Diam-diam Aku mencuri
pandang pada pasangan kekasih yang bersanding di pelaminan. Terlalu dini mengolah hati yang berkecamuk antara ikhlas melepaskan atau mempertahankan
rasa yang ada dalam kata yang tak mampu ku terjemahkan sendiri. Pelan Aku
melangkah melewati barisan kursi satu demi satu hingga bertatap wajah dengan
pasangan pengantin perempuan. Hatiku berkata lain, pikiranku lari jauh
ke belakang. Ke masa lalu dimana Aku pernah mengutarakan isi hati ini pada pada dia pengantin perempuan
di depanku saat ini.
“insyaAllah jika kita
berjodoh” katanya dengan senyum menawan seperti biasanya kepada ku untuk
ke sekian kalinya dan untuk ke sekian kalinya pula Aku meyakini diriku sendiri
bahwa Aku tidak akan menyerah sampai waktu lelah menunggu demi
dia-perempuan-yang terlanjur besar tumbuh rasa dalam hatiku.
“Aamiin, kita hanya bisa
saling mendoakan yang terbaik dan sama-sama melakukan yang terbaik karena pada
akhirnya takdir Allah jualah yang berbicara” perempuan itu lembut menuturkan
kalimat hikmah dengan untaian senyum seperti biasanya begitu anggun. Dan untuk
kali ini Aku menunduk tak mampu melihat seutas senyum yang terlukis
indah pada diri sang perempuan itu.
Matahari senja kian
beranjak turun dengan semburat warna jingga di kaki langit dan perlahan
atap-atap rumah menutupinya. Lampu-lampu penerang jalan Urip Sumoharjo Makassar
mulai terlihat menerangi jalan yang masih ramai dipadati berbagai macam
kendaraan meski malam mulai memperlihatkan dirinya. Sementara itu, Aku hanya berjalan pelan memasuki Sukaria 9 dengan hati yang masih berharap
bahwa perempuan yang ku temui tadi, entah untuk ke berapa kalinya itu mau
menerimaku.
Kini, setelah 6 tahun
lamanya diriku menjejaki tanah Makassar-Tanah Para Karaeng-bertemu dan jatuh
hati pada seorang perempuan yang anggun dengan ciri khas kerudung panjang warna
gelap yang selalu perempuan itu kenakan, meski berkali-kali perempuan itu
menolak cinta di balik garis senyumnya yang menawan. Menyelesaikan study S-1 Pendidikan Fisika, akhirnya kembali dalam haribaan tanah kelahiranku-Dana Mbojo-yang
selalu menawarkan keramahan seperti ketika Aku masih di sini, menunggu cinta
yang pernah ku utarakan di makassar walau mungkin bibir itu menolak dalam gurat
senyum yang manis nun menawan.
Hari berlalu begitu cepat, Aku kian terasa asing pada cinta yang pernah ku harapkan
adanya. Undangan Pernikahan. Ya, itulah yang menyudutkan diriku dalam rasa
yang tumbuh dalam diri meski ku paksakan dan berusaha susah payah meyakinkan
diriku ditakdirkan bersama.
"Cinta merupakan rahasia
keabadian yang selalu dibahas oleh kemurnian hati, untuk itu seorang kekasih
jangan pernah berkata apa-apa tentang cinta. Karena semua yang menyatakan ‘Aku
cinta padamu’ akan kalah dengan seseorang yang dengan berani berkata ‘Aku akan
melamarmu’"
itu petuah dari orang tuaku ketika tahu bahwa Aku menerima undangan pernikahan itu. Dan kini Aku telah kalah. Kalah dengan kata ‘lamaran, undangan pernikahan’ yang ada ditanganku sekarang.
itu petuah dari orang tuaku ketika tahu bahwa Aku menerima undangan pernikahan itu. Dan kini Aku telah kalah. Kalah dengan kata ‘lamaran, undangan pernikahan’ yang ada ditanganku sekarang.
“Terima kasih telah hadir
di acara walimah pernikahanku” ucap pengantin perempuan masih dengan gurat
senyum pertama kali Aku melihatnya
Aku mengangguk
seraya mendoakan mereka
“Semoga Allah swt
memberikan kebahagiaan dan kelanggengan pada kalian berdua”
Ya, itulah garis takdir. Aku hanya bisa berusaha yang terbaik dan saling mendoakan yang terbaik. Karena pada Akhirnya, Takdir Allah jualah yang berbicara lebih
jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar