Kamis, 26 Maret 2015

Ketika Tak Cukup Waktuk Untuk Menunggu...



Diam-diam Aku mencuri pandang pada pasangan kekasih yang bersanding di pelaminan. Terlalu dini mengolah hati yang berkecamuk antara ikhlas melepaskan atau mempertahankan rasa yang ada dalam kata yang tak mampu ku terjemahkan sendiri. Pelan Aku melangkah melewati barisan kursi satu demi satu hingga bertatap wajah dengan pasangan pengantin perempuan. Hatiku berkata lain, pikiranku lari jauh ke belakang. Ke masa lalu dimana Aku pernah mengutarakan isi hati ini pada pada dia pengantin perempuan di depanku saat ini.

“insyaAllah jika kita berjodoh” katanya dengan senyum menawan seperti biasanya kepada ku untuk ke sekian kalinya dan untuk ke sekian kalinya pula Aku meyakini diriku sendiri bahwa Aku tidak akan menyerah sampai waktu lelah menunggu demi dia-perempuan-yang terlanjur besar tumbuh rasa dalam hatiku.
“Aamiin, kita hanya bisa saling mendoakan yang terbaik dan sama-sama melakukan yang terbaik karena pada akhirnya takdir Allah jualah yang berbicara” perempuan itu lembut menuturkan kalimat hikmah dengan untaian senyum seperti biasanya begitu anggun. Dan untuk kali ini Aku menunduk tak mampu melihat seutas senyum yang terlukis indah pada diri sang perempuan itu.

Matahari senja kian beranjak turun dengan semburat warna jingga di kaki langit dan perlahan atap-atap rumah menutupinya. Lampu-lampu penerang jalan Urip Sumoharjo Makassar mulai terlihat menerangi jalan yang masih ramai dipadati berbagai macam kendaraan meski malam mulai memperlihatkan dirinya. Sementara itu, Aku hanya berjalan pelan memasuki Sukaria 9 dengan hati yang masih berharap bahwa perempuan yang ku temui tadi, entah untuk ke berapa kalinya itu mau menerimaku.

Kini, setelah 6 tahun lamanya diriku menjejaki tanah Makassar-Tanah Para Karaeng-bertemu dan jatuh hati pada seorang perempuan yang anggun dengan ciri khas kerudung panjang warna gelap yang selalu perempuan itu kenakan, meski berkali-kali perempuan itu menolak cinta di balik garis senyumnya yang menawan. Menyelesaikan study S-1 Pendidikan Fisika, akhirnya kembali dalam haribaan tanah kelahiranku-Dana Mbojo-yang selalu menawarkan keramahan seperti ketika Aku masih di sini, menunggu cinta yang pernah ku utarakan di makassar walau mungkin bibir itu menolak dalam gurat senyum yang manis nun menawan.
Hari berlalu begitu cepat, Aku kian terasa asing pada cinta yang pernah ku harapkan adanya. Undangan Pernikahan. Ya, itulah yang menyudutkan diriku dalam rasa yang tumbuh dalam diri meski ku paksakan dan berusaha susah payah meyakinkan diriku ditakdirkan bersama.

"Cinta merupakan rahasia keabadian yang selalu dibahas oleh kemurnian hati, untuk itu seorang kekasih jangan pernah berkata apa-apa tentang cinta. Karena semua yang menyatakan ‘Aku cinta padamu’ akan kalah dengan seseorang yang dengan berani berkata ‘Aku akan melamarmu’" 

itu petuah dari orang tuaku ketika tahu bahwa Aku menerima undangan pernikahan itu. Dan kini Aku telah kalah. Kalah dengan kata ‘lamaran, undangan pernikahan’ yang ada ditanganku sekarang.

“Terima kasih telah hadir di acara walimah pernikahanku” ucap pengantin perempuan masih dengan gurat senyum pertama kali Aku melihatnya
Aku mengangguk seraya mendoakan mereka
“Semoga Allah swt memberikan kebahagiaan dan kelanggengan pada kalian berdua”

Ya, itulah garis takdir. Aku hanya bisa berusaha yang terbaik dan saling mendoakan yang terbaik. Karena pada Akhirnya, Takdir Allah jualah yang berbicara lebih jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar