Minggu, 22 Maret 2020

Aku pernah bahagia karena kita.

Tak Bisa Lagi Kulihat KITA

Aku pernah bahagia karena kita.

Aku pernah bahagia saat sayang bukan lagi sekadar kata-kata. Bahkan kita, pernah bahagia saat sedang menjalin rasa yang mereka sebut dengan cinta. Tentang menjadi alasan mengapa di hari yang buruk kita masih bisa bertukar senyum, tentang menjadi satu-satunya nama yang terucap sesaat sebelum mata memejam. Itulah kita, pada mulanya tercipta dan mungkin masih ada kenangan tersisa, maka itu masih kuingat walaupun cukup menyiksa.

Dulu, cinta seperti tamu agung yang selalu kita sanjung. Aroma asmara mengajakku merapihkan hati dan memberikan ruang untuk kau tempati. Percakapan dan pertemuan seperti barang berharga yang tidak bisa ditemui di pasaran. Hanya denganmu aku temukan kenyamanan dan perasaan-perasaan langka. Aku bahagia dengan cinta yang sederhana. Dengan dunia khayal bahwa nantinya cinta kita akan kekal. Aku dan kamu tanpa aral.

Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan mimpi-mimpi tentang kita di masa depan. Aku tersenyum lebar walau segalanya belum menjadi kenyataan. Kamu mulai hadir menjadi alasan di balik segenap senyuman. Kini aku tahu, kali ini kita sudah saling menemukan. Aku hitung satu per satu, rasanya nyaris semua sudah kulakukan untukmu. Aku hitung satu per satu, rasanya mustahil ada alasan yang cukup kuat untuk mencegah kita tidak bersatu. Ya, kukira begitu. Namun, harapan dan kenyataan terkadang enggan sejalan. Aku dan kamu yang kukira pada mulanya sama-sama saling ingin menjadi sebuah ‘kita’ ternyata hanya wacana. Kisah klasik yang tak kesampaian, yang bingung kapan berawal, tapi tiba-tiba sudah sampai di ujungnya.

Tanya laris berbaris manis dalam kepala. Salahkah jika aku hanya ingin meminta lebih banyak kita? Salahkah jika aku kecewa begini ujungnya?

Aku selalu menjadikanmu prioritas teratas. Dan kamu selalu membuka ruang-ruang tanpa batas. Tak ada alasan rasanya untuk kita saling melepas. Tapi mengapa ‘kita’ mengabur? Melebur jadi kepingan yang perlahan nantinya akan hancur. Bukan cintakan yang luntur? Atau kita salah bergerak mundur?

Ternyata segalanya hanya nampak seperti cinta, tanpa pernah sedikit pun akan menjadi nyata. Kala itu aku langsung mengerti rasanya terbang terlalu tinggi, lalu dihempaskan begitu saja tanpa tambahan waktu agar lebih mampu menghadapi. Segala sakit hati itu masih saja kuanggap seperti mimpi, sementara berlaksa maaf akan selalu tersedia. Tentang seseorang yang baru memasuki hari-harimu. Menjadi tawa dan teman pesan dari pagi hingga pagi. Keadaan yang aku tahu, kala itu hingga memikirkannya saja sungguh pahit. Adanya akupun tidak cukup menjadikanmu orang yang bahagia,  pun pada satu keadaan itu membuatku sungguh tidak berarti apa-apa. Tanpa tahu, nyatanya sedari itu aku berangsur hilang dari asyiknya perkenalan dan pesan-pesanmu. Dua tahun berlalu aku masih menanti, janji-janji yang katamu akan ditepati. Ah, memang benar, orang baru selalu asyik, dan benarlah, memang dia tak pernah hilang dari hatimu.

Pun, dalam keputusasaan, membalikkan hati tidaklah terlalu buruk. Hingga kita yang dulu saling mendekat, sekarang menjaga agar tak melewati sekat. Kukira tujuan akhirnya sama, namun di pertengahan jalan menuju kepastian, masing-masing kita memutar balik arah. Yah kita. Nyatanya bukan cuma aku, lihatlah, apa yang dua tahun kala itu aku takutkan sejak kebohongan itu, benarlah adanya setelah keputusanku. Sepertinya, kamu lelah bersamaku melangkah. Akupun mungkin demikian. Padahal jika bukan denganmu, selalu ada alasan untuk cepat menyerah. Kamu yang dulu sedekat jengkal, kini malah pintar menyangkal.

Setelah kepala berputar dengan tanya dan tak menemukan alasan pastinya, mata ditunjukkan oleh semesta bahwa kita salah menilai cinta. Ternyata, aku hanyalah ruang tunggu untukmu. Setelah perlahan sembuh, kau cari yang baru untuk berlabuh. Awalnya, berpikir akulah yang bergerak berlawanan, tapi kinipun aku melihat, sejak itu kita sama-sama bergerak menuju titik yang berbeda. Kita memang digariskan untuk tak sampai menjadi ‘kita’. Kita bukan untuk bersama, tidak juga untuk berbagi bahagia yang masing-masing sedang kita bawa. Ternyata kita hanya sampai sedekat kata.

Mungkin memang ada beberapa cinta yang harus tetap disimpan, tidak untuk disatukan.
Kamulah kebahagiaan yang sudah ada di depan mata, sudah ada dalam genggaman tangan, namun akhirnya luput juga. Akulah yang sejak memutuskan menunggu jarak jauh yang selalu memimpikan, mengharapkan, lalu kini seperti ditinggalkan tanpa benar-benar pernah bersama. Ternyata sejuta hari yang kita lalui tak berarti apa-apa, dalam keadaan sesaat membawa asa.

Tapi tidak apa-apa. Kita bisa menerima. Begitu kan cinta seharusnya? Meski tak bersama, bukannya kita tak bisa bahagia. Terkhusus kamu, tidak ada yang sia-sia. Kita seperti pecahan yang di cocokan, kemudian berpecah menemukan pasangan lainnya. Siklus itu akan selalu berputar terus sampai semesta menyerah pada arus. Dan pada akhirnya, meski kita tidak untuk bersama semoga saja bahagia sedang mengarah pada kita, dan datang secepatnya.

Untukmu, bahagiamu. Untukku, bahagiaku.

Mungkin memang seharusnya berjalan seperti itu. Kita yang menjalani tapi semua telah digariskan. Tak mungkin Tuhan tak merencanakan. Biarkan kita nikmati saat-saat terpuruk, sebab bahagia yang lebih banyak pasti sedang menunggu kita jemput.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar