Senin, 20 Desember 2021

Raga yang lelah

Aku ingat sebagian besarnya. Apa saja yang tertulis, apa saja yang terucap, beberapa rincian yang membahagiakan, penuh harapan dan semangat, juga perih yang tak terkira.

Dan untuk beberapa alasan, berlari kembali adalah pilihan terbaik. Meninggalkan dibelakang apa yang memang harus ditinggalkan, membawa apa yang memang pantas untuk dipertahankan. 

Entah berapa lama yang diperlukan, biarkan waktu yang memulihkannya..


Yah, dalam kehidupan, aku tahu akan selalu ada hal-hal yang menjadi pertama dialami. Seseorang yang membuat jatuh cinta begitu dalam, seseorang yang sanggup membuat kita berkawan dengan rindu, seseorang yang ingin begitu sering kita pandang setiap hari, seseorang yang ingin kita perkenalkan kepada keluarga, seseorang yang namanya tertaut dalam rencana-rencana masa depan, seseorang yang diharapkan menjadi teman hidup dan tua bersama, seseorang yang dipinta menjadi pelita dan kekuatan, seseorang yang kita layangkan dalam setiap do’a untuk menggenapi diri.


Akupun tahu, kehidupan adalah tempat mengejar dunia seperti lautan menelan matahari menjelang malam. Tempat berharap dalam hiruk-pikuk langkah kaki, berharap ada seuntai permohonan yang terkabul. Tempat mengembangkan layar dengan biduk ditangan. Bersikeras menentukan sendiri jalan hidup, namun nasib kadang kala begitu senang mempermainkan, menghempas tanpa permisi, mengahantam tanpa iba, tak peduli setegar apa telah menelan rasa pahit dari kegagalan dan kekeliruan.

Dan disini, tempat menua disepanjang jalan. Terasing dipinggiran dunia, sendiri dalam keramaian, sepi ditengah hingar-bingar suara, berharap ditemukan dan digengam, sebagai teman hidup tempat berbagi berbagai hal.

Sekarang, aku memilih melanglang buana ke negeri orang, memilih jauh dari rumah. Karena pilihan telah ditetapkan, karena perjalanan telah dimulai. Semoga pada waktunya nanti masih memiliki tempat untuk pulang.

Semoga pada saatnya nanti masih memiliki umur panjang untuk bersua, masih memiliki kesempatan untuk memenuhi janji yang pernah diikrarkan.


Sebab, aku adalah manusia, dibekali hanya dengan setetes pengetahuan sebagai alat untuk menelaah panduan yang diwariskan. Di atas semua itu, ada Tuhan yang memegang kendali. Tak ada yang mendahului ataupun tertunda. Hanya dapat membaca tanda-tanda, kemudian berjalan di atas keyakinan bahwa segala sesuatu hadir dan juga yang terlewatkan telah mengikuti garis takdirnya masing-masing, menunaikan peran yang mereka terima sejak permulaan. Lalu, sebagai penutup di waktu yang kian renta, . 


Selamat jalan wahai raga yang lelah. Meski patah merobekmu dari dalam, semoga esok datang menyembuhkan. Seperti siang berganti malam, tak ada yang mendahului ataupun melambat, maka tetaplah percaya dengan tulus, bahwa terang akan merona setelah gelap mencekam berlalu..

Sadar, seharusnya menjadi marmut adalah siap untuk terlupakan. Siap untuk berlalu, dan juga siap untuk digantikan. Dannya, semoga menemukan keinginan.


Ayolah, meskipun segala mimpi tercabik, tetaplah berdiri!