahan yang ada di dalam dada. Meyakinkan bahkan kecemasan-kecemasan akan segera reda. Lalu megajarkan bibirku tersenyum –apa pun yang sedang dijalani. Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu. Hinggapun, saat seseorang memutuskan pergi. Meninggalkan begitu saja, yang sudah berusaha memahami, tapi karena egois dan keras kepala. Dia lelah akhirnya menyerah. Hinggapun aku merasa; Nyatanya aku hanya merasa dilukai, tanpa sadar malah lebih sering melukai.
Maaf begitu egois. Kau tak tahu dera jalanan yang sedang dihadapi. Kau hanya melihat selayang di luar, di dalam yang lelah tak terhiraukan. Tak perlu mengerti, kau hanya perlu tahu; ada yang tak bisa ditahan rindu, namun tetap harus kutenangkan dalam dadaku. Mungkin, ada titik aku merasa aku hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan kegelisahan yang ada di dalam dada. Meyakinkan bahkan kecemasan-kecemasan akan segera reda. Lalu megajarkan bibirku tersenyum –apa pun yang sedang dijalani. Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu. Hinggapun, saat seseorang memutuskan pergi. Meninggalkan begitu saja, yang sudah berusaha memahami, tapi karena egois dan keras kepala. Dia lelah akhirnya menyerah. Hinggapun aku merasa; Nyatanya aku hanya merasa dilukai, tanpa sadar malah lebih sering melukai.
Langganan:
Postingan (Atom)

