Selasa, 28 April 2015

Tanyaku..

Akhir-akhir ini aku sulit tidur. Bukan banyak pikiran, hanya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Salah satu hal yang membuatku rela tidak tidur hingga subuh, ya, karena mendengar suaramu di ujung telepon, hingga suara azan subuh menggema di masing-masing kota kita. Mendengar suara dan saling tertawa; itulah yang biasa kita lakukan, di samping membaca pesan singkat yang kau tuliskan dengan rapi, dengan huruf dan tanda baca yang penuh intonasi. Dalam jarak sejauh ini, tak banyak hal yang bisa kita lakukan, selain menulis dan mendengar; bukan bersentuhan. Padahal, tahukah kamu tulisan dan suara yang terdengar di ujung handphone sungguh jauh berbeda dengan pertemuan nyata? Iya, tidak akan kubahas lagi, aku selalu hapal nasihatmu ketika aku mengungkit soal ini, "Sabar." katamu dengan suara parau, "Kita bisa lewati ini."

Kita terus berjuang dan melewati yang memang tak pernah kita minta untuk terjadi. Seperti takdir, dia datang bagai pencuri, tanpa laporan dan ucapan permisi datang menghampiri. Ini bukan salahku, juga bukan salahmu. Aku dan kamu sudah tahu yang harus kita hadapi, lalu pantaskah mengeluh? Tidak. Sejauh ini perjuangan kita memang tidak sia-sia, belum sia-sia (lebih tepatnya). Apa kau membaca nada ketidakyakinan? Manusiawi jika manusia punya rasa tak yakin, karena seluruh yang terjadi di kolong langit ini memang penuh ketidakpastian.
Tuan, apa yang hendak kita perjuangkan dan kita buktikan di mata banyak orang? Tahanan kotakah kita? Koruptorkah kita? Bukankah kita hanya jatuh cinta? Hanya tidak ingin menyalahi kodrat Tuhan yang membikin manusia punya hati, punya rasa kasih, dan rasa ingin berbagi. Masih tahan kau berjuang bersamaku sampai berdarah-darah begitu? Aku sudah bilang padamu, tidak perlu kau masuk ke dalam terowongan yang tak punya ujung. Berkali-kali juga kukatakan, tidak perlu kau masuk ke lingkaran yang tak kau kenali setiap sudut-sudutnya.

Kamu ternyata tidak seperti yang kubayangkan, kamu lebih kuat dan lebih tegar dari yang kukira. Kamu masih berjalan di sampingku, menggenggam erat jemariku. Jadi, sudah berapa detikkah kita lewati bersama? Emh.... tak perlu dihitung. Kebersamaan bukanlah kalkulasi yang penuh dengan jawaban pasti. Kebahagiaan kita juga bukan ilmu hitung yang mutlak dan bisa dipecahkan secara jelas.

Aku merasa kamarku lebih dingin daripada biasanya. Kantung mataku menebal. Entah siapa yang sebabkan kehitaman di bawah mata campuran Bima Sulawesi ini. Bukan salahmu, sungguh. Kamu selalu bilang, sapamu di ujung ponsel adalah untuk melepas kangen, walaupun alasan itu cukup bodoh bagi kita yang sudah sama-sama dewasa. Dalam cinta, adakah kebodohan? Justru karena kebodohan itulah segalanya jadi nampak manis dalam kegelapan, terlihat memesona dalam ketersesatan.

Setelah semua yang kita lewati bersama, yakinkah ada surga di ujung jalan sana? Sesudah beberapa tikungan kita lalui, akankah kita tak akan bertemu tikungan yang lebih tajam? Tak ada yang pasti, Tuan. Kita hanya tahu melangkah, terus melangkah. Menikmati yang ada di kanan-kiri, mempelajari yang ada di depan kita, dan menerima yang harusnya kita pasrahkan.
Sampai kapan kita bersama? Sampai senja redup dan tak pernah kembali? Sampai kamu terbatuk-batuk di ruang tamu, dan aku tergopoh-gopoh membawakan obat batuk untukmu? Sampai kapan kita bisa terus menyatu seperti ini? Sampai kamu tak mampu lagi mengintip matahari di luar jendela dan hanya bisa memelukku erat ketika bangun di pagi hari? Sampai kapan perasaan ini terus bertahan? Sampai kata "aku mencintaimu" terucap saat kaumengecup nisanku atau sebaliknya aku yang mengecup nisanmu?

