Jika para pahlawan terdahulu adalah mereka yang telah gugur di medan perang dengan menjinjing tongkat bambu runcing, bersimbah darah merah hingga titik penghabisan, untuk ini kukhususkan kepada pahlawan yang telah memperjuangkan hidup sejak menghembuskan nafas di bumi pertiwi.
Mereka yang dengan memelas peluh mencari nafkah demi kebutuhan keluarga. Menahan rasa lapar supaya anak-anaknya dapat makan hingga kenyang, yang dengan tanpa jenuh memberi wejangan hidup. Menggendong dan memapah saat masih bayi, yang tak pernah mengharap balas budi. Yang memberi tak harap kembali.
Terima kasih untuk pahlawan hidup, Ayah dan Ibu. Alasan hidup hingga saat ini. Menyenangkan hatimu adalah cita-cita. Melihat senyum di wajahmu adalah kebahagiaan, karena tertawa bersamamu, memeluk dengan penuh kasih adalah esensi dari rasa terima kasihku kepadamu. Harta bukanlah yang engkau harap. Hanya sebuah pelukan yang mampu mengobati rasa dahaga kerinduanmu.
Kuberucap, selamat hari pahlawan untukmu kedua orangtuaku.
Selamat hari pahlawan untuk segenap pahlawan nasional di bumi nusantara ini.
Sebab dapat berdiri dan berjuang sampai detik ini. Semangat. Berjuang atau mati dengan kegelisahan.
Cintapun hanya terbisukan dengan takdir yang tak sejalan dengan bisikan hatiku -Aku, MERINDUMU-
Jumat, 09 November 2018
Senin, 08 Oktober 2018
Satu itu adalah
Pernah mengalaminya. Mungkin sudah banyak kali, tapi ini adalah yang belum bisa dilupakan. Saat menjadi mahasiswa, pengurusan skripsi adalah pengurusan terlama. Menunggu dosen pembimbing, sebulan, dua bulan, hampir ada yang setahun lebih. Bahkan wisuda didepan mata, terpaksa di lewati begitu saja, hanya karena kita belum dapat waktu untuk menemui pembimbing skripsi. Itu cerita yang paling banyak didengar dari kalangan mahasiswa semester akhir. Tapi saat itu, saat pengurusan skripsi. Dari judul, bimbingan, PPL, Penelitian, semua berjalan begitu mudah. Yang tidak bisa dilupakan, saat bimbingan skripsi. Banyak versi cerita dari teman sejawat. Bimbingan skripsi menghabiskan waktu yang paling lama. Tapi perjalanan saya begitu menyentuh untuk pribadi, print skripsi, hari pertama bimbingan langsung Acc.
Orang benar, do'a orang tua selalu dapat menembus langit. Sebelum masuk ruang dosen dengan waktu janjian, saat itu sempatkan duduk di bawah pohon depan Fakultas, bukan untuk istirahat, baca-baca, liat skripsi, melainkan untuk menelfon orang tua dan berbicara dengan Ibu, menanyakan bagaimana kabarnya, sudah makan, lagi apa, semoga sehat-sehat selalu pintaku sebelum menutup telfon. Dan tidak lupa, setiap melalui dan melakukan hal-hal besar, meminta do'a adalah utama. Dan nasehat-nasehat terbaik selalu diberikan oleh orang tua. Sudah. Selesai.
Hati begitu tenang, plong, beban yang di bawa dari rumah ke kampus rasanya hilang. Bagaimana tidak, seluk beluk latar belakang, dan hasil penelitian wajib ditanyakan pada saat bimbingan skripsi, apalagi untuk bimbingan pertama. Rasa yang sudah takut yang hadir sedari semalam untuk menghadap, gugup, hilang setelah menelfon dan berbincang bersama kedua orang tua.
Akhirnya, dengan kaki yang sedikit gugup, yang sebenarnya enggan melangkah menuju ruang dosen, dengan bismillah, berjalan menuju ruang dosen, masuk ruangan, menyapa dan duduk manis di depan beliau. Tanpa banyak waktu ditanya sekedarnya, langsung ACC dan disuruh untuk menghadap ruang akademik, staf, melakukan proses untuk dibuatkan SK ujian Meja (Skripsi). Ya Allah, tidak bisa untuk tidak menangis. Tersentuh. Kenapa tidak, rasanya tidak ada perjuangan yang lama itu, untuk mendapatkan kata terindahnya anak mahasiswa semester akhir. ACC.
Begitupun setelah wisuda. Banyak teman sejawat bilang dan menyuruh langsung untuk cari kerja, jikalau lama, nanti tidak dapat lagi. Banyak beberapa orang, satu tahun, dua tahun bahkan melebihi ataupun tidak dapat pekerjaan. Mengeluh karena ini, mengeluhkan begini, begitu.
Satu tahun, tidak kemana-mana, hanya istirahat. Satu tahun itu, keluh kesah tentang pekerjaan tidak pernah dikeluhkan. Tentang bagaimananya, nanti tidak dapat itu, tidak bisa ini. Setahun itu, hanya menanyakan bagaimana pengalaman kerjanya dari teman sejawat, bagaimana rasanya bekerja. Bagaimana rasanya berada dilingkungan mencari suatu pekerjaan itu. Becanda-becanda, membujuk untuk dibawakan lamaran untuk saya. Etss.. Bukan lamaran yang itu.. Hahaha. Ini urusan dunia kerja 😂.
Dan sekarang, alhamdulillah, dipertemukan dengan orang-orang yang teramat luar biasa baiknya. Bapak kepala yang teramat baik. Bapak kepala sekolah yang berbaur begitu luar biasa. Ibu-bapak yang luar biasa baiknya, tidak melihat bahwa itu baru, itu suku mana. Prosesnya sama, hanya didatangi seseorang ibu yang begitu baik, adik kandung dari bapak kepala. Untuk ke sekolah dan menyuruh memasukkan lamaran. Tidak dengan melamar kesana sini. Menanyakan lowongan kerja dimana. Ya Allah. Malu rasanya. Nikmat mana lagi yang harus didustakan, yang harus disepelekan. Tidak dengan usaha yang seperti dilakukan banyak orang. Nikmat ini sungguh datang dengan mudah. Dan luar biasanya, orang-orang ini adalah tidak sedikitpun dikenal sebelumnya. Begitulah jalannya Rahmat dari-Nya. Kuncinya satu, yang diterapkan hanya satu. Satu itu adalah muliakan kedua orang tua.
Itu benar adanya. Muliakan kedua orang tua. Entah dari segi cara kita taat, dari segi kita bertutu kata, dari segi kita menghargai, dari segi kita mengingat nya. Terpenting dari segi kita mencintainya. Selalu kita dipertemukan dengan tempat dan orang luar biasa. Semoga jalan ini di Ridhai Allah.
Yaa Allah.. Kata sulit pengurusan itu tidak ada.
Do'a do'a orang tua, terlebih ibu, percaya lah, selalu dapat menembus langit.
Tidak lupa usaha, do'a. Terpenting, berterima kasih pada Allah dan semua yang membantu dengan baiknya.
Khairunnisa Fahmah
Orang benar, do'a orang tua selalu dapat menembus langit. Sebelum masuk ruang dosen dengan waktu janjian, saat itu sempatkan duduk di bawah pohon depan Fakultas, bukan untuk istirahat, baca-baca, liat skripsi, melainkan untuk menelfon orang tua dan berbicara dengan Ibu, menanyakan bagaimana kabarnya, sudah makan, lagi apa, semoga sehat-sehat selalu pintaku sebelum menutup telfon. Dan tidak lupa, setiap melalui dan melakukan hal-hal besar, meminta do'a adalah utama. Dan nasehat-nasehat terbaik selalu diberikan oleh orang tua. Sudah. Selesai.
Hati begitu tenang, plong, beban yang di bawa dari rumah ke kampus rasanya hilang. Bagaimana tidak, seluk beluk latar belakang, dan hasil penelitian wajib ditanyakan pada saat bimbingan skripsi, apalagi untuk bimbingan pertama. Rasa yang sudah takut yang hadir sedari semalam untuk menghadap, gugup, hilang setelah menelfon dan berbincang bersama kedua orang tua.
Akhirnya, dengan kaki yang sedikit gugup, yang sebenarnya enggan melangkah menuju ruang dosen, dengan bismillah, berjalan menuju ruang dosen, masuk ruangan, menyapa dan duduk manis di depan beliau. Tanpa banyak waktu ditanya sekedarnya, langsung ACC dan disuruh untuk menghadap ruang akademik, staf, melakukan proses untuk dibuatkan SK ujian Meja (Skripsi). Ya Allah, tidak bisa untuk tidak menangis. Tersentuh. Kenapa tidak, rasanya tidak ada perjuangan yang lama itu, untuk mendapatkan kata terindahnya anak mahasiswa semester akhir. ACC.
Begitupun setelah wisuda. Banyak teman sejawat bilang dan menyuruh langsung untuk cari kerja, jikalau lama, nanti tidak dapat lagi. Banyak beberapa orang, satu tahun, dua tahun bahkan melebihi ataupun tidak dapat pekerjaan. Mengeluh karena ini, mengeluhkan begini, begitu.
Satu tahun, tidak kemana-mana, hanya istirahat. Satu tahun itu, keluh kesah tentang pekerjaan tidak pernah dikeluhkan. Tentang bagaimananya, nanti tidak dapat itu, tidak bisa ini. Setahun itu, hanya menanyakan bagaimana pengalaman kerjanya dari teman sejawat, bagaimana rasanya bekerja. Bagaimana rasanya berada dilingkungan mencari suatu pekerjaan itu. Becanda-becanda, membujuk untuk dibawakan lamaran untuk saya. Etss.. Bukan lamaran yang itu.. Hahaha. Ini urusan dunia kerja 😂.
Dan sekarang, alhamdulillah, dipertemukan dengan orang-orang yang teramat luar biasa baiknya. Bapak kepala yang teramat baik. Bapak kepala sekolah yang berbaur begitu luar biasa. Ibu-bapak yang luar biasa baiknya, tidak melihat bahwa itu baru, itu suku mana. Prosesnya sama, hanya didatangi seseorang ibu yang begitu baik, adik kandung dari bapak kepala. Untuk ke sekolah dan menyuruh memasukkan lamaran. Tidak dengan melamar kesana sini. Menanyakan lowongan kerja dimana. Ya Allah. Malu rasanya. Nikmat mana lagi yang harus didustakan, yang harus disepelekan. Tidak dengan usaha yang seperti dilakukan banyak orang. Nikmat ini sungguh datang dengan mudah. Dan luar biasanya, orang-orang ini adalah tidak sedikitpun dikenal sebelumnya. Begitulah jalannya Rahmat dari-Nya. Kuncinya satu, yang diterapkan hanya satu. Satu itu adalah muliakan kedua orang tua.
Itu benar adanya. Muliakan kedua orang tua. Entah dari segi cara kita taat, dari segi kita bertutu kata, dari segi kita menghargai, dari segi kita mengingat nya. Terpenting dari segi kita mencintainya. Selalu kita dipertemukan dengan tempat dan orang luar biasa. Semoga jalan ini di Ridhai Allah.
Yaa Allah.. Kata sulit pengurusan itu tidak ada.
Do'a do'a orang tua, terlebih ibu, percaya lah, selalu dapat menembus langit.
Tidak lupa usaha, do'a. Terpenting, berterima kasih pada Allah dan semua yang membantu dengan baiknya.
Khairunnisa Fahmah
Minggu, 08 Juli 2018
Yang diperjuangkan
Selama ini hanya berfikir bagaimana cara mencintai. Berusaha menjadi lebih baik demi memberikan yang terbaik untuk yang dicintai.
Kekurangan demi kekurangan yang sedikit apapun selalu berusaha ditutupi untuk menjaga keutuhan rasa yang dimiliki, sekecil apapun kesalahannya dimata akan berusaha dihapuskan untuk segalanya.
Namun apakah rasa itu juga berusaha sama seperti apa yang diusahakan ini?
Namun apakah rasa itu juga berusaha sama seperti apa yang diusahakan ini?
Rasa yang kadang membuat bertahan, berjuang dan berusaha untuk mewujudkan semuanya, tak urung rasapun membuat diri kelihatan tegar didepannya, dan selalu memperlihatkan keindahan hati yang mungkin takkan bisa tersamakan oleh yang lainnya. Agar masing-masing kita mengerti keberadaan bukanlah hal yang bisa disederhanakan begitu saja, bukan hal yang bisa disia-siakan begitu saja.
Karena adalah setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.
Karena itu, diri selalu memperjuangkan cita dan rasa, sekuat apapun tantangannya, akan berusaha menghadapinya, akan diperjuangkan semuanya. Dikorbankan semua itu demi untuk rasa, apapun akan dilakukan demi mempertahankan kisah yang begitu indah dan manis dikemudian hari.
Tapi
Apa yang akan didapatkan dari rasa yang selalu diperjuangkan ini?
Akankah kebahagiaan atau tangis?
Sesuatu yang sangat bertentangan, namun pasti terjadi dalam kehidupan rasa siapapun. Biarlah waktu yang akan memberikan jawaban terbaiknya.
Sekarang, nanti, ataupun lusa, semua ini akan terjawabkan. Memiliki rasa terbaik pada masanya lah yang selalu diusahakan.
Akankah kebahagiaan atau tangis?
Sesuatu yang sangat bertentangan, namun pasti terjadi dalam kehidupan rasa siapapun. Biarlah waktu yang akan memberikan jawaban terbaiknya.
Sekarang, nanti, ataupun lusa, semua ini akan terjawabkan. Memiliki rasa terbaik pada masanya lah yang selalu diusahakan.
Sebab, seberapa banyak rasa, seberapa banyak kisah yang dilalui, seberapa kuat perasaan itu, yang tau pasti adalah waktu.
Kita selalu berkata manis dalam sebuah perasaan. Namun keyakinan dihati untuk menata hati sepenuhnya bersama masihlah belum cukup kokoh. Sebab pada beberapa alasan yang prinsip adalah yang disiapkan hati dan jiwa raga untuk menata dan memperkokoh hingga suatu hari bisa berucap inilah perasaan yang sudah tepat.
Picture: @iffa_Ma'rifa
Picture: @iffa_Ma'rifa
Kamis, 28 Juni 2018
Hadiah Tuhan
Mengapa menyukai hujan?
Kedatangannya seringkali mengumbar sumpah serapah dari jutaan makhluk berlabel manusia dimuka bumi ini, demikian bila ia tak muncul dalam beberapa waktu.
Akan tetap terlontar hujatan dan cacian itu, benar-benar membuat hati bergolak, membenci sikap rendah tak bermartabat seperti itu. Sikap tak bersyukur dan hanya bisa mengeluh, mengeluh, sekali lagi, mengeluh.
Tak demikian denganku. Bagiku tetesannya bagai milyaran hadiah yang turun dari langit, hadiah Tuhan untukku. Menjadi teman saat seluruh bayang menjauh dan tak mampu lagi kusentuh, entah dari mana awalnya, aku pun tak lagi tau. Tiba-tiba saja mulai menyukainya, mencintainya dan merasakan betapa kehadirannya adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk umat-Nya. Tentu saja umat-Nya yang masih bisa bersyukur.
Dan ingin sekali menjadi satu diantara sekian banyak dari mereka, ketika kebahagiaan datang, hujan akan ikut bergembira bersamaku.
Satu..
Dua..
Tiga..
Dan semakin banyak tetesannya yang hadir. Hanya dengan menggenggamnya, begitu merasakan kebahagiaan itu bertambah lebih banyak lagi. Tak jarang berlari menyongsongnya. Berdiri dibawah siramannya, lama. Tetesannya yang membasahi tak membuatku berlari menjauh. Hanya akan diam, menikmatinya dan menengadahkan wajah pada langit, mengucapkan terimakasih pada Sang Khalik.
Ketika kehilangan; kehilangan seseorang yang begitu berharga. Hujan sekali lagi datang menawarkan dekapannya, luruh bersamanya. Bagaimana tidak, dengannya kita bisa menangis sekeras yang dimau. Meneriakkan amarah, kekecewaan dan rasa sakit tanpa ada seorangpun yang mendengar. Hanya masing kita dan dia, hanya kita dan hujan. Saat tak ingin kerapuhan terbaca oleh banyak mata, hanya perlu menunggu kedatangannya, hujan. Tak disadari, begitu banyak terselamatkan olehnya. Semua itu membuat tak pernah membencinya. Sesering dan sebanyak apapun ia datang.
Aku akan tetap mencintainya.
Kedatangannya seringkali mengumbar sumpah serapah dari jutaan makhluk berlabel manusia dimuka bumi ini, demikian bila ia tak muncul dalam beberapa waktu.
Akan tetap terlontar hujatan dan cacian itu, benar-benar membuat hati bergolak, membenci sikap rendah tak bermartabat seperti itu. Sikap tak bersyukur dan hanya bisa mengeluh, mengeluh, sekali lagi, mengeluh.
Tak demikian denganku. Bagiku tetesannya bagai milyaran hadiah yang turun dari langit, hadiah Tuhan untukku. Menjadi teman saat seluruh bayang menjauh dan tak mampu lagi kusentuh, entah dari mana awalnya, aku pun tak lagi tau. Tiba-tiba saja mulai menyukainya, mencintainya dan merasakan betapa kehadirannya adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk umat-Nya. Tentu saja umat-Nya yang masih bisa bersyukur.
Dan ingin sekali menjadi satu diantara sekian banyak dari mereka, ketika kebahagiaan datang, hujan akan ikut bergembira bersamaku.
Satu..
Dua..
Tiga..
Dan semakin banyak tetesannya yang hadir. Hanya dengan menggenggamnya, begitu merasakan kebahagiaan itu bertambah lebih banyak lagi. Tak jarang berlari menyongsongnya. Berdiri dibawah siramannya, lama. Tetesannya yang membasahi tak membuatku berlari menjauh. Hanya akan diam, menikmatinya dan menengadahkan wajah pada langit, mengucapkan terimakasih pada Sang Khalik.
Ketika kehilangan; kehilangan seseorang yang begitu berharga. Hujan sekali lagi datang menawarkan dekapannya, luruh bersamanya. Bagaimana tidak, dengannya kita bisa menangis sekeras yang dimau. Meneriakkan amarah, kekecewaan dan rasa sakit tanpa ada seorangpun yang mendengar. Hanya masing kita dan dia, hanya kita dan hujan. Saat tak ingin kerapuhan terbaca oleh banyak mata, hanya perlu menunggu kedatangannya, hujan. Tak disadari, begitu banyak terselamatkan olehnya. Semua itu membuat tak pernah membencinya. Sesering dan sebanyak apapun ia datang.
Aku akan tetap mencintainya.
Sabtu, 23 Juni 2018
Waktu
Ketika jejakku mulai hanyut oleh waktu. Setidaknya aku pernah meninggalkan perasaan terbaik yang ku punya. Pernah berbagi dari setiap cerita. Entah akan dikenang dalam ingatan, atau hanya sekedar kisah samar yang patut dilupakan. Ketika genggaman ini mulai merenggang, setidaknya aku sudah pernah peduli walau dianggap sebagai serpihan bahagia yang terukir yang pantas terbuang. Setidaknya tubuh ini pernah berdiri tegap walau akan terhempas ombak yang mengikis batu karang. Pernah berdiri kuat walau hampir terhuyung kuat dan mati setengah jiwa. Dari setiap detik yang ku punya ketika hanya akan berlalu dan akan menjadi cerita sendu yang tak perlu di ingat. Berbalik dan beranjaklah. Ikhlas dan baik-baik saja itu, biarlah ku belajar memahaminya. Biarkan jiwa dan rasamu mengulang kisah paling terbaik dalam hidup dengan seseorang yang akan lebih tegar dan bermakna dariku.
Minggu, 22 April 2018
Namun, ada beberapa
Matahari senja menampakkan dirinya yang begitu indah setiap hari. Hiruk pikuk dunia pun dimulai. Ketika semua bahkan tidak menyadari betapa indahnya itu, sibuk dan lebih fokus bergegas pada target-target baru.
Namun ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya, untuk sekedar menikmati sinar merah kekuningan dibalik horizontal lautan. Kebisingan, keramaian, keriuhan pun semakin diteriakkan diseluruh penjuru. Di sekitar, di sini dan di sana. Yang terkadang membuat kita muak dan kesal akan keadaannya. Rasanya ingin berlari menjauh dan merasakan kedamaian sunyi dunia.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar tahu bagaimana dunia bersuara. Ada yang berteriak, berpidato, mengungkap fakta dan opini. Bahkan tidak jarang pula yang mengumbar kemunafikan berbalut mulia. Entah itu bangsawan negara, atau bahkan hanya seorang pengemis biasa. Semua berseru dan mengungkapkan keinginan.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar menyuarakan isi hatinya. Berbicara pada Tuhan. Memberi tahu pada dunia. Memberitahu pada semua. Yang tersulitpun, memberitahukannya padamu. Namun, semua bergegas karena waktu pun tidak pernah menunggu. Tidak pernah jadi. Karena, langkah demi langkah yang menggebu menghiasi seluruh sudut kota. Deru tapak kaki yang terdengar bergemuruh bersiut ria selaras putaran ban-ban karet yang berlari kencang. Tidak pernah mundur.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar melangkah dari tempat tidurnya. Menghias dunia lewat karya indah tangan manusia. Berkreasi tanpa henti. Dengan kepalan, rentangan, lambaian serta remasan. Terus menciptakan hal-hal baru. Tidak pernah berputus asa.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar meminum segelas air tanpa bantuan orang lain. Tanpa meminta pada orang lain. Berdiri dan bergegas sendiri. Pun hingga, mampulah melihat lebih dalam, merasa dengan baik, mendengar lebih tajam, berkata lebih lantang, melangkah lebih jauh, berkerja lebih keras, serta bersyukur lebih banyak. Sebab, di tengah kesibukannya terkadang manusia lupa memiliki kesempurnaan yang kadang tidak dimiliki orang lain. Memiliki kesempatan lebih. Menyepeleh, begitu hal biasa bagi kebanyakan manusia. Namun, tanpa sadar merupakan impian terbesar bagi beberapa orang. Tundukkan kepala, renungkanlah. Terkadang kau lupa betapa berharganya diri ini. Bersyukurlah pada anugrah Tuhanmu yang tidak ternilai itu. Karena sesungguhnya, tidak semua manusia mendapatkannya.
Namun ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya, untuk sekedar menikmati sinar merah kekuningan dibalik horizontal lautan. Kebisingan, keramaian, keriuhan pun semakin diteriakkan diseluruh penjuru. Di sekitar, di sini dan di sana. Yang terkadang membuat kita muak dan kesal akan keadaannya. Rasanya ingin berlari menjauh dan merasakan kedamaian sunyi dunia.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar tahu bagaimana dunia bersuara. Ada yang berteriak, berpidato, mengungkap fakta dan opini. Bahkan tidak jarang pula yang mengumbar kemunafikan berbalut mulia. Entah itu bangsawan negara, atau bahkan hanya seorang pengemis biasa. Semua berseru dan mengungkapkan keinginan.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar menyuarakan isi hatinya. Berbicara pada Tuhan. Memberi tahu pada dunia. Memberitahu pada semua. Yang tersulitpun, memberitahukannya padamu. Namun, semua bergegas karena waktu pun tidak pernah menunggu. Tidak pernah jadi. Karena, langkah demi langkah yang menggebu menghiasi seluruh sudut kota. Deru tapak kaki yang terdengar bergemuruh bersiut ria selaras putaran ban-ban karet yang berlari kencang. Tidak pernah mundur.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar melangkah dari tempat tidurnya. Menghias dunia lewat karya indah tangan manusia. Berkreasi tanpa henti. Dengan kepalan, rentangan, lambaian serta remasan. Terus menciptakan hal-hal baru. Tidak pernah berputus asa.
Namun, ada beberapa dari kita yang berdoa disetiap shalatnya untuk sekedar meminum segelas air tanpa bantuan orang lain. Tanpa meminta pada orang lain. Berdiri dan bergegas sendiri. Pun hingga, mampulah melihat lebih dalam, merasa dengan baik, mendengar lebih tajam, berkata lebih lantang, melangkah lebih jauh, berkerja lebih keras, serta bersyukur lebih banyak. Sebab, di tengah kesibukannya terkadang manusia lupa memiliki kesempurnaan yang kadang tidak dimiliki orang lain. Memiliki kesempatan lebih. Menyepeleh, begitu hal biasa bagi kebanyakan manusia. Namun, tanpa sadar merupakan impian terbesar bagi beberapa orang. Tundukkan kepala, renungkanlah. Terkadang kau lupa betapa berharganya diri ini. Bersyukurlah pada anugrah Tuhanmu yang tidak ternilai itu. Karena sesungguhnya, tidak semua manusia mendapatkannya.
Kau tahu
Kau tau, Bagiku, dirimu sebelum bertemu denganku bagaikan kertas kosong tanpa noda maupun tinta, Tak ada coretan, tak ada cerita. Dengan begitu aku bisa memulainya dari awal, mencintaimu tanpa alasan dan pertimbangan baik dan buruk yang akan kuhadapi kemudian. Memulai semuanya dari halaman pertama yang kosong tersebut. Tak ada yang ingin ku usik sedikitpun dari masa lalumu, itu adalah milikmu. Sama sepertiku, masa laluku hanyalah milikku. Sebaik apapun kita menceritakannya, yang paling memahaminnya tetaplah diri kita masing-masing.
Kita adalah dua orang asing awalnya. Lalu karena daya dan kekuatan diluar diri kita, akhirnya kita bertemu. Masing-masing dari kita mungkin pernah berdo’a untuk dipertemukan dengan seseorang yang dapat melengkapi satu sama lain. Adakah do’a kita telah terjawab? Apakah itu aku? Apakah itu kamu? jawabannya ialah ikhtiar kita. Ikhtiar kita untuk mewujudkannya, bahwa benar do’a dan harapan kita telah sampai, telah terdengar, telah terkabul, bahwa jawaban do’a itu adalah aku, bahwa jawaban do’a itu adalah kamu.
Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana kehidupan yang telah kau lalui. Bagaimana waktu telah mengajari dan mendewasakanmu, kisah yang seperti apa yang telah membentukmu seperti ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menghakimimu atas masa lalu yang aku tidak ada didalamnya! Aku mencintaimu atas dirimu saat ini. Saat pandanganku buta akan masa lalu mu, saat pendengaranku tuli akan kisah-kisahmu. Yang aku tau bahwa dihadapanku adalah gadis kuat nan tegar, dan aku mencintainya.
Kita pernah diperkenalkan pada luka yang sangat dalam. Mungkin juga sering kali. Namun apakah kita akan berhenti dan berputar arah untuk kembali? Berharap saat kita kembali, luka itu tak pernah tergores, tak pernah menganga, tak pernah remuk hingga berkeping-keping. Tidak, itu tidak akan membuat kita lebih baik dari pada saat ini. Bagiku, itu terlalu menakutkan, aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang karena berharap dapat mengulang dan menulis ulang masa lalu. Aku terbentuk darinya, aku bersyukur pernah melalui kisah itu. Jika ada sesuatu yang kuinginkan darinya ialah hikmah dan keikhlasan.
Satu hal yang selalu ku pegang baik-baik. aku percaya, cara terbaik untuk jatuh cinta ialah dengan mencintai seakan kita tidak pernah terluka sebelumnya.
Kita adalah dua orang asing awalnya. Lalu karena daya dan kekuatan diluar diri kita, akhirnya kita bertemu. Masing-masing dari kita mungkin pernah berdo’a untuk dipertemukan dengan seseorang yang dapat melengkapi satu sama lain. Adakah do’a kita telah terjawab? Apakah itu aku? Apakah itu kamu? jawabannya ialah ikhtiar kita. Ikhtiar kita untuk mewujudkannya, bahwa benar do’a dan harapan kita telah sampai, telah terdengar, telah terkabul, bahwa jawaban do’a itu adalah aku, bahwa jawaban do’a itu adalah kamu.
Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana kehidupan yang telah kau lalui. Bagaimana waktu telah mengajari dan mendewasakanmu, kisah yang seperti apa yang telah membentukmu seperti ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menghakimimu atas masa lalu yang aku tidak ada didalamnya! Aku mencintaimu atas dirimu saat ini. Saat pandanganku buta akan masa lalu mu, saat pendengaranku tuli akan kisah-kisahmu. Yang aku tau bahwa dihadapanku adalah gadis kuat nan tegar, dan aku mencintainya.
Kita pernah diperkenalkan pada luka yang sangat dalam. Mungkin juga sering kali. Namun apakah kita akan berhenti dan berputar arah untuk kembali? Berharap saat kita kembali, luka itu tak pernah tergores, tak pernah menganga, tak pernah remuk hingga berkeping-keping. Tidak, itu tidak akan membuat kita lebih baik dari pada saat ini. Bagiku, itu terlalu menakutkan, aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang karena berharap dapat mengulang dan menulis ulang masa lalu. Aku terbentuk darinya, aku bersyukur pernah melalui kisah itu. Jika ada sesuatu yang kuinginkan darinya ialah hikmah dan keikhlasan.
Satu hal yang selalu ku pegang baik-baik. aku percaya, cara terbaik untuk jatuh cinta ialah dengan mencintai seakan kita tidak pernah terluka sebelumnya.
Rabu, 07 Maret 2018
Impian dan citacita
Hidup manusia bukan hanya untuk hari ini, untuk meraih hari esok yang lebih baik seseorang itu perlu mengambil langkah di hari ini. Untukmu yang sekarang sedang mengusahakannya, semoga pengalaman tahuntahun itu mampu menyemangatimu.
Pelajaran tahun-tahun itu, semoga mampu menyemangati mu yang sedang berjuang saat ini. Tak masalah jika tahun itu kamu gagal dan diremehkan. Berjuang memang tak mudah, kan. Namun, tenang saja, seperti kata yang selalu kukatakan ”semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya.” Bilapun saat ini kamu masih bersusah-susah dahulu, artinya perjalananmu belum berakhir. Tetaplah melangkah dengan semangat untuk masa depan.
Sedangkan, impian dan citacita yang sedang diusahakan. Impian akan masa depan yang merupakan suatu hal yang begitu melekat pada tujuanmu, semoga tercapai dengan baik, sayang. Namun, terkadang kamu tak bisa melakukannya seorang diri. Kamu membutuhkan orang lain untuk berjalan bersamamu. Bergandengan tangan bersama mereka, membuatmu lebih kuat dari sebelumnya, itulah keluargamu. Pun, kamu akan siap untuk mewujudkan semua dan berlari kencang pada impianmu. Untuk solusi yang sedang dicari, memang tak luput dari masalah dalam hidup. Namun, apapun masalahnya, dirimu akan berusaha untuk menyelesaikannya. Pasti, bukan? Yakin akan ada jalan bagi setiap masalah yang di hadapi. Hanya saja, tak perlu menyerah akan impianmu. Jangan!
Untuk masa mudamu, kamu tahu bahwa usiamu masih muda, kamu bekerja keras sejak saat itu untuk mewujudkan impianmu. Tak ingin menyia-nyiakan masa mudamu hanya untuk hura-hura. Yakin bahwa impianmu harus mulai diusahakan sejak saat ini. Jika bukan saat ini, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa? Kamu tak ingin menundanya hingga tutup usia bukan?
Kesabaranmu. Sabarlah pada proses, sayang. Kita tahu bahwa kesuksesan yang diimpikan tidak akan datang dengan mudah. Sebab itu, tetaplah bersabar dan berusaha. Berusaha untuk fokus dan memberikan waktu terbaikmu dan untuk meraihnya. Yakin, suatu saat kesabaranmu akan mendatangkan hasil yang di inginkan. Tetaplah berharap. Tetaplah berusaha. Tetaplah bersabar.
Hingga untuk cinta pada impianmu, kamu tahu bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah mencintai pekerjaanmu, mencintai impianmu, mencintainya dirimu yang berjuang demi impian, berusaha mencari cara untuk mewujudkannya. Tanpa rasa cinta ini, kamu tak ingin benar-benar berjuang untuk meraihnya. Karena tanpa kerja kerasmu, kesuksesan tidak akan datang pada seorang pemalas. Yakin bahwa untuk meraih impian perlu untuk bekerja keras. Tak masalah jika harus bangun subuh dan baru pulang dimalam hari. Berusaha untuk mengabdikan dirimu untuk impianmu. Sebab, akupun tahu pasti, kamu tak ingin setengah-setengah dalam berusaha. Bukankah begitu?
Pelajaran tahun-tahun itu, semoga mampu menyemangati mu yang sedang berjuang saat ini. Tak masalah jika tahun itu kamu gagal dan diremehkan. Berjuang memang tak mudah, kan. Namun, tenang saja, seperti kata yang selalu kukatakan ”semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya.” Bilapun saat ini kamu masih bersusah-susah dahulu, artinya perjalananmu belum berakhir. Tetaplah melangkah dengan semangat untuk masa depan.
Sedangkan, impian dan citacita yang sedang diusahakan. Impian akan masa depan yang merupakan suatu hal yang begitu melekat pada tujuanmu, semoga tercapai dengan baik, sayang. Namun, terkadang kamu tak bisa melakukannya seorang diri. Kamu membutuhkan orang lain untuk berjalan bersamamu. Bergandengan tangan bersama mereka, membuatmu lebih kuat dari sebelumnya, itulah keluargamu. Pun, kamu akan siap untuk mewujudkan semua dan berlari kencang pada impianmu. Untuk solusi yang sedang dicari, memang tak luput dari masalah dalam hidup. Namun, apapun masalahnya, dirimu akan berusaha untuk menyelesaikannya. Pasti, bukan? Yakin akan ada jalan bagi setiap masalah yang di hadapi. Hanya saja, tak perlu menyerah akan impianmu. Jangan!
Untuk masa mudamu, kamu tahu bahwa usiamu masih muda, kamu bekerja keras sejak saat itu untuk mewujudkan impianmu. Tak ingin menyia-nyiakan masa mudamu hanya untuk hura-hura. Yakin bahwa impianmu harus mulai diusahakan sejak saat ini. Jika bukan saat ini, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa? Kamu tak ingin menundanya hingga tutup usia bukan?
Kesabaranmu. Sabarlah pada proses, sayang. Kita tahu bahwa kesuksesan yang diimpikan tidak akan datang dengan mudah. Sebab itu, tetaplah bersabar dan berusaha. Berusaha untuk fokus dan memberikan waktu terbaikmu dan untuk meraihnya. Yakin, suatu saat kesabaranmu akan mendatangkan hasil yang di inginkan. Tetaplah berharap. Tetaplah berusaha. Tetaplah bersabar.
Hingga untuk cinta pada impianmu, kamu tahu bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah mencintai pekerjaanmu, mencintai impianmu, mencintainya dirimu yang berjuang demi impian, berusaha mencari cara untuk mewujudkannya. Tanpa rasa cinta ini, kamu tak ingin benar-benar berjuang untuk meraihnya. Karena tanpa kerja kerasmu, kesuksesan tidak akan datang pada seorang pemalas. Yakin bahwa untuk meraih impian perlu untuk bekerja keras. Tak masalah jika harus bangun subuh dan baru pulang dimalam hari. Berusaha untuk mengabdikan dirimu untuk impianmu. Sebab, akupun tahu pasti, kamu tak ingin setengah-setengah dalam berusaha. Bukankah begitu?
Selamat perjalanan jauh..
Semoga kebaikan senantiasa bersamamu..
Akan aku tunggu cerita² pahit manis perjalananmu..
Happy fighting dear..
Semoga kebaikan senantiasa bersamamu..
Akan aku tunggu cerita² pahit manis perjalananmu..
Happy fighting dear..
Selasa, 06 Maret 2018
Memaafkan diri sendiri
Ini adalah aku ketika ini, yang sedang berbicara dengan diriku sendiri. Adalah aku, yang mulai bertanya. Duhai diri, kapankah kamu akan memulai memaafkan dirimu sendiri?
Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.
Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Bukankah itu sungguh menyesakkan?
Sementara jauh di dalam jiwa, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Dalam rintihan itu, kamu menyalahkan dirimu sendiri yang tak sempurna, yang tak bisa menjadi manusia yang begini begitu seperti kata orang, yang tak mampu mengerjakan sesuatu untuk membahagiakan semua orang. Kamu juga menyalahkan masa lalumu yang menurutmu buruk. Kamu menyudutkan dirimu sendiri. Tapi rintihan itu tak pernah kamu dengar. Atau sesekali memang kamu dengarkan, untuk kemudian membuatmu marah dan kesal.
Lalu kamu memilih sibuk berpura bahagia, atau sejenak menangisi apa-apa yang membuatmu sakit. Kamu tutup telingamu dari suara nuranimu. Agar kamu menjadi apa yang menjadi standar orang untuk mendapat sebutan ‘berhasil’. Tapi sesungguhnya kamu belum berhasil. Hanya kamu sendirilah yang tahu dalam hati. Kamu belum berhasil melihat lukamu sendiri, mengakuinya, juga menyembuhkannya. Maka, bagaimana bisa kamu memaafkan? Sampai kapan?
Mengapa kamu tak menjadi dirimu sendiri saja? Aku lupa. Sungguh. Aku lupa kalau kamu masih takut menatap luka itu. Kamu bahkan tak menginginkan ia sembuh. Kamu abaikan begitu saja seolah tak ada. Padahal di balik bebat perban, lukamu semakin bernanah. Setiap hari ia mengikuti langkahmu, membentuk prasangkamu. Tanpa kamu tahu, luka itu membuatmu tumbuh menjadi manusia yang penakut akan masa depan. Menjadi manusia yang mudah tersakiti perasaannya. Menjadi manusia bertopeng namun tak sadar tengah mengenakan topeng.
Jika terus begitu, kapan kamu akan memaafkan dirimu sendiri? Tidakkah kamu melihat jiwamu letih melihat maumu yang menggunung, tapi langkahmu urung? Tidakkah kamu melihat jiwamu terus terluka oleh kebengisanmu sendiri? Memaksanya untuk bekerja keras mencapai maumu, lalu memarahinya saat kamu kecewa karena apa yang kamu mau tak kamu dapat. Merutuki apa-apa yang sudah jadi pilihanmu di masa lalu. Tapi kamu terus memaksanya untuk mendongak menatap kehidupan, tanpa berusaha memberi ruang untuknya mengobati lukanya sendiri.
Maka, cobalah sayangilah dirimu. Jujurlah pada dirimu. Sedihlah jika memang harus sedih, sakitlah jika memang harus sakit. Jujurlah jika memang tak mampu. Pahamilah bahwa dirimu adalah seorang manusia yang juga tak sempurna, yang tak bisa membahagiakan semua orang, yang juga punya luka. Bukalah luka itu pelan-pelan, berilah ia oksigen. Sekali lagi, terimalah semua hal yang tak mampu kamu lakukan. Teruslah bermimpi tinggi, tapi wujudkanlah apa yang bisa kamu wujudkan sesuai kemampuanmu. Jangan terus-terusan menyamakan dirimu dengan orang lain, lalu marah ketika kamu tak bisa mencapai yang ia capai.
Bermimpilah setinggi kamu mampu, tapi juga capailah sebagaimana kamu mampu saja. Tak perlu membuat ada apa yang tak ada. Bukan, bukan berarti kamu harus pasrah menyerah. Tapi justru sungguh-sungguh kamu upayakan tanpa merasa terbebani dengan kemampuanmu–yang katamu masih segitu aja. Jangan buat dirimu tersakiti lagi dengan penundaan-penundaan, janji-janji yang kamu buat untuk diri sendiri tapi tak kamu tepati, atau juga dengan iri hati dan dengki pada hasil yang dimiliki orang lain. Serta jangan lupa meminta maaf atas semua kebengisan yang kamu lakukan sendiri. Lalu maafkanlah segala ketidakmampuan dirimu.
Karena jika kamu mampu memaafkan dirimu sendiri, kamu akan mengenali dirimu. Kamu akan sadar atas lukamu. Mungkin tak selamanya kamu bahagia. Mungkin ada waktunya kamu akan marah, kecewa, kesal, dan segala emosi lainnya. Karena kamu manusia. Tapi, setidaknya ketika emosimu sedang tak baik, kamu akan tahu ke mana harus kembali, karena kamu telah mengenal dirimu. Mengenali dirimu sendiri akan membuatmu selalu ingin mengenal pencipta-Nya. Akan selalu meringankan langkahmu. Dan akan membuat jiwamu tenang. Tidakkah kamu ingat, bahwa Dia dalam Kalam Sucinya mengutuk mereka yang mendzalimi dirinya sendiri? Jadi, masih enggankah kamu meminta maaf dan memaafkan dirimu ini?
Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Tapi, dengan mengingat ini, semoga kamu terus mengurai setiap perjalanan hidupmu untuk mengenal dirimu sendiri secara lebih dalam. Karena Allah masih sayang padamu. Pada ujian-ujian yang katamu berat itu, Allah ketika mengajakmu untuk sembuh dari luka-lukamu. Untuk lebih mendekat pada Dia.
Semoga senyum yang tersimpul di wajahmu itu, bukan lagi sebuah senyum pura-pura untuk membalut lukamu. Melainkan senyum yang memancarkan ketenangan dalam jiwamu. Duhai diri, hari ini. Aku terus belajar memaafkanmu. Terima kasih sudah menjadi aku. Terima kasih karena kamu mampu melewati banyak hal. Terima kasih karena kamu mau terus belajar. Kamu memang tak mampu dalam segala, kamu memang tak sempurna. Tapi aku sayang padamu. Aku akan belajar untuk tak lagi merasa menjadi korban. Aku tak akan lagi membandingkanmu dengan siapa pun, karena kamu punya bahagiamu sendiri, yang tentu saja tak sama dengan siapa pun. Aku mau membuka bebat lukamu, lalu pelan-pelan menyembuhkannya. Mengakuinya. Menerimanya.
Ahimsa
KF
Hancur
Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.
Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Bukankah itu sungguh menyesakkan?
Sementara jauh di dalam jiwa, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Dalam rintihan itu, kamu menyalahkan dirimu sendiri yang tak sempurna, yang tak bisa menjadi manusia yang begini begitu seperti kata orang, yang tak mampu mengerjakan sesuatu untuk membahagiakan semua orang. Kamu juga menyalahkan masa lalumu yang menurutmu buruk. Kamu menyudutkan dirimu sendiri. Tapi rintihan itu tak pernah kamu dengar. Atau sesekali memang kamu dengarkan, untuk kemudian membuatmu marah dan kesal.
Lalu kamu memilih sibuk berpura bahagia, atau sejenak menangisi apa-apa yang membuatmu sakit. Kamu tutup telingamu dari suara nuranimu. Agar kamu menjadi apa yang menjadi standar orang untuk mendapat sebutan ‘berhasil’. Tapi sesungguhnya kamu belum berhasil. Hanya kamu sendirilah yang tahu dalam hati. Kamu belum berhasil melihat lukamu sendiri, mengakuinya, juga menyembuhkannya. Maka, bagaimana bisa kamu memaafkan? Sampai kapan?
Mengapa kamu tak menjadi dirimu sendiri saja? Aku lupa. Sungguh. Aku lupa kalau kamu masih takut menatap luka itu. Kamu bahkan tak menginginkan ia sembuh. Kamu abaikan begitu saja seolah tak ada. Padahal di balik bebat perban, lukamu semakin bernanah. Setiap hari ia mengikuti langkahmu, membentuk prasangkamu. Tanpa kamu tahu, luka itu membuatmu tumbuh menjadi manusia yang penakut akan masa depan. Menjadi manusia yang mudah tersakiti perasaannya. Menjadi manusia bertopeng namun tak sadar tengah mengenakan topeng.
Jika terus begitu, kapan kamu akan memaafkan dirimu sendiri? Tidakkah kamu melihat jiwamu letih melihat maumu yang menggunung, tapi langkahmu urung? Tidakkah kamu melihat jiwamu terus terluka oleh kebengisanmu sendiri? Memaksanya untuk bekerja keras mencapai maumu, lalu memarahinya saat kamu kecewa karena apa yang kamu mau tak kamu dapat. Merutuki apa-apa yang sudah jadi pilihanmu di masa lalu. Tapi kamu terus memaksanya untuk mendongak menatap kehidupan, tanpa berusaha memberi ruang untuknya mengobati lukanya sendiri.
Maka, cobalah sayangilah dirimu. Jujurlah pada dirimu. Sedihlah jika memang harus sedih, sakitlah jika memang harus sakit. Jujurlah jika memang tak mampu. Pahamilah bahwa dirimu adalah seorang manusia yang juga tak sempurna, yang tak bisa membahagiakan semua orang, yang juga punya luka. Bukalah luka itu pelan-pelan, berilah ia oksigen. Sekali lagi, terimalah semua hal yang tak mampu kamu lakukan. Teruslah bermimpi tinggi, tapi wujudkanlah apa yang bisa kamu wujudkan sesuai kemampuanmu. Jangan terus-terusan menyamakan dirimu dengan orang lain, lalu marah ketika kamu tak bisa mencapai yang ia capai.
Bermimpilah setinggi kamu mampu, tapi juga capailah sebagaimana kamu mampu saja. Tak perlu membuat ada apa yang tak ada. Bukan, bukan berarti kamu harus pasrah menyerah. Tapi justru sungguh-sungguh kamu upayakan tanpa merasa terbebani dengan kemampuanmu–yang katamu masih segitu aja. Jangan buat dirimu tersakiti lagi dengan penundaan-penundaan, janji-janji yang kamu buat untuk diri sendiri tapi tak kamu tepati, atau juga dengan iri hati dan dengki pada hasil yang dimiliki orang lain. Serta jangan lupa meminta maaf atas semua kebengisan yang kamu lakukan sendiri. Lalu maafkanlah segala ketidakmampuan dirimu.
Karena jika kamu mampu memaafkan dirimu sendiri, kamu akan mengenali dirimu. Kamu akan sadar atas lukamu. Mungkin tak selamanya kamu bahagia. Mungkin ada waktunya kamu akan marah, kecewa, kesal, dan segala emosi lainnya. Karena kamu manusia. Tapi, setidaknya ketika emosimu sedang tak baik, kamu akan tahu ke mana harus kembali, karena kamu telah mengenal dirimu. Mengenali dirimu sendiri akan membuatmu selalu ingin mengenal pencipta-Nya. Akan selalu meringankan langkahmu. Dan akan membuat jiwamu tenang. Tidakkah kamu ingat, bahwa Dia dalam Kalam Sucinya mengutuk mereka yang mendzalimi dirinya sendiri? Jadi, masih enggankah kamu meminta maaf dan memaafkan dirimu ini?
Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Tapi, dengan mengingat ini, semoga kamu terus mengurai setiap perjalanan hidupmu untuk mengenal dirimu sendiri secara lebih dalam. Karena Allah masih sayang padamu. Pada ujian-ujian yang katamu berat itu, Allah ketika mengajakmu untuk sembuh dari luka-lukamu. Untuk lebih mendekat pada Dia.
Semoga senyum yang tersimpul di wajahmu itu, bukan lagi sebuah senyum pura-pura untuk membalut lukamu. Melainkan senyum yang memancarkan ketenangan dalam jiwamu. Duhai diri, hari ini. Aku terus belajar memaafkanmu. Terima kasih sudah menjadi aku. Terima kasih karena kamu mampu melewati banyak hal. Terima kasih karena kamu mau terus belajar. Kamu memang tak mampu dalam segala, kamu memang tak sempurna. Tapi aku sayang padamu. Aku akan belajar untuk tak lagi merasa menjadi korban. Aku tak akan lagi membandingkanmu dengan siapa pun, karena kamu punya bahagiamu sendiri, yang tentu saja tak sama dengan siapa pun. Aku mau membuka bebat lukamu, lalu pelan-pelan menyembuhkannya. Mengakuinya. Menerimanya.
Ahimsa
KF
Hancur
Senin, 05 Maret 2018
Sebutlah aku pengagummu
Entah sampai kapan namaku tak kuucapkan. Entah sampai kapan aku sebagai sosok transparan yang memelukmu dengan doa dan harapan. Entah sampai kapan rasa ini tak terutarakan. Entah sampai kapan harus menyimpan perasaan yang tak beralaskan alasan. Rasanya dengan ketidaktahuanmu tentang pengetahuanku tentangmu lebih baik untuk sementara waktu.
Bukan aku sama sekali tidak sedang mengharapkan, namun hanya berusaha memaklumi segala keterbatasan-keterbatasan. Bukan aku tidak ingin turut dirindukan, namun hanya menghindari hati ini dari kemungkinan dikecewakan. Karena hanya dengan melihatmu, sepertinya cukup untuk membantu menenangkan selaksa rindu yang sudah sejak lama menunggu.
Mungkin seluruh penjuru pikirmu meragu tentang seberapa besar perasaanku, tapi sungguh ini bukan sebatas rasa penasaranku. Takkan kupanjatkan doa, jika kamu tak istimewa. Mungkin menurutmu aku pengecut, tapi waktu yang tepat hanya belum menjemput.
Dari sisi yang sama sekali tidak terlihat, aku senang memandangimu sebagai suatu ciptaan yang sejak awal sudah indah terpahat. Biarkan aku mengagumimu sekuat yang aku mampu, biarkan aku mengagumimu selama yang aku mungkin. Tak perlu pedulikan sebesar apa rasa yang semestinya kaubalas, tak perlu acuhkan harus sampai sebatas apa kita hingga mampu membuatku puas.
Karena apapun perlakuanmu, tidak akan mengubahkan aku.
Nampaknya aku terlalu malu menunjukkan perbuatanku yang diikuti ‘selalu’. Mungkin aku takut ketika suatu waktu kamu tahu, lalu seluruh perasaanku terhenti karena kamu berlalu. Menunggu hanya satu-satunya aksi statis yang menurutku begitu manis. Karena menunggu perlu kesabaran untuk mempertahankan percaya dan mengusir ragu.
Aku mungkin hanya terlalu siap untuk menerima bahwa kita bukanlah untuk menjadi nyata. Maka aku akan sembunyikan rasa yang ada selama yang aku bisa.
Meski memang selalu ada keinginan semoga kita diciptakan untuk saling menemukan, namun sadar tak perlu berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Untuk rindu-rindu yang akhirnya berlarian menujumu saat tatap mata kita bertemu, aku menyelipkan sekecil doa di situ.
Aku mengagumimu tanpa suara, mungkin dalam menenangkan rindu harus dengan cara yang sama. Meski tanpa isi hati yang bersuara, aku bukannya seorang penipu rasa. Tapi mungkin aku telah dihadiahi porsi mengagumi dengan cara tersembunyi.
Mungkin cinta lebih baik tersimpan dibalik saku Tuhan, hati yang semakin jatuh perlahan dan kamu yang dipenuhi ketidaktahuan. Mencinta itu sederhana ketika kekuatiran lelah jadi prioritas kita.
Jangan pernah berpikir aku lelah dengan cerita rahasia ini, karena sungguh aku menikmati peran ini. Mengagumi adalah hal yang masih bisa kulakukan. Tak ingin bicara soal ketetapan, tapi selama bahagia masih berdatangan seluruh cerita tinggal Tuhan yang melanjutkan. Semoga, pengaggum rahasia diperbolehkan bahagia saat Tuhan menghadiahi “kita”.
❤❤
Bukan aku sama sekali tidak sedang mengharapkan, namun hanya berusaha memaklumi segala keterbatasan-keterbatasan. Bukan aku tidak ingin turut dirindukan, namun hanya menghindari hati ini dari kemungkinan dikecewakan. Karena hanya dengan melihatmu, sepertinya cukup untuk membantu menenangkan selaksa rindu yang sudah sejak lama menunggu.
Mungkin seluruh penjuru pikirmu meragu tentang seberapa besar perasaanku, tapi sungguh ini bukan sebatas rasa penasaranku. Takkan kupanjatkan doa, jika kamu tak istimewa. Mungkin menurutmu aku pengecut, tapi waktu yang tepat hanya belum menjemput.
Dari sisi yang sama sekali tidak terlihat, aku senang memandangimu sebagai suatu ciptaan yang sejak awal sudah indah terpahat. Biarkan aku mengagumimu sekuat yang aku mampu, biarkan aku mengagumimu selama yang aku mungkin. Tak perlu pedulikan sebesar apa rasa yang semestinya kaubalas, tak perlu acuhkan harus sampai sebatas apa kita hingga mampu membuatku puas.
Karena apapun perlakuanmu, tidak akan mengubahkan aku.
Nampaknya aku terlalu malu menunjukkan perbuatanku yang diikuti ‘selalu’. Mungkin aku takut ketika suatu waktu kamu tahu, lalu seluruh perasaanku terhenti karena kamu berlalu. Menunggu hanya satu-satunya aksi statis yang menurutku begitu manis. Karena menunggu perlu kesabaran untuk mempertahankan percaya dan mengusir ragu.
Aku mungkin hanya terlalu siap untuk menerima bahwa kita bukanlah untuk menjadi nyata. Maka aku akan sembunyikan rasa yang ada selama yang aku bisa.
Meski memang selalu ada keinginan semoga kita diciptakan untuk saling menemukan, namun sadar tak perlu berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Untuk rindu-rindu yang akhirnya berlarian menujumu saat tatap mata kita bertemu, aku menyelipkan sekecil doa di situ.
Aku mengagumimu tanpa suara, mungkin dalam menenangkan rindu harus dengan cara yang sama. Meski tanpa isi hati yang bersuara, aku bukannya seorang penipu rasa. Tapi mungkin aku telah dihadiahi porsi mengagumi dengan cara tersembunyi.
Mungkin cinta lebih baik tersimpan dibalik saku Tuhan, hati yang semakin jatuh perlahan dan kamu yang dipenuhi ketidaktahuan. Mencinta itu sederhana ketika kekuatiran lelah jadi prioritas kita.
Jangan pernah berpikir aku lelah dengan cerita rahasia ini, karena sungguh aku menikmati peran ini. Mengagumi adalah hal yang masih bisa kulakukan. Tak ingin bicara soal ketetapan, tapi selama bahagia masih berdatangan seluruh cerita tinggal Tuhan yang melanjutkan. Semoga, pengaggum rahasia diperbolehkan bahagia saat Tuhan menghadiahi “kita”.
❤❤
Minggu, 04 Februari 2018
Si bungsu
Anak terakhir atau familiar disebut bungsu. Dengan status tersebut dikeluarga, memang akan kau temui sosok manja karena kaya limpahan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dirindukan. Sosok anak kecil yang tak pernah dewasa, padahal selalu mati-matian berusaha mematahkan asumsi tersebut.
Karena menjadi bungsu, maka kau akan berhadapan dengan orangtua yang sangat selektif dan sulit melepas anak perempuannya. Hingga (mungkin) kau akan membiasakan diri hidup lebih dekat dengan mertuamu.
Karena menjadi bungsu, membuatnya tak terbiasa susah. Maka kau akan menyaksikan bahwa dia selalu ingin berada di zona ternyaman. Memastikan kelak masih tidur di kasur yang nyaman, makan enak, berpakaian bagus, fasilitas yang memadai.
Karena bungsu memang terkadang sangat menggantungkan segala sesuatu kepada orang yang nyaman baginya, bersiaplah kau memberikan waktumu untuknya. Memberikan tangan dan kakimu untuk membantunya bahkan sekedar untuk mencari sesuatu yang ia lupa menyimpannya.
Tapi percayalah, sebagai bungsu yang kemudian akan menyandang status istri, dia akan menjadi sebenar-benarnya seorang ibu dan istri. Ibu yang baik yang mengajari, mendidik, dan melimpahkan kasih sayang seperti yang diterimanya, kepada anak-anaknya, yaitu anak-anakmu.
Sosok yang loveable dan ceria adalah penghangat di tengah keluarga, penebar tawa. Dia pendengar yang baik dan komunikatif, kau akan nyaman mengobrol banyak hal sebelum waktu tidur tiba.
Percayalah, seorang perempuan bungsu akan menjatuhkan pilihan ke orang yang membuatnya nyaman dan tenang. Sama seperti jika dia berada di tengah keluarganya. Maka dia akan memiliki kesetiaan yang luar biasa.
Karena bungsu, memiliki wawasan luas dan terdepan, karena dia punya guru tambahan dan berkaca dari pengalaman kakak-kakaknya. Dia bahkan berusaha tidak menuntut melebihi dari apa yang suaminya mampu berikan.
Karena bungsu yang kau akan temui, dia yang mencintai kebebasan, tidak suka didominasi. Tapi tenanglah, selama kau menghargai dan memberi kepercayaan, dia akan sangat menjaga kepercayaan itu dan tidak lari dari tanggungjawab dan kewajibannya.
Asal kau mampu menjadi imam yang baik dan penyayang keluarga, dia akan menghormatimu sebagai cinta yang akan menuntun dia dan keluarganya sampai ke surga.
#Arjuna S Pogi
Karena menjadi bungsu, maka kau akan berhadapan dengan orangtua yang sangat selektif dan sulit melepas anak perempuannya. Hingga (mungkin) kau akan membiasakan diri hidup lebih dekat dengan mertuamu.
Karena menjadi bungsu, membuatnya tak terbiasa susah. Maka kau akan menyaksikan bahwa dia selalu ingin berada di zona ternyaman. Memastikan kelak masih tidur di kasur yang nyaman, makan enak, berpakaian bagus, fasilitas yang memadai.
Karena bungsu memang terkadang sangat menggantungkan segala sesuatu kepada orang yang nyaman baginya, bersiaplah kau memberikan waktumu untuknya. Memberikan tangan dan kakimu untuk membantunya bahkan sekedar untuk mencari sesuatu yang ia lupa menyimpannya.
Tapi percayalah, sebagai bungsu yang kemudian akan menyandang status istri, dia akan menjadi sebenar-benarnya seorang ibu dan istri. Ibu yang baik yang mengajari, mendidik, dan melimpahkan kasih sayang seperti yang diterimanya, kepada anak-anaknya, yaitu anak-anakmu.
Sosok yang loveable dan ceria adalah penghangat di tengah keluarga, penebar tawa. Dia pendengar yang baik dan komunikatif, kau akan nyaman mengobrol banyak hal sebelum waktu tidur tiba.
Percayalah, seorang perempuan bungsu akan menjatuhkan pilihan ke orang yang membuatnya nyaman dan tenang. Sama seperti jika dia berada di tengah keluarganya. Maka dia akan memiliki kesetiaan yang luar biasa.
Karena bungsu, memiliki wawasan luas dan terdepan, karena dia punya guru tambahan dan berkaca dari pengalaman kakak-kakaknya. Dia bahkan berusaha tidak menuntut melebihi dari apa yang suaminya mampu berikan.
Karena bungsu yang kau akan temui, dia yang mencintai kebebasan, tidak suka didominasi. Tapi tenanglah, selama kau menghargai dan memberi kepercayaan, dia akan sangat menjaga kepercayaan itu dan tidak lari dari tanggungjawab dan kewajibannya.
