Jumat, 27 Maret 2015

Hanya Sebuah Andaian

Bukan bulan yang menjadi sebuah titik harap pada malam yang baru kutemui dalam mengistirahatkanku. Pun bukan dinginnya malam yang bisa terobati dengan  tumpukan selimut yang kemudian menjadi setetes asa yang telah lama tercipta. Apalagi untuk mengharapkan kedatangan pagi yang hanya memaksakan untuk memasukkan begitu banyak kisah yang terus-terus terulang tanpa arti yang begitu berarti.
Aku tak pernah merasa apalagi hanya untuk menebak kalau bulan akan surut malam ini. Bahkan aku tak pernah membayangkan setitik pun asa jika malam ini cahaya itu tak lagi nampak.
Tetapi, tak tahukah dia begitu banyak gejolak yang membabi buta untuk masing-masing dimengerti. Tiap deretan-deretan asa yang telah tercipta bahkan yang telah tersusun rapi, sisa aktualisasi yang menjadikannya absolut untuk diakui kebenarannya. Sungguh ironi bingkisan hati yang telah terbungkus rapi itu jika tak ada kelayakan yang menyertainya.
Begitu banyak cerita yang telah ia titipkan dalam halaman-halaman yang sebelumnya tak tertuliskan kata sehurufpun. Memberikan harap yang begitu besar namun tak jadi menjadi sebuah hal yang merupakan keinginan hati. Andai aku mampu meneriakkan kata yang hati ini terus mendobraknya. Andai aku bisa meluapkan sedkit saja gejolak ini, Andai aku bisa meredam sedikit rasa amarah yang tak akan pernah terselesaikan ini... Ah, aku sering saja begitu. Selalu menitip harap yang tak pernah mendapatkan respon yang berarti. Pantaskah aku bersikap lain ketika takdir tak sejalan dengan keinginan hati? Jujur, aku juga tak menginginkan setiap nafas ini berlafadzkan atas dosa yang tak terencana. Tetapi sungguh, hidup hanyalah sebuah hidup. Harap hanyalah sebuah harap. Andai hanya sebuah andai-andaian yang akan lenyap, Bahkan cintapun hanya terbisukan dengan takdir yang tak sejalan dengan bisikan hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar