Kamis, 28 Juni 2018

Hadiah Tuhan

Mengapa menyukai hujan?

Kedatangannya seringkali mengumbar sumpah serapah dari jutaan makhluk berlabel manusia dimuka bumi ini, demikian bila ia tak muncul dalam beberapa waktu.
Akan tetap terlontar hujatan dan cacian itu, benar-benar membuat hati bergolak, membenci sikap rendah tak bermartabat seperti itu. Sikap tak bersyukur dan hanya bisa mengeluh, mengeluh, sekali lagi, mengeluh.
Tak demikian denganku. Bagiku tetesannya bagai milyaran hadiah yang turun dari langit, hadiah Tuhan untukku. Menjadi teman saat seluruh bayang menjauh dan tak mampu lagi kusentuh, entah dari mana awalnya, aku pun tak lagi tau. Tiba-tiba saja mulai menyukainya, mencintainya dan merasakan betapa kehadirannya adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk umat-Nya. Tentu saja umat-Nya yang masih bisa bersyukur.

Dan ingin sekali menjadi satu diantara sekian banyak dari mereka, ketika kebahagiaan datang, hujan akan ikut bergembira bersamaku.

Satu..
Dua..
Tiga..
Dan semakin banyak tetesannya yang hadir. Hanya dengan menggenggamnya, begitu merasakan kebahagiaan itu bertambah lebih banyak lagi. Tak jarang berlari menyongsongnya. Berdiri dibawah siramannya, lama. Tetesannya yang membasahi tak membuatku berlari menjauh. Hanya akan diam, menikmatinya dan menengadahkan wajah pada langit, mengucapkan terimakasih pada Sang Khalik.

Ketika kehilangan; kehilangan seseorang yang begitu berharga. Hujan sekali lagi datang menawarkan dekapannya, luruh bersamanya. Bagaimana tidak, dengannya kita bisa menangis sekeras yang dimau. Meneriakkan amarah, kekecewaan dan rasa sakit tanpa ada seorangpun yang mendengar. Hanya masing kita dan dia, hanya kita dan hujan. Saat tak ingin kerapuhan terbaca oleh banyak mata, hanya perlu menunggu kedatangannya, hujan. Tak disadari, begitu banyak terselamatkan olehnya. Semua itu membuat tak pernah membencinya. Sesering dan sebanyak apapun ia datang.

Aku akan tetap mencintainya.



Sabtu, 23 Juni 2018

Waktu

Ketika jejakku mulai hanyut oleh waktu. Setidaknya aku pernah meninggalkan perasaan terbaik yang ku punya. Pernah berbagi dari setiap cerita. Entah akan dikenang dalam ingatan, atau hanya sekedar kisah samar yang patut dilupakan. Ketika genggaman ini mulai merenggang, setidaknya aku sudah pernah peduli walau dianggap sebagai serpihan bahagia yang terukir yang pantas terbuang. Setidaknya tubuh ini pernah berdiri tegap walau akan terhempas ombak yang mengikis batu karang. Pernah berdiri kuat walau hampir terhuyung kuat dan mati setengah jiwa. Dari setiap detik yang ku punya ketika hanya akan berlalu dan akan menjadi cerita sendu yang tak perlu di ingat. Berbalik dan beranjaklah. Ikhlas dan baik-baik saja itu, biarlah ku belajar memahaminya. Biarkan jiwa dan rasamu mengulang kisah paling terbaik dalam hidup dengan seseorang yang akan lebih tegar dan bermakna dariku.