Minggu, 29 Maret 2015

Satu-satunya yang tak pernah Pudar



Matahari tepat berada di ufuk barat menyorot wajah ayu perempuan berkerudung merah memandang kosong Gedung bertingkat di depan matanya. Entah apa yang ia pikirkan, tak taulah, namun langit sore itu menawarkan kecerahan merah jingga yang menakjubkan. Indah.

"Walau orang saling membenci dan membinasakan, cinta adalah satu-satunya yang tidak pernah pudar walau ada kalanya dibenci tetapi tetap dirindukan sepanjang jaman. Maka milikilah ia, setidaknya sentuhlah tapi tidak akan pernah bisa bila hatimu sesak dengan kemarahan, kebencian, dendam dan kekecewaan. kawan! kau tentu tidak ingin membencinya, kan?" temannya mengambil sepotong kue melahapnya dan menatap wajah penuh kecewa, sedih bercampur patah hati di depannya.


"Ayolah, kawan!!! jangan terlalu murung gitu!!! Kau masih mengingat kejadian di ujung jalan pabentengan 2 bulan lalu saat dia, laki-laki yang kau anggap baik itu mengakhiri hubungan kalian dengan alasan bertentangan dengan agama?” temannya coba membujuk mengembalikan gairah hidup yang dirampas makhluk yang bernama "PUTUS CINTA"



"Aku ndak sedih ko!" ia mencoba menutupi keadaan dirinya. Ya, itulah perempuan selalu menutupi keadaan diri meski seburuk apapun keadaan itu.



"Okay lah kalau begitu, kayaknya Aku tak perlu mengkhawatirkanmu berlebihan, Aku duluan kalau gitu, kawan!?" sejurus kemudian temannya menghilang meninggalkannya di gedung kuliah itu.



"O ya!!" belum genap satu menit ia pamitan, temannya melongo di depan pintu entah apa yang ia mau sampaikan padahal sudah dari tadi ia pamitan.

"Kebencian tidak selalu berhasil menutup mata, telinga dan akal orang lain tapi selalu berhasil kepada diri sendiri. Jadi saranku yang terakhir untukmu kawan! Mari kita perbaiki lembaran baru hari ini dengan kesadaran baru, bahwa kita bisa berbuat lebih baik dari segala yang sudah kita lakukan di masa lalu, kita adalah pemenang di setiap langkah, hembus napas dan detak jantung kita sendiri, sebab hidup kita adalah Cinta. Jangan kau khawatirkan tentang Cinta, karena Cinta yang serius, tetap bisa hadir dari arah yang tidak disangka-sangka dalam lautan kisah rahasia yang tertulis di Lauh Mahfuz sejak lama. Dan kau pasti paham itu kawanku, Lailatul?!" Sorot mata tajam menatapnya, gadis bernama lengkap Nurlailatul Hikmah keturunan dana mbojo itu.



Sore itu, Sore yang indah. matahari tepat berada di ufuk barat menyorot wajah ayu perempuan berkerudung merah. Gedung kuliah bertingkat tepat berada di depannya. berdiri kokoh balik menatap perempuan berkerudung merah itu.



"Laila, kita pulang Yuk?!

"o iya..!!" ia balik melangkah ke arah temannya. Pulang. Pulang bersama matahari yang mulai tumbang di ufuk barat menyisahkan semburat merah jingga di kaki langit.

Manusia28 :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar