Bersabarlah Hati
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, saat-saat seperti ini akhirnya datang juga. Ketika diri sendiri merasa terlalu sepi untuk lari dari sunyi, namun terlalu enggan mencari yang mampu mendampingi. Seakan cinta di dalam dada terlampau berharga untuk diberikan begitu saja. Seakan kosong di dalam hati, terlalu kecil untuk bisa ditutupi sendiri—padahal tidak. Semua bagai berpura-pura, namun bukan begitu sebenarnya. Hanya takut terluka, sebab segala cinta yang dikenal, belum ada yang berakhir bahagia.
Jika mencintai berarti memberi hati seutuhnya, sungguh tidak ingin mempertaruhkannya pada yang mahir meretakkan. Karena tidak pernah ada yang tahu telah sejauh apa aku memunguti serpihan itu satu-satu, mengumpulkannya, lalu menyatukannya lagi hingga sempurna, hingga tak ada luka. Setelah sembuh, lalu semudah itu seorang baru merobohkan hati hingga lagi-lagi runtuh? Teramat tahu, tak baik terus begini. Dengan alasan apapun, yang punya awal pasti kelak berakhir. Meski sudah melangkah paling hati-hati, yakin ada saatnya hati akan sakit kemudian sembuh sendiri. Namun lelah terus menerus terjebak pada repitisi yang sama. Seseorang datang, mendekat, bersama, sakit, lalu berujung aku, atau dia yang luka.
Jika boleh memilih, rasanya ingin menggunting peta takdir. Agar tak perlu melalui banyak hati, dan langsung sampai di pelabuhan terakhir. Tapi inilah perjalanan. Kaki bertugas melintasi dan hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah. Bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya dan bukan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan.
Begitu banyak pasang mata yang lelah berteman dengan realita. Ada begitu banyak hati yang mulai berhenti berharap. Ada begitu banyak jemari yang enggan lagi berdoa. Ada begitu banyak telinga yang terlalu kenyang dengan suara-suara dari dalam ruang pikirannya sendiri, bahkan dengan janji. Ada begitu banyak kaki yang kelelahan karena mereka hanya lari di tempat, tidak menuju kemanapun. Ada begitu banyak tangan yang tak lagi mau mengulurkan bantuan, karena mereka tak mendapat ‘balasan’ yang setimpal. Ada begitu banyak air mata yang bosan jatuh dan memilih untuk jadi hati yang angkuh. Ada begitu banyak yang jenuh dengan sebuah ‘kebenaran’ . Ada begitu banyak ruang dalam hati yang tak lagi memiliki pintu maaf. Ada begitu banyak yang tak ingin sampai ke garis akhir, memilih pergi dan berhenti. Ada, dan mungkin aku termasuk salah satu diantara mereka.
Sudah terlalu panjang jalan yang ditempuh, tak ada pun yang ditemui dasar untuk berharap. Hingga akhirnya hati mulai rapuh, kaki pun lumpuh, tak ada lagi harapan yang masih utuh. Sudah terlalu banyak doa-doa yang dinaikkan. Sudah terlalu banyak yang diketahui, bahkan tak jarang terlihat ahli. Tapi sekedar tahu tak cukup jika enggan melakukannya. Sudah terlalu lama ikut dalam setiap adegan putaran waktu, namun tak bisa menikmatinya. Hati yang tak merasa cukup, bibir yang terlalu mudah mengeluh, topengku yang senantiasa dipakai agar tidak ada satu orangpun yang tahu isi hati.
Namun Tuhan tahu. Dia mengetahui sampai ke hati yang paling terdalam, sampai ke ruang pikir yang paling terpencil dan sorot mata yang terjauh. Perjalanan ini memang berat. Banyak yang telah dilalui, banyak yang telah ditangisi. Karena itulah sekarang terlalu lelah, terlalu rapuh, terlalu mudah untuk jatuh. Banyak yang tak sesuai dengan kehendak, banyak tanya yang mengudara kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak sekarang, kenapa harus sekarang, kenapa harus aku, kenapa bukan yang lain? Lalu hati menjadi kuatir saat skenarionya tidak berjalan seperti yang di pikir. Lalu aku mulai mempertanyakan bagaimana sekarang?
Sungguh memang sudah melewati banyak, melewati memang banyak lelah, memang lemah. Tapi tidak mungkin putar balik dan menetap lagi disana. Lari di tempat. Hanya saja bahwa Tuhan telah membawa sejauh ini. Sadar bahwa di sebuah perjalanan yang panjang ini ada begitu banyak pelajaran yang sedang Dia berikan.
Pun dalam dasar hati, pernah terletak sebuah nama. Di sela-sela tiap mula ada ketakutan yang sama, tentang hubungan yang berujung tanpa bersama. Tapi ini mungkin hanya soal bertoleransi dengan waktu. Jika cinta sudah mendatangi, sekeras apapun menolak, ia pasti akan menang telak. Jika ini hanya perihal waktu, aku tahu aku pintar menunggu. Namun barangkali, ini lebih dari itu. Sebab katanya, Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap—mungkin saja aku, mungkin saja dia, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.
Bersabarlah, hati. Yakinilah, di lain hari, kita akan lebih bahagia daripada ini.
Cintapun hanya terbisukan dengan takdir yang tak sejalan dengan bisikan hatiku -Aku, MERINDUMU-
Selasa, 31 Maret 2020
Minggu, 22 Maret 2020
Aku pernah bahagia karena kita.
Tak Bisa Lagi Kulihat KITA
Aku pernah bahagia karena kita.
Aku pernah bahagia saat sayang bukan lagi sekadar kata-kata. Bahkan kita, pernah bahagia saat sedang menjalin rasa yang mereka sebut dengan cinta. Tentang menjadi alasan mengapa di hari yang buruk kita masih bisa bertukar senyum, tentang menjadi satu-satunya nama yang terucap sesaat sebelum mata memejam. Itulah kita, pada mulanya tercipta dan mungkin masih ada kenangan tersisa, maka itu masih kuingat walaupun cukup menyiksa.
Dulu, cinta seperti tamu agung yang selalu kita sanjung. Aroma asmara mengajakku merapihkan hati dan memberikan ruang untuk kau tempati. Percakapan dan pertemuan seperti barang berharga yang tidak bisa ditemui di pasaran. Hanya denganmu aku temukan kenyamanan dan perasaan-perasaan langka. Aku bahagia dengan cinta yang sederhana. Dengan dunia khayal bahwa nantinya cinta kita akan kekal. Aku dan kamu tanpa aral.
Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan mimpi-mimpi tentang kita di masa depan. Aku tersenyum lebar walau segalanya belum menjadi kenyataan. Kamu mulai hadir menjadi alasan di balik segenap senyuman. Kini aku tahu, kali ini kita sudah saling menemukan. Aku hitung satu per satu, rasanya nyaris semua sudah kulakukan untukmu. Aku hitung satu per satu, rasanya mustahil ada alasan yang cukup kuat untuk mencegah kita tidak bersatu. Ya, kukira begitu. Namun, harapan dan kenyataan terkadang enggan sejalan. Aku dan kamu yang kukira pada mulanya sama-sama saling ingin menjadi sebuah ‘kita’ ternyata hanya wacana. Kisah klasik yang tak kesampaian, yang bingung kapan berawal, tapi tiba-tiba sudah sampai di ujungnya.
Tanya laris berbaris manis dalam kepala. Salahkah jika aku hanya ingin meminta lebih banyak kita? Salahkah jika aku kecewa begini ujungnya?
Aku selalu menjadikanmu prioritas teratas. Dan kamu selalu membuka ruang-ruang tanpa batas. Tak ada alasan rasanya untuk kita saling melepas. Tapi mengapa ‘kita’ mengabur? Melebur jadi kepingan yang perlahan nantinya akan hancur. Bukan cintakan yang luntur? Atau kita salah bergerak mundur?
Ternyata segalanya hanya nampak seperti cinta, tanpa pernah sedikit pun akan menjadi nyata. Kala itu aku langsung mengerti rasanya terbang terlalu tinggi, lalu dihempaskan begitu saja tanpa tambahan waktu agar lebih mampu menghadapi. Segala sakit hati itu masih saja kuanggap seperti mimpi, sementara berlaksa maaf akan selalu tersedia. Tentang seseorang yang baru memasuki hari-harimu. Menjadi tawa dan teman pesan dari pagi hingga pagi. Keadaan yang aku tahu, kala itu hingga memikirkannya saja sungguh pahit. Adanya akupun tidak cukup menjadikanmu orang yang bahagia, pun pada satu keadaan itu membuatku sungguh tidak berarti apa-apa. Tanpa tahu, nyatanya sedari itu aku berangsur hilang dari asyiknya perkenalan dan pesan-pesanmu. Dua tahun berlalu aku masih menanti, janji-janji yang katamu akan ditepati. Ah, memang benar, orang baru selalu asyik, dan benarlah, memang dia tak pernah hilang dari hatimu.
Pun, dalam keputusasaan, membalikkan hati tidaklah terlalu buruk. Hingga kita yang dulu saling mendekat, sekarang menjaga agar tak melewati sekat. Kukira tujuan akhirnya sama, namun di pertengahan jalan menuju kepastian, masing-masing kita memutar balik arah. Yah kita. Nyatanya bukan cuma aku, lihatlah, apa yang dua tahun kala itu aku takutkan sejak kebohongan itu, benarlah adanya setelah keputusanku. Sepertinya, kamu lelah bersamaku melangkah. Akupun mungkin demikian. Padahal jika bukan denganmu, selalu ada alasan untuk cepat menyerah. Kamu yang dulu sedekat jengkal, kini malah pintar menyangkal.
Setelah kepala berputar dengan tanya dan tak menemukan alasan pastinya, mata ditunjukkan oleh semesta bahwa kita salah menilai cinta. Ternyata, aku hanyalah ruang tunggu untukmu. Setelah perlahan sembuh, kau cari yang baru untuk berlabuh. Awalnya, berpikir akulah yang bergerak berlawanan, tapi kinipun aku melihat, sejak itu kita sama-sama bergerak menuju titik yang berbeda. Kita memang digariskan untuk tak sampai menjadi ‘kita’. Kita bukan untuk bersama, tidak juga untuk berbagi bahagia yang masing-masing sedang kita bawa. Ternyata kita hanya sampai sedekat kata.
Mungkin memang ada beberapa cinta yang harus tetap disimpan, tidak untuk disatukan.
Kamulah kebahagiaan yang sudah ada di depan mata, sudah ada dalam genggaman tangan, namun akhirnya luput juga. Akulah yang sejak memutuskan menunggu jarak jauh yang selalu memimpikan, mengharapkan, lalu kini seperti ditinggalkan tanpa benar-benar pernah bersama. Ternyata sejuta hari yang kita lalui tak berarti apa-apa, dalam keadaan sesaat membawa asa.
Tapi tidak apa-apa. Kita bisa menerima. Begitu kan cinta seharusnya? Meski tak bersama, bukannya kita tak bisa bahagia. Terkhusus kamu, tidak ada yang sia-sia. Kita seperti pecahan yang di cocokan, kemudian berpecah menemukan pasangan lainnya. Siklus itu akan selalu berputar terus sampai semesta menyerah pada arus. Dan pada akhirnya, meski kita tidak untuk bersama semoga saja bahagia sedang mengarah pada kita, dan datang secepatnya.
Untukmu, bahagiamu. Untukku, bahagiaku.
Mungkin memang seharusnya berjalan seperti itu. Kita yang menjalani tapi semua telah digariskan. Tak mungkin Tuhan tak merencanakan. Biarkan kita nikmati saat-saat terpuruk, sebab bahagia yang lebih banyak pasti sedang menunggu kita jemput.
Aku pernah bahagia karena kita.
Aku pernah bahagia saat sayang bukan lagi sekadar kata-kata. Bahkan kita, pernah bahagia saat sedang menjalin rasa yang mereka sebut dengan cinta. Tentang menjadi alasan mengapa di hari yang buruk kita masih bisa bertukar senyum, tentang menjadi satu-satunya nama yang terucap sesaat sebelum mata memejam. Itulah kita, pada mulanya tercipta dan mungkin masih ada kenangan tersisa, maka itu masih kuingat walaupun cukup menyiksa.
Dulu, cinta seperti tamu agung yang selalu kita sanjung. Aroma asmara mengajakku merapihkan hati dan memberikan ruang untuk kau tempati. Percakapan dan pertemuan seperti barang berharga yang tidak bisa ditemui di pasaran. Hanya denganmu aku temukan kenyamanan dan perasaan-perasaan langka. Aku bahagia dengan cinta yang sederhana. Dengan dunia khayal bahwa nantinya cinta kita akan kekal. Aku dan kamu tanpa aral.
Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan mimpi-mimpi tentang kita di masa depan. Aku tersenyum lebar walau segalanya belum menjadi kenyataan. Kamu mulai hadir menjadi alasan di balik segenap senyuman. Kini aku tahu, kali ini kita sudah saling menemukan. Aku hitung satu per satu, rasanya nyaris semua sudah kulakukan untukmu. Aku hitung satu per satu, rasanya mustahil ada alasan yang cukup kuat untuk mencegah kita tidak bersatu. Ya, kukira begitu. Namun, harapan dan kenyataan terkadang enggan sejalan. Aku dan kamu yang kukira pada mulanya sama-sama saling ingin menjadi sebuah ‘kita’ ternyata hanya wacana. Kisah klasik yang tak kesampaian, yang bingung kapan berawal, tapi tiba-tiba sudah sampai di ujungnya.