Asal kau mampu menjadi imam yang baik dan penyayang keluarga, dia akan menghormatimu sebagai cinta yang akan menuntun dia dan keluarganya sampai ke surga.
#Arjuna S Pogi
Jumat, 02 Februari 2018
Biarkan aku mengurai
Kamu pernah bilang ingin hidup selamanya, itulah kenapa aku terus menulis. Mungkin aku tak akan selalu ada untuk tau kamu telah melalui berbagai perjalanan panjang. Tapi setidaknya kamu akan hidup, dalam tiap baris tulisan, untukku, sebagai seseorang yang aku kagumi. Mungkin kamu menerka mengapa aku begitu keras kepala?
Biarkan aku mengurai..
Saat dimana kamu datang dalam kehidupanku, adalah saat di mana aku akhirnya berani memilih impian sendiri. Setelah sebelumnya terkekang dalam sebuah keadaan yang tak pernah benar-benar di inginkan. Pun mungkin, aku telah bertahan sekian lama, menjadi sosok yang berpura-pura dimata semua orang. Tanpa mereka pernah tau aku mengubur separuh diriku untuk bisa diterima.
Kamu adalah orang pertama yang membuka mataku tentang banyak hal, pandanganmu terhadap hidup, Perhatianmu pada dunia, khususnya tempat dimana dirimu berteduh, impian dan bahwa menjadi diri sendiri adalah sebuah pilihan yang selalu kita miliki. Aku mengaguminya. Aku menikmati bagaimana menjadi diri sendiri saat bersamamu. Tidak pernah berpura-pura cinta atau peduli. Tidak memaksakan bibir melekukan senyuman yang sebenarnya aku tak ingin. Tertawa terbahak bahak bila bermain games bersama. Apapun denganmu aku tertawa lepas. Sadarpun, hatiku tidak beku sangat saat mengucapkan, aku rindu.
Berulang kali kupertimbangkan untuk mendekatkan diri, sebab melihat kamu bukan seseorang yang bisa dimiliki. Tidak pada langkahmu yang memburu, tidak pada mimpimu yang kau cintai, tidak pada dirimu yang selama ini berdiri sendiri.
Aku pernah mengutarakannya, tapi kamu bersikeras meyakinkan..
Dan, aku jatuh pada setiap nyawa yang diberikan lewat kata dalam pesan singkat. Bagaimana aku merasa hidup kembali setelah sekian lama mati?
Katakan, bagaimana untuk tidak mencintai orang yang menerbangkan kupu-kupu di dalam sepanjang hari. Katakan, bagaimana menahan diri untuk tidak jatuh pada orang yang tertawa dan senyumnya dikagumi. Katakan, bagaimana bersikap tenang ketika ingatan akanmu yang senantiasa berlalu-lalang?
Kamu tau benar bagaimana sering aku mengakuinya. Aku tidak pandai mencintai dalam diam tapi merasa dalam diam. Jika bukan bibir, maka jariku tidak akan berhenti menyusun uraian emosi. Atau akupun akan terjaga sepanjang petang hingga pagi. Berusaha keras mengusir dari imaji. Jadi aku memilih membiarkannya, membiarkanmu bersepakat dengan hati untuk membawa lari warasku.
Pernah ingat bagaimana hatimu berdebar membaca namaku di layar ketika saling mengirim pesan? Aku masih mengingatnya benar. Pun kamu ingat bagaimana hatimu terasa penuh dan menduga-duga, apakah aku cinta? Apakah kamu, pernah benar-benar punya rasa?
Dan sungguh seluruh hari tak pernah sama lagi. Warna-warna yang kau bawa selalu berbeda, dan semuanya mengesankan. Menerimamu begitu cepat menjadi bagian dari kisahku. Meleburkanmu jadi satu di antara alasan-alasanku untuk bahagia. Begitukah? dengan mudah kusimpulkan aku jatuh terhadapmu.
Jarak tak pernah begitu mampu membatasi rasa. Aku pernah mengatakan jika akhirnya aku percaya, bahwa rasa bisa datang dari dimensi apa saja. Dan kau tergelak, aku tidak sedang mengatakan kamu datang dari dunia fana. :”) Haha
Rasanya ternyata kata-kata tak mampu lagi menyuratkan rasa dengan baik.
Seseorang ini, tanpa perlu banyak usaha telah membuatku jatuh. Tentu bukan salahmu saat ku katakan aku menjatuhkan hati sepenuhnya. Juga tak bisa menyebutnya salahku. Hanya saja, kau telah menjelma poros didalamnya. Maaf jika terus berlari ke arahmu.
Pun pada akhirnya kamu memilih diam, aku menduga, mungkinpun aku merasa memiliki rasa terlalu amat banyak? Atau pikiran-pikiran tentang hidup dan kematian yang membuatmu begitu lelah. Hari itu kau ceritakan tentang banyak pintu terkunci di dalam kepalamu. Tentang banyak paham mengenai kebebasan.
Dan orang-orang disekitarmu yang kental dengan keputusasaan.
Pada akhirnya, sadar bahwa aku hanya berdiri di ambang. Tanpa pernah benar-benar mampu menyentuh. Pernah berharap membuka satu pintu di kepalamu dan tinggal selamanya di sana untuk menjadi salah satu alasanmu bahagia. Tapi aku bukanlah seseorang yang kamu inginkan untuk tinggal bukan?
Aku pernah berbicara tentang harapan, bagaimana selalu hidup dan berharap untuk mewujudkan mimpi yang bahkan telah lama dilupakan. Lalu kenapa harus takut ketika kamu telah sepenuhnya hidup untuk mewujudkan mimpimu? Kita hidup pada sebuah bola biru yang beredar mengelilingi bara api tanpa pernah terbakar. Dan kamu masih berpikir ulang tentang keajaiban? Kamu tau, jika kita benar-benar bisa bertukar mata, aku akan memaksamu melihat lewat mataku, agar tau bagaimana semua yang kamu miliki sudah amat pantas disyukuri. Cobalah untuk tidak terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti, membangun benteng-benteng pertahanan yang tidak perlu di hati dan kepala. Duduklah dengan tenang, kenyataan tidak akan pernah membiarkan kita lemah tanpa harapan bukan?
Jadi apakah sekarang kamu sedang menggelengkan kepala, menolak semua kata yang membuatmu tidak nyaman? Karena lebih takut merasa bersalah ketimbang melihat betapa tabah aku ingin bertahan.
Bagaimana jika kamu tidak pernah merindukanku? Sebab tak pernah memberimu ruang untuk itu. Bagaimana jika kehadiranku tak pernah begitu kamu inginkan? Sebab aku tak pernah meninggalkanmu. Bagaimana jika kamu berusaha menghancurkan? Sebab aku begitu keras kepala bertahan.
Bukan, bukan ingin mengatakan betapa hebat menghadapi luka. Hanya ingin kamu tau, seseorang sepertimu selalu pantas untuk ditunggu.
Baiklah. Aku akan memeluk lewat doa, seperti yang selama ini dilakukan pada tiap-tiap malam. Namun lebih erat, agar kita menjadi dua orang yang selalu sungguh baik-baik saja, yang saling memberi nyawa dan bukan mematikan. Hingga semua hal buruk tak pernah mampu menyentuhmu. Pun kamu melihat masih banyak hal yang patut kita syukuri. Hingga semua mimpimu pada akhinya menjadi nyata. Hingga, aku begitu beharap memiliki hati yang tidak akan pernah patah untuk memahami dan sebuah aamiin untuk pertemuan yang masih menjadi mimpi.
Biarkan aku mengurai..
Saat dimana kamu datang dalam kehidupanku, adalah saat di mana aku akhirnya berani memilih impian sendiri. Setelah sebelumnya terkekang dalam sebuah keadaan yang tak pernah benar-benar di inginkan. Pun mungkin, aku telah bertahan sekian lama, menjadi sosok yang berpura-pura dimata semua orang. Tanpa mereka pernah tau aku mengubur separuh diriku untuk bisa diterima.
Kamu adalah orang pertama yang membuka mataku tentang banyak hal, pandanganmu terhadap hidup, Perhatianmu pada dunia, khususnya tempat dimana dirimu berteduh, impian dan bahwa menjadi diri sendiri adalah sebuah pilihan yang selalu kita miliki. Aku mengaguminya. Aku menikmati bagaimana menjadi diri sendiri saat bersamamu. Tidak pernah berpura-pura cinta atau peduli. Tidak memaksakan bibir melekukan senyuman yang sebenarnya aku tak ingin. Tertawa terbahak bahak bila bermain games bersama. Apapun denganmu aku tertawa lepas. Sadarpun, hatiku tidak beku sangat saat mengucapkan, aku rindu.
Berulang kali kupertimbangkan untuk mendekatkan diri, sebab melihat kamu bukan seseorang yang bisa dimiliki. Tidak pada langkahmu yang memburu, tidak pada mimpimu yang kau cintai, tidak pada dirimu yang selama ini berdiri sendiri.
Aku pernah mengutarakannya, tapi kamu bersikeras meyakinkan..
Dan, aku jatuh pada setiap nyawa yang diberikan lewat kata dalam pesan singkat. Bagaimana aku merasa hidup kembali setelah sekian lama mati?
Katakan, bagaimana untuk tidak mencintai orang yang menerbangkan kupu-kupu di dalam sepanjang hari. Katakan, bagaimana menahan diri untuk tidak jatuh pada orang yang tertawa dan senyumnya dikagumi. Katakan, bagaimana bersikap tenang ketika ingatan akanmu yang senantiasa berlalu-lalang?
Kamu tau benar bagaimana sering aku mengakuinya. Aku tidak pandai mencintai dalam diam tapi merasa dalam diam. Jika bukan bibir, maka jariku tidak akan berhenti menyusun uraian emosi. Atau akupun akan terjaga sepanjang petang hingga pagi. Berusaha keras mengusir dari imaji. Jadi aku memilih membiarkannya, membiarkanmu bersepakat dengan hati untuk membawa lari warasku.
