Senin, 08 Oktober 2018

Satu itu adalah

Pernah mengalaminya. Mungkin sudah banyak kali, tapi ini adalah yang belum bisa dilupakan. Saat menjadi mahasiswa, pengurusan skripsi adalah pengurusan terlama. Menunggu dosen pembimbing, sebulan, dua bulan, hampir ada yang setahun lebih. Bahkan wisuda didepan mata, terpaksa di lewati begitu saja, hanya karena kita belum dapat waktu untuk menemui pembimbing skripsi. Itu cerita yang paling banyak didengar dari kalangan mahasiswa semester akhir. Tapi saat itu, saat pengurusan skripsi. Dari judul, bimbingan, PPL, Penelitian, semua berjalan begitu mudah. Yang tidak bisa dilupakan, saat bimbingan skripsi. Banyak versi cerita dari teman sejawat. Bimbingan skripsi menghabiskan waktu yang paling lama. Tapi perjalanan saya begitu  menyentuh untuk pribadi, print skripsi, hari pertama bimbingan langsung Acc.


Orang benar, do'a orang tua selalu dapat menembus langit. Sebelum masuk ruang dosen dengan waktu janjian, saat itu sempatkan duduk di bawah pohon depan Fakultas, bukan untuk istirahat, baca-baca, liat skripsi, melainkan untuk menelfon orang tua dan berbicara dengan Ibu, menanyakan bagaimana kabarnya, sudah makan, lagi apa, semoga sehat-sehat selalu pintaku sebelum menutup telfon. Dan tidak lupa, setiap melalui dan melakukan hal-hal besar, meminta do'a adalah utama. Dan nasehat-nasehat terbaik selalu diberikan oleh orang tua. Sudah. Selesai.
Hati begitu tenang, plong, beban yang di bawa dari rumah ke kampus rasanya hilang. Bagaimana tidak, seluk beluk latar belakang, dan hasil penelitian wajib ditanyakan pada saat bimbingan skripsi, apalagi untuk bimbingan pertama. Rasa yang sudah takut yang hadir sedari semalam untuk menghadap, gugup, hilang setelah menelfon dan berbincang bersama kedua orang tua.
Akhirnya, dengan kaki yang sedikit gugup, yang sebenarnya enggan melangkah menuju ruang dosen, dengan bismillah, berjalan menuju ruang dosen, masuk ruangan, menyapa dan duduk manis di depan beliau. Tanpa banyak waktu ditanya sekedarnya, langsung ACC dan disuruh untuk menghadap ruang akademik, staf, melakukan proses untuk dibuatkan SK ujian Meja (Skripsi). Ya Allah, tidak bisa untuk tidak menangis. Tersentuh. Kenapa tidak, rasanya tidak ada perjuangan yang lama itu, untuk mendapatkan kata terindahnya anak mahasiswa semester akhir. ACC.
Begitupun setelah wisuda. Banyak teman sejawat bilang dan menyuruh langsung untuk cari kerja, jikalau lama, nanti tidak dapat lagi. Banyak beberapa orang, satu tahun, dua tahun bahkan melebihi ataupun tidak dapat pekerjaan. Mengeluh karena ini, mengeluhkan begini, begitu.
Satu tahun, tidak kemana-mana, hanya istirahat. Satu tahun itu, keluh kesah tentang pekerjaan tidak pernah dikeluhkan. Tentang bagaimananya, nanti tidak dapat itu, tidak bisa ini. Setahun itu, hanya menanyakan bagaimana pengalaman kerjanya dari teman sejawat, bagaimana rasanya bekerja. Bagaimana rasanya berada dilingkungan mencari suatu pekerjaan itu. Becanda-becanda, membujuk untuk dibawakan lamaran untuk saya. Etss.. Bukan lamaran yang itu.. Hahaha. Ini urusan dunia kerja 😂.


Dan sekarang, alhamdulillah, dipertemukan dengan orang-orang yang teramat luar biasa baiknya. Bapak kepala yang teramat baik. Bapak kepala sekolah yang berbaur begitu luar biasa. Ibu-bapak yang luar biasa baiknya, tidak melihat bahwa itu baru, itu suku mana. Prosesnya sama, hanya didatangi seseorang ibu yang begitu baik, adik kandung dari bapak kepala. Untuk ke sekolah dan menyuruh memasukkan lamaran. Tidak dengan melamar kesana sini. Menanyakan lowongan kerja dimana. Ya Allah. Malu rasanya. Nikmat mana lagi yang harus didustakan, yang harus disepelekan. Tidak dengan usaha yang seperti dilakukan banyak orang. Nikmat ini sungguh datang dengan mudah. Dan luar biasanya, orang-orang ini adalah tidak sedikitpun dikenal sebelumnya. Begitulah jalannya Rahmat dari-Nya. Kuncinya satu, yang diterapkan hanya satu. Satu itu adalah muliakan kedua orang tua.
Itu benar adanya. Muliakan kedua orang tua. Entah dari segi cara kita taat, dari segi kita bertutu kata, dari segi kita menghargai, dari segi kita mengingat nya. Terpenting dari segi kita mencintainya. Selalu kita dipertemukan dengan tempat dan orang luar biasa. Semoga jalan ini di Ridhai Allah.
Yaa Allah.. Kata sulit pengurusan itu tidak ada.
Do'a do'a orang tua, terlebih ibu, percaya lah, selalu dapat menembus langit.


Tidak lupa usaha, do'a. Terpenting, berterima kasih pada Allah dan semua yang membantu dengan baiknya.

Khairunnisa Fahmah