Jumat, 02 Februari 2018

Biarkan aku mengurai

Kamu pernah bilang ingin hidup selamanya, itulah kenapa aku terus menulis. Mungkin aku tak akan selalu ada untuk tau kamu telah melalui berbagai perjalanan panjang. Tapi setidaknya kamu akan hidup, dalam tiap baris tulisan, untukku, sebagai seseorang yang aku kagumi. Mungkin kamu menerka mengapa aku begitu keras kepala?

Biarkan aku mengurai..
Saat dimana kamu datang dalam kehidupanku, adalah saat di mana aku akhirnya berani memilih impian sendiri. Setelah sebelumnya terkekang dalam sebuah keadaan yang tak pernah benar-benar di inginkan. Pun mungkin, aku telah bertahan sekian lama, menjadi sosok yang berpura-pura dimata semua orang. Tanpa mereka pernah tau aku mengubur separuh diriku untuk bisa diterima.
Kamu adalah orang pertama yang membuka mataku tentang banyak hal, pandanganmu terhadap hidup, Perhatianmu pada dunia, khususnya tempat dimana dirimu berteduh, impian dan bahwa menjadi diri sendiri adalah sebuah pilihan yang selalu kita miliki. Aku mengaguminya. Aku menikmati bagaimana menjadi diri sendiri saat bersamamu. Tidak pernah berpura-pura cinta atau peduli. Tidak memaksