Rabu, 07 Maret 2018

Impian dan citacita

Hidup manusia bukan hanya untuk hari ini, untuk meraih hari esok yang lebih baik seseorang itu perlu mengambil langkah di hari ini. Untukmu yang sekarang sedang mengusahakannya, semoga pengalaman tahuntahun itu mampu menyemangatimu.
Pelajaran tahun-tahun itu, semoga mampu menyemangati mu yang sedang berjuang saat ini. Tak masalah jika tahun itu kamu gagal dan diremehkan. Berjuang memang tak mudah, kan. Namun, tenang saja, seperti kata yang selalu kukatakan ”semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya.” Bilapun saat ini kamu masih bersusah-susah dahulu, artinya perjalananmu belum berakhir. Tetaplah melangkah dengan semangat untuk masa depan.
Sedangkan, impian dan citacita yang sedang diusahakan. Impian akan masa depan yang merupakan suatu hal yang begitu melekat pada tujuanmu, semoga tercapai dengan baik, sayang. Namun, terkadang kamu tak bisa melakukannya seorang diri. Kamu membutuhkan orang lain untuk berjalan bersamamu. Bergandengan tangan bersama mereka, membuatmu lebih kuat dari sebelumnya, itulah keluargamu. Pun, kamu akan siap untuk mewujudkan semua dan berlari kencang pada impianmu. Untuk solusi yang sedang dicari, memang tak luput dari masalah dalam hidup. Namun, apapun masalahnya, dirimu akan berusaha untuk menyelesaikannya. Pasti, bukan? Yakin akan ada jalan bagi setiap masalah yang di hadapi. Hanya saja, tak perlu menyerah akan impianmu. Jangan!
Untuk masa mudamu, kamu tahu bahwa usiamu masih muda, kamu bekerja keras sejak saat itu untuk mewujudkan impianmu. Tak ingin menyia-nyiakan masa mudamu hanya untuk hura-hura. Yakin bahwa impianmu harus mulai diusahakan sejak saat ini. Jika bukan saat ini, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa? Kamu tak ingin menundanya hingga tutup usia bukan?
Kesabaranmu. Sabarlah pada proses, sayang. Kita tahu bahwa kesuksesan yang diimpikan tidak akan datang dengan mudah. Sebab itu, tetaplah bersabar dan berusaha. Berusaha untuk fokus dan memberikan waktu terbaikmu dan untuk meraihnya. Yakin, suatu saat kesabaranmu akan mendatangkan hasil yang di inginkan. Tetaplah berharap. Tetaplah berusaha. Tetaplah bersabar.
Hingga untuk cinta pada impianmu, kamu tahu bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah mencintai pekerjaanmu, mencintai impianmu, mencintainya dirimu yang berjuang demi impian, berusaha mencari cara untuk mewujudkannya. Tanpa rasa cinta ini, kamu tak ingin benar-benar berjuang untuk meraihnya. Karena tanpa kerja kerasmu, kesuksesan tidak akan datang pada seorang pemalas. Yakin bahwa untuk meraih impian perlu untuk bekerja keras. Tak masalah jika harus bangun subuh dan baru pulang dimalam hari. Berusaha untuk mengabdikan dirimu untuk impianmu. Sebab, akupun tahu pasti, kamu tak ingin setengah-setengah dalam berusaha. Bukankah begitu?

Selamat perjalanan jauh..
Semoga kebaikan senantiasa bersamamu..
Akan aku tunggu cerita² pahit manis perjalananmu..
Happy fighting dear.. 