Pernah ingat bagaimana hatimu berdebar membaca namaku di layar ketika saling mengirim pesan? Aku masih mengingatnya benar. Pun kamu ingat bagaimana hatimu terasa penuh dan menduga-duga, apakah aku cinta? Apakah kamu, pernah benar-benar punya rasa?
Dan sungguh seluruh hari tak pernah sama lagi. Warna-warna yang kau bawa selalu berbeda, dan semuanya mengesankan. Menerimamu begitu cepat menjadi bagian dari kisahku. Meleburkanmu jadi satu di antara alasan-alasanku untuk bahagia. Begitukah? dengan mudah kusimpulkan aku jatuh terhadapmu.
Jarak tak pernah begitu mampu membatasi rasa. Aku pernah mengatakan jika akhirnya aku percaya, bahwa rasa bisa datang dari dimensi apa saja. Dan kau tergelak, aku tidak sedang mengatakan kamu datang dari dunia fana. :”) Haha
Rasanya ternyata kata-kata tak mampu lagi menyuratkan rasa dengan baik.
Seseorang ini, tanpa perlu banyak usaha telah membuatku jatuh. Tentu bukan salahmu saat ku katakan aku menjatuhkan hati sepenuhnya. Juga tak bisa menyebutnya salahku. Hanya saja, kau telah menjelma poros didalamnya. Maaf jika terus berlari ke arahmu.
Pun pada akhirnya kamu memilih diam, aku menduga, mungkinpun aku merasa memiliki rasa terlalu amat banyak? Atau pikiran-pikiran tentang hidup dan kematian yang membuatmu begitu lelah. Hari itu kau ceritakan tentang banyak pintu terkunci di dalam kepalamu. Tentang banyak paham mengenai kebebasan.
Dan orang-orang disekitarmu yang kental dengan keputusasaan.
Pada akhirnya, sadar bahwa aku hanya berdiri di ambang. Tanpa pernah benar-benar mampu menyentuh. Pernah berharap membuka satu pintu di kepalamu dan tinggal selamanya di sana untuk menjadi salah satu alasanmu bahagia. Tapi aku bukanlah seseorang yang kamu inginkan untuk tinggal bukan?
Aku pernah berbicara tentang harapan, bagaimana selalu hidup dan berharap untuk mewujudkan mimpi yang bahkan telah lama dilupakan. Lalu kenapa harus takut ketika kamu telah sepenuhnya hidup untuk mewujudkan mimpimu? Kita hidup pada sebuah bola biru yang beredar mengelilingi bara api tanpa pernah terbakar. Dan kamu masih berpikir ulang tentang keajaiban? Kamu tau, jika kita benar-benar bisa bertukar mata, aku akan memaksamu melihat lewat mataku, agar tau bagaimana semua yang kamu miliki sudah amat pantas disyukuri. Cobalah untuk tidak terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti, membangun benteng-benteng pertahanan yang tidak perlu di hati dan kepala. Duduklah dengan tenang, kenyataan tidak akan pernah membiarkan kita lemah tanpa harapan bukan?
Jadi apakah sekarang kamu sedang menggelengkan kepala, menolak semua kata yang membuatmu tidak nyaman? Karena lebih takut merasa bersalah ketimbang melihat betapa tabah aku ingin bertahan.
Bagaimana jika kamu tidak pernah merindukanku? Sebab tak pernah memberimu ruang untuk itu. Bagaimana jika kehadiranku tak pernah begitu kamu inginkan? Sebab aku tak pernah meninggalkanmu. Bagaimana jika kamu berusaha menghancurkan? Sebab aku begitu keras kepala bertahan.
Bukan, bukan ingin mengatakan betapa hebat menghadapi luka. Hanya ingin kamu tau, seseorang sepertimu selalu pantas untuk ditunggu.
Baiklah. Aku akan memeluk lewat doa, seperti yang selama ini dilakukan pada tiap-tiap malam. Namun lebih erat, agar kita menjadi dua orang yang selalu sungguh baik-baik saja, yang saling memberi nyawa dan bukan mematikan. Hingga semua hal buruk tak pernah mampu menyentuhmu. Pun kamu melihat masih banyak hal yang patut kita syukuri. Hingga semua mimpimu pada akhinya menjadi nyata. Hingga, aku begitu beharap memiliki hati yang tidak akan pernah patah untuk memahami dan sebuah aamiin untuk pertemuan yang masih menjadi mimpi.
Minggu, 07 Januari 2018
Tidak bisa dijelaskan
Tidak ada tulisan manapun yang ditulis oleh seseorang yang akan cukup menjelaskan siapa dirinya. Sekeping teka-teki di tulisan yang satu, belum tentu akan terus bersambungan dengan sekeping teka-teki di tulisan yang lainnya. Teka-teki itu mungkin akan terus berkelindan, tapi tidak berarti bahwa jika semuanya tersusun maka akan tersusun pulalah penjelasan-penjelasan tentang siapa seseorang itu sebenarnya. Maka, merasa telah mengenal dengan baik seseorang hanya karena membaca pola pikirnya dalam kata dan kalimat belumlah cukup untuk benar-benar mengenalnya.
Tidak ada tulisan dan cara manapun yang ditulis oleh seseorang yang akan cukup menjelaskan tentang seluruh kedalaman gunung es, pola-polanya dalam berpikir, merasa, bagaimana, seperti apa, dan bagaimana ia bertindak. Jika ia menuliskannya sedikit, yang sedikit itulah yang ia izinkan untuk diketahui. Jika ia menuliskannya banyak-banyak, yang banyak itulah yang sesungguhnya hanya sedikit, yang tak akan bisa cukup untuk dijadikan kesimpulan gambaran kepribadiannya. Maka, jangan buru-buru menganggap hidup orang yang ada di balik tulisan itu lebih baik, lebih sempurna, atau lebih bermakna. Sebab. hanya tidak benar-benar mengetahui bagaimana ia sedang berjuang mengalahkan dan memenangkan banyak hal.
Pun, tidak ada tulisan manapun yang ditulis oleh seseorang yang akan cukup menjelaskan apa yang menjadi masalahnya, isi hatinya, perasaannya, keresahannya, atau juga lika-liku hidupnya. Mereka yang terlihat baik-baik saja sebab kalimat-kalimatnya bersahaja, mungkin saja hatinya sedang porak-poranda: terseok menjaga iman erat-erat sebab takut terlepas dari genggaman, memunguti semangat yang berceceran, mengobrak-abrik sisi buruk agar menjadi kekuatan dan kebaikan, juga mendidik diri agar tak manja dan mudah melemah digoyahkan masalah. Tentu saja, setiap kita sedang berjuang, bukan?
Sebab kutulis, maka dariku untukmu yang melihat dan membaca adalah terima kasih; terima kasih telah berprasangka baik, mendoakan yang baik-baik, mengapresiasi dengan cara yang baik, dan menumbuhkan dengan cara yang baik. Semoga tak ada yang tertinggal di hatimu setiap kali membaca ceracauku selain kebaikan yang tak ragu untuk kembali dibagikan.
Sebab. Aku juga melihat dan membaca, maka dariku untukmu yang menulis adalah juga terima kasih; terima kasih telah mengelola diri dan hati sedemikian rupa hingga bisa menulis yang baik-baik, mengajak melihat semesta dengan kaca mata yang baik, dan menumbuhkan kebaikan di hati dengan penyampaian-penyampaian terbaik. Semoga selalu tidak lelah untuk saling menasehati dan mendoakan yang terbaik.

Tidak ada tulisan dan cara manapun yang ditulis oleh seseorang yang akan cukup menjelaskan tentang seluruh kedalaman gunung es, pola-polanya dalam berpikir, merasa, bagaimana, seperti apa, dan bagaimana ia bertindak. Jika ia menuliskannya sedikit, yang sedikit itulah yang ia izinkan untuk diketahui. Jika ia menuliskannya banyak-banyak, yang banyak itulah yang sesungguhnya hanya sedikit, yang tak akan bisa cukup untuk dijadikan kesimpulan gambaran kepribadiannya. Maka, jangan buru-buru menganggap hidup orang yang ada di balik tulisan itu lebih baik, lebih sempurna, atau lebih bermakna. Sebab. hanya tidak benar-benar mengetahui bagaimana ia sedang berjuang mengalahkan dan memenangkan banyak hal.
Pun, tidak ada tulisan manapun yang ditulis oleh seseorang yang akan cukup menjelaskan apa yang menjadi masalahnya, isi hatinya, perasaannya, keresahannya, atau juga lika-liku hidupnya. Mereka yang terlihat baik-baik saja sebab kalimat-kalimatnya bersahaja, mungkin saja hatinya sedang porak-poranda: terseok menjaga iman erat-erat sebab takut terlepas dari genggaman, memunguti semangat yang berceceran, mengobrak-abrik sisi buruk agar menjadi kekuatan dan kebaikan, juga mendidik diri agar tak manja dan mudah melemah digoyahkan masalah. Tentu saja, setiap kita sedang berjuang, bukan?
Sebab kutulis, maka dariku untukmu yang melihat dan membaca adalah terima kasih; terima kasih telah berprasangka baik, mendoakan yang baik-baik, mengapresiasi dengan cara yang baik, dan menumbuhkan dengan cara yang baik. Semoga tak ada yang tertinggal di hatimu setiap kali membaca ceracauku selain kebaikan yang tak ragu untuk kembali dibagikan.
Sebab. Aku juga melihat dan membaca, maka dariku untukmu yang menulis adalah juga terima kasih; terima kasih telah mengelola diri dan hati sedemikian rupa hingga bisa menulis yang baik-baik, mengajak melihat semesta dengan kaca mata yang baik, dan menumbuhkan kebaikan di hati dengan penyampaian-penyampaian terbaik. Semoga selalu tidak lelah untuk saling menasehati dan mendoakan yang terbaik.

Langganan:
Postingan (Atom)