Minggu, 29 Maret 2015

Satu-satunya yang tak pernah Pudar



Matahari tepat berada di ufuk barat menyorot wajah ayu perempuan berkerudung merah memandang kosong Gedung bertingkat di depan matanya. Entah apa yang ia pikirkan, tak taulah, namun langit sore itu menawarkan kecerahan merah jingga yang menakjubkan. Indah.

"Walau orang saling membenci dan membinasakan, cinta adalah satu-satunya yang tidak pernah pudar walau ada kalanya dibenci tetapi tetap dirindukan sepanjang jaman. Maka milikilah ia, setidaknya sentuhlah tapi tidak akan pernah bisa bila hatimu sesak dengan kemarahan, kebencian, dendam dan kekecewaan. kawan! kau tentu tidak ingin membencinya, kan?" temannya mengambil sepotong kue melahapnya dan menatap wajah penuh kecewa, sedih bercampur patah hati di depannya.


"Ayolah, kawan!!! jangan terlalu murung gitu!!! Kau masih mengingat kejadian di ujung jalan pabentengan 2 bulan lalu saat dia, laki-laki yang kau anggap baik itu mengakhiri hubungan kalian dengan alasan bertentangan dengan agama?” temannya coba membujuk mengembalikan gairah hidup yang dirampas makhluk yang bernama "PUTUS CINTA"



"Aku ndak sedih ko!" ia mencoba menutupi keadaan dirinya. Ya, itulah perempuan selalu menutupi keadaan diri meski seburuk apapun keadaan itu.



"Okay lah kalau begitu, kayaknya Aku tak perlu mengkhawatirkanmu berlebihan, Aku duluan kalau gitu, kawan!?" sejurus kemudian temannya menghilang meninggalkannya di gedung kuliah itu.



"O ya!!" belum genap satu menit ia pamitan, temannya melongo di depan pintu entah apa yang ia mau sampaikan padahal sudah dari tadi ia pamitan.

"Kebencian tidak selalu berhasil menutup mata, telinga dan akal orang lain tapi selalu berhasil kepada diri sendiri. Jadi saranku yang terakhir untukmu kawan! Mari kita perbaiki lembaran baru hari ini dengan kesadaran baru, bahwa kita bisa berbuat lebih baik dari segala yang sudah kita lakukan di masa lalu, kita adalah pemenang di setiap langkah, hembus napas dan detak jantung kita sendiri, sebab hidup kita adalah Cinta. Jangan kau khawatirkan tentang Cinta, karena Cinta yang serius, tetap bisa hadir dari arah yang tidak disangka-sangka dalam lautan kisah rahasia yang tertulis di Lauh Mahfuz sejak lama. Dan kau pasti paham itu kawanku, Lailatul?!" Sorot mata tajam menatapnya, gadis bernama lengkap Nurlailatul Hikmah keturunan dana mbojo itu.



Sore itu, Sore yang indah. matahari tepat berada di ufuk barat menyorot wajah ayu perempuan berkerudung merah. Gedung kuliah bertingkat tepat berada di depannya. berdiri kokoh balik menatap perempuan berkerudung merah itu.



"Laila, kita pulang Yuk?!

"o iya..!!" ia balik melangkah ke arah temannya. Pulang. Pulang bersama matahari yang mulai tumbang di ufuk barat menyisahkan semburat merah jingga di kaki langit.

Manusia28 :)

Jumat, 27 Maret 2015

Senyum nan Anggun...

"Lan, wara sms ke?"*
"o iya, dari mana, Sa'e?"**
"Dari la Azzahra, pesannya cepatko ke sana. ke kosnya".
"O iya, makasih ta Sa'e!"

Aku dan Azzahra adalah teman sekelas di kampus. Kami mengambil jurusan pendidikan fisika di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal di Makassar. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Biasanya Azzahra mengerjakan tugas mata kuliah bareng denganku, karena Aku belum punya handphone, jadi pesan elektronik atau sms biasanya dikirim lewat nomor HPnya kak Adnan. Dan selanjutnya kak Adnan yang akan menyampaikan pesan itu padaku. Boleh dibilang Kak Adnan adalah Pak pos elektronik dari kami berdua.