Selasa, 06 Maret 2018

Memaafkan diri sendiri

Ini adalah aku ketika ini, yang sedang berbicara dengan diriku sendiri. Adalah aku, yang mulai bertanya. Duhai diri, kapankah kamu akan memulai memaafkan dirimu sendiri?
Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.
Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Bukankah itu sungguh menyesakkan?
Sementara jauh di dalam jiwa, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Dalam rintihan itu, kamu menyalahkan dirimu sendiri yang tak sempurna, yang tak bisa menjadi manusia yang begini begitu seperti kata orang, yang tak mampu mengerjakan sesuatu untuk membahagiakan semua orang. Kamu juga menyalahkan masa lalumu yang menurutmu buruk. Kamu menyudutkan dirimu sendiri. Tapi rintihan itu tak pernah kamu dengar. Atau sesekali memang kamu dengarkan, untuk kemudian membuatmu marah dan kesal.
Lalu kamu memilih sibuk berpura bahagia, atau sejenak menangisi apa-apa yang membuatmu sakit. Kamu tutup telingamu dari suara nuranimu. Agar kamu menjadi apa yang menjadi standar orang untuk mendapat sebutan ‘berhasil’. Tapi sesungguhnya kamu belum berhasil. Hanya kamu sendirilah yang tahu dalam hati. Kamu belum berhasil melihat lukamu sendiri, mengakuinya, juga menyembuhkannya. Maka, bagaimana bisa kamu memaafkan? Sampai kapan?
Mengapa kamu tak menjadi dirimu sendiri saja? Aku lupa. Sungguh. Aku lupa kalau kamu masih takut menatap luka itu. Kamu bahkan tak menginginkan ia sembuh. Kamu abaikan begitu saja seolah tak ada. Padahal di balik bebat perban, lukamu semakin bernanah. Setiap hari ia mengikuti langkahmu, membentuk prasangkamu. Tanpa kamu tahu, luka itu membuatmu tumbuh menjadi manusia yang penakut akan masa depan. Menjadi manusia yang mudah tersakiti perasaannya. Menjadi manusia bertopeng namun tak sadar tengah mengenakan topeng.
Jika terus begitu, kapan kamu akan memaafkan dirimu sendiri? Tidakkah kamu melihat jiwamu letih melihat maumu yang menggunung, tapi langkahmu urung? Tidakkah kamu melihat jiwamu terus terluka oleh kebengisanmu sendiri? Memaksanya untuk bekerja keras mencapai maumu, lalu memarahinya saat kamu kecewa karena apa yang kamu mau tak kamu dapat. Merutuki apa-apa yang sudah jadi pilihanmu di masa lalu. Tapi kamu terus memaksanya untuk mendongak menatap kehidupan, tanpa berusaha memberi ruang untuknya mengobati lukanya sendiri.
Maka, cobalah sayangilah dirimu. Jujurlah pada dirimu. Sedihlah jika memang harus sedih, sakitlah jika memang harus sakit. Jujurlah jika memang tak mampu. Pahamilah bahwa dirimu adalah seorang manusia yang juga tak sempurna, yang tak bisa membahagiakan semua orang, yang juga punya luka. Bukalah luka itu pelan-pelan, berilah ia oksigen. Sekali lagi, terimalah semua hal yang tak mampu kamu lakukan. Teruslah bermimpi tinggi, tapi wujudkanlah apa yang bisa kamu wujudkan sesuai kemampuanmu. Jangan terus-terusan menyamakan dirimu dengan orang lain, lalu marah ketika kamu tak bisa mencapai yang ia capai.
Bermimpilah setinggi kamu mampu, tapi juga capailah sebagaimana kamu mampu saja. Tak perlu membuat ada apa yang tak ada. Bukan, bukan berarti kamu harus pasrah menyerah. Tapi justru sungguh-sungguh kamu upayakan tanpa merasa terbebani dengan kemampuanmu–yang katamu masih segitu aja. Jangan buat dirimu tersakiti lagi dengan penundaan-penundaan, janji-janji yang kamu buat untuk diri sendiri tapi tak kamu tepati, atau juga dengan iri hati dan dengki pada hasil yang dimiliki orang lain. Serta jangan lupa meminta maaf atas semua kebengisan yang kamu lakukan sendiri. Lalu maafkanlah segala ketidakmampuan dirimu.
Karena jika kamu mampu memaafkan dirimu sendiri, kamu akan mengenali dirimu. Kamu akan sadar atas lukamu. Mungkin tak selamanya kamu bahagia. Mungkin ada waktunya kamu akan marah, kecewa, kesal, dan segala emosi lainnya. Karena kamu manusia. Tapi, setidaknya ketika emosimu sedang tak baik, kamu akan tahu ke mana harus kembali, karena kamu telah mengenal dirimu. Mengenali dirimu sendiri akan membuatmu selalu ingin mengenal pencipta-Nya. Akan selalu meringankan langkahmu. Dan akan membuat jiwamu tenang. Tidakkah kamu ingat, bahwa Dia dalam Kalam Sucinya mengutuk mereka yang mendzalimi dirinya sendiri? Jadi, masih enggankah kamu meminta maaf dan memaafkan dirimu ini?
Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Tapi, dengan mengingat ini, semoga kamu terus mengurai setiap perjalanan hidupmu untuk mengenal dirimu sendiri secara lebih dalam. Karena Allah masih sayang padamu. Pada ujian-ujian yang katamu berat itu, Allah ketika mengajakmu untuk sembuh dari luka-lukamu. Untuk lebih mendekat pada Dia.
Semoga senyum yang tersimpul di wajahmu itu, bukan lagi sebuah senyum pura-pura untuk membalut lukamu. Melainkan senyum yang memancarkan ketenangan dalam jiwamu. Duhai diri, hari ini. Aku terus belajar memaafkanmu. Terima kasih sudah menjadi aku. Terima kasih karena kamu mampu melewati banyak hal. Terima kasih karena kamu mau terus belajar. Kamu memang tak mampu dalam segala, kamu memang tak sempurna. Tapi aku sayang padamu. Aku akan belajar untuk tak lagi merasa menjadi korban. Aku tak akan lagi membandingkanmu dengan siapa pun, karena kamu punya bahagiamu sendiri, yang tentu saja tak sama dengan siapa pun. Aku mau membuka bebat lukamu, lalu pelan-pelan menyembuhkannya. Mengakuinya. Menerimanya.