Tanya laris berbaris manis dalam kepala. Salahkah jika aku hanya ingin meminta lebih banyak kita? Salahkah jika aku kecewa begini ujungnya?
Aku selalu menjadikanmu prioritas teratas. Dan kamu selalu membuka ruang-ruang tanpa batas. Tak ada alasan rasanya untuk kita saling melepas. Tapi mengapa ‘kita’ mengabur? Melebur jadi kepingan yang perlahan nantinya akan hancur. Bukan cintakan yang luntur? Atau kita salah bergerak mundur?
Ternyata segalanya hanya nampak seperti cinta, tanpa pernah sedikit pun akan menjadi nyata. Kala itu aku langsung mengerti rasanya terbang terlalu tinggi, lalu dihempaskan begitu saja tanpa tambahan waktu agar lebih mampu menghadapi. Segala sakit hati itu masih saja kuanggap seperti mimpi, sementara berlaksa maaf akan selalu tersedia. Tentang seseorang yang baru memasuki hari-harimu. Menjadi tawa dan teman pesan dari pagi hingga pagi. Keadaan yang aku tahu, kala itu hingga memikirkannya saja sungguh pahit. Adanya akupun tidak cukup menjadikanmu orang yang bahagia, pun pada satu keadaan itu membuatku sungguh tidak berarti apa-apa. Tanpa tahu, nyatanya sedari itu aku berangsur hilang dari asyiknya perkenalan dan pesan-pesanmu. Dua tahun berlalu aku masih menanti, janji-janji yang katamu akan ditepati. Ah, memang benar, orang baru selalu asyik, dan benarlah, memang dia tak pernah hilang dari hatimu.
Pun, dalam keputusasaan, membalikkan hati tidaklah terlalu buruk. Hingga kita yang dulu saling mendekat, sekarang menjaga agar tak melewati sekat. Kukira tujuan akhirnya sama, namun di pertengahan jalan menuju kepastian, masing-masing kita memutar balik arah. Yah kita. Nyatanya bukan cuma aku, lihatlah, apa yang dua tahun kala itu aku takutkan sejak kebohongan itu, benarlah adanya setelah keputusanku. Sepertinya, kamu lelah bersamaku melangkah. Akupun mungkin demikian. Padahal jika bukan denganmu, selalu ada alasan untuk cepat menyerah. Kamu yang dulu sedekat jengkal, kini malah pintar menyangkal.
Setelah kepala berputar dengan tanya dan tak menemukan alasan pastinya, mata ditunjukkan oleh semesta bahwa kita salah menilai cinta. Ternyata, aku hanyalah ruang tunggu untukmu. Setelah perlahan sembuh, kau cari yang baru untuk berlabuh. Awalnya, berpikir akulah yang bergerak berlawanan, tapi kinipun aku melihat, sejak itu kita sama-sama bergerak menuju titik yang berbeda. Kita memang digariskan untuk tak sampai menjadi ‘kita’. Kita bukan untuk bersama, tidak juga untuk berbagi bahagia yang masing-masing sedang kita bawa. Ternyata kita hanya sampai sedekat kata.
Mungkin memang ada beberapa cinta yang harus tetap disimpan, tidak untuk disatukan.
Kamulah kebahagiaan yang sudah ada di depan mata, sudah ada dalam genggaman tangan, namun akhirnya luput juga. Akulah yang sejak memutuskan menunggu jarak jauh yang selalu memimpikan, mengharapkan, lalu kini seperti ditinggalkan tanpa benar-benar pernah bersama. Ternyata sejuta hari yang kita lalui tak berarti apa-apa, dalam keadaan sesaat membawa asa.
Tapi tidak apa-apa. Kita bisa menerima. Begitu kan cinta seharusnya? Meski tak bersama, bukannya kita tak bisa bahagia. Terkhusus kamu, tidak ada yang sia-sia. Kita seperti pecahan yang di cocokan, kemudian berpecah menemukan pasangan lainnya. Siklus itu akan selalu berputar terus sampai semesta menyerah pada arus. Dan pada akhirnya, meski kita tidak untuk bersama semoga saja bahagia sedang mengarah pada kita, dan datang secepatnya.
Untukmu, bahagiamu. Untukku, bahagiaku.
Mungkin memang seharusnya berjalan seperti itu. Kita yang menjalani tapi semua telah digariskan. Tak mungkin Tuhan tak merencanakan. Biarkan kita nikmati saat-saat terpuruk, sebab bahagia yang lebih banyak pasti sedang menunggu kita jemput.
Langganan:
Postingan (Atom)