Hari itu Kamis jam 08.45 pagi waktu Makassar, sinar sang mentari masuk lewat kisi-kisi jendela kamar ku. Kos ku sendiri terletak di jalan mamoa raya dekat pasar mamoa, tepatnya di samping rumah mantan bupati luwu. Bapak Basmin Mattayang. Kos Azzahra sendiri berada tidak terlalu jauh dari tempatku, mamoa 4 dalam sedikit masuk lorong. sebenarnya bukan lorong, tapi sela antara rumah yang berdekatan.
 "Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam, Ruslan ya?"
"Iya"
"O iya, tunggu sebentar amania***". jawabnya dari dalam kamar itu yang tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar kos yang terbuka.

Azzahra keluar dari kamarnya dengan balutan kerudung panjang berwarna biru langit, begitu anggun ditambah senyumnya yang khas. Manis sekali ya Rab!!! suara hatiku yang diriku malu mengungkapkannya.
"tadi kau yang sms ke Kak Adnan, ya?"tanyaku yang sebenarnya tidak terlalu penting karena hal seperti itu sudah biasa dia lakukan dan aku pun terbiasa dengan hal itu. tapi itulah yang bisa ku ucapkan untuk menutup kekagumanku kepadanya.

dengan sedikit menunduk ia menarik kedua sudut bibirnya dan berkata, "iya"
Setelah kata itu kami Aku dan Azzahra mulai mengerjakan tugas yang biasa diberikan oleh para dosen di kampus. Sesekali teman-teman pondokannya Azzahra berdehem melihat kami, entah untuk apa Aku tidak tahu. dan Azzahra hanya membalas deheman mereka dengan balutan senyum di bibirnya. sekali lagi, ia begitu manis ketika ia tersenyum.
"Makasih, Rus!"
"iya, sama-sama" jawabku setelah semua tugas kami selesaikan bersama dan itu berarti Aku harus menunggu 2 hari lagi untuk bertemu dengannya, tentunya  saat kuliah berlangsung.

Manusia28 :)

*Lan, Ada sms
**Sa'e dalam bahasa bima berarti Kanda atau Abang
***Amania dalam bahasa bima berarti Saudara

Hanya Sebuah Andaian

Bukan bulan yang menjadi sebuah titik harap pada malam yang baru kutemui dalam mengistirahatkanku. Pun bukan dinginnya malam yang bisa terobati dengan  tumpukan selimut yang kemudian menjadi setetes asa yang telah lama tercipta. Apalagi untuk mengharapkan kedatangan pagi yang hanya memaksakan untuk memasukkan begitu banyak kisah yang terus-terus terulang tanpa arti yang begitu berarti.
Aku tak pernah merasa apalagi hanya untuk menebak kalau bulan akan surut malam ini. Bahkan aku tak pernah membayangkan setitik pun asa jika malam ini cahaya itu tak lagi nampak.
Tetapi, tak tahukah dia begitu banyak gejolak yang membabi buta untuk masing-masing dimengerti. Tiap deretan-deretan asa yang telah tercipta bahkan yang telah tersusun rapi, sisa aktualisasi yang menjadikannya absolut untuk diakui kebenarannya. Sungguh ironi bingkisan hati yang telah terbungkus rapi itu jika tak ada kelayakan yang menyertainya.
Begitu banyak cerita yang telah ia titipkan dalam halaman-halaman yang sebelumnya tak tertuliskan kata sehurufpun. Memberikan harap yang begitu besar namun tak jadi menjadi sebuah hal yang merupakan keinginan hati. Andai aku mampu meneriakkan kata yang hati ini terus mendobraknya. Andai aku bisa meluapkan sedkit saja gejolak ini, Andai aku bisa meredam sedikit rasa amarah yang tak akan pernah terselesaikan ini... Ah, aku sering saja begitu. Selalu menitip harap yang tak pernah mendapatkan respon yang berarti. Pantaskah aku bersikap lain ketika takdir tak sejalan dengan keinginan hati? Jujur, aku juga tak menginginkan setiap nafas ini berlafadzkan atas dosa yang tak terencana. Tetapi sungguh, hidup hanyalah sebuah hidup. Harap hanyalah sebuah harap. Andai hanya sebuah andai-andaian yang akan lenyap, Bahkan cintapun hanya terbisukan dengan takdir yang tak sejalan dengan bisikan hati.