Ahimsa
KF
Hancur


Senin, 05 Maret 2018

Sebutlah aku pengagummu

Entah sampai kapan namaku tak kuucapkan. Entah sampai kapan aku sebagai sosok transparan yang memelukmu dengan doa dan harapan. Entah sampai kapan rasa ini tak terutarakan. Entah sampai kapan harus menyimpan perasaan yang tak beralaskan alasan. Rasanya dengan ketidaktahuanmu tentang pengetahuanku tentangmu lebih baik untuk sementara waktu.
Bukan aku sama sekali tidak sedang mengharapkan, namun hanya berusaha memaklumi segala keterbatasan-keterbatasan. Bukan aku tidak ingin turut dirindukan, namun hanya menghindari hati ini dari kemungkinan dikecewakan. Karena hanya dengan melihatmu, sepertinya cukup untuk membantu menenangkan selaksa rindu yang sudah sejak lama menunggu.
Mungkin seluruh penjuru pikirmu meragu tentang seberapa besar perasaanku, tapi sungguh ini bukan sebatas rasa penasaranku. Takkan kupanjatkan doa, jika kamu tak istimewa. Mungkin menurutmu aku pengecut, tapi waktu yang tepat hanya belum menjemput.
Dari sisi yang sama sekali tidak terlihat, aku senang memandangimu sebagai suatu ciptaan yang sejak awal sudah indah terpahat. Biarkan aku mengagumimu sekuat yang aku mampu, biarkan aku mengagumimu selama yang aku mungkin. Tak perlu pedulikan sebesar apa rasa yang semestinya kaubalas, tak perlu acuhkan harus sampai sebatas apa kita hingga mampu membuatku puas.
Karena apapun perlakuanmu, tidak akan mengubahkan aku.
Nampaknya aku terlalu malu menunjukkan perbuatanku yang diikuti ‘selalu’. Mungkin aku takut ketika suatu waktu kamu tahu, lalu seluruh perasaanku terhenti karena kamu berlalu. Menunggu hanya satu-satunya aksi statis yang menurutku begitu manis. Karena menunggu perlu kesabaran untuk mempertahankan percaya dan mengusir ragu.
Aku mungkin hanya terlalu siap untuk menerima bahwa kita bukanlah untuk menjadi nyata. Maka aku akan sembunyikan rasa yang ada selama yang aku bisa.
Meski memang selalu ada keinginan semoga kita diciptakan untuk saling menemukan, namun sadar tak perlu berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Untuk rindu-rindu yang akhirnya berlarian menujumu saat tatap mata kita bertemu, aku menyelipkan sekecil doa di situ.
Aku mengagumimu tanpa suara, mungkin dalam menenangkan rindu harus dengan cara yang sama. Meski tanpa isi hati yang bersuara, aku bukannya seorang penipu rasa. Tapi mungkin aku telah dihadiahi porsi mengagumi dengan cara tersembunyi.
Mungkin cinta lebih baik tersimpan dibalik saku Tuhan, hati yang semakin jatuh perlahan dan kamu yang dipenuhi ketidaktahuan. Mencinta itu sederhana ketika kekuatiran lelah jadi prioritas kita.
Jangan pernah berpikir aku lelah dengan cerita rahasia ini, karena sungguh aku menikmati peran ini. Mengagumi adalah hal yang masih bisa kulakukan. Tak ingin bicara soal ketetapan, tapi selama bahagia masih berdatangan seluruh cerita tinggal Tuhan yang melanjutkan. Semoga, pengaggum rahasia diperbolehkan bahagia saat Tuhan menghadiahi “kita”.

❤❤