Bukan bulan yang menjadi sebuah titik harap
pada malam yang baru kutemui dalam mengistirahatkanku. Pun bukan dinginnya
malam yang bisa terobati dengan tumpukan selimut yang kemudian menjadi
setetes asa yang telah lama tercipta. Apalagi untuk mengharapkan kedatangan
pagi yang hanya memaksakan untuk memasukkan begitu
banyak kisah yang terus-terus terulang tanpa arti yang begitu berarti.
Aku tak pernah merasa apalagi hanya untuk
menebak kalau bulan akan surut malam ini. Bahkan aku tak pernah membayangkan setitik pun asa jika malam ini cahaya itu
tak lagi nampak.
Tetapi, tak
tahukah dia begitu banyak gejolak yang membabi buta untuk masing-masing
dimengerti. Tiap deretan-deretan asa yang telah tercipta bahkan
yang telah tersusun rapi, sisa aktualisasi yang menjadikannya absolut untuk
diakui kebenarannya. Sungguh ironi bingkisan hati yang telah terbungkus
rapi itu jika tak ada kelayakan yang menyertainya.
Begitu banyak
cerita yang telah ia titipkan dalam halaman-halaman yang sebelumnya tak
tertuliskan kata sehurufpun. Memberikan harap yang begitu besar namun tak jadi
menjadi sebuah hal yang merupakan keinginan hati.
Andai aku mampu
meneriakkan kata yang hati ini terus mendobraknya. Andai aku bisa meluapkan sedkit saja gejolak
ini, Andai aku bisa
meredam sedikit rasa amarah yang tak akan pernah terselesaikan ini... Ah, aku sering
saja begitu.
Selalu menitip harap yang
tak pernah mendapatkan respon yang berarti. Pantaskah aku bersikap lain ketika takdir tak
sejalan dengan keinginan hati? Jujur, aku juga
tak menginginkan setiap nafas ini berlafadzkan atas dosa yang tak terencana. Tetapi sungguh,
hidup hanyalah sebuah hidup. Harap hanyalah
sebuah harap.
Andai hanya sebuah
andai-andaian yang akan lenyap, Bahkan cintapun hanya terbisukan dengan takdir yang
tak sejalan dengan bisikan hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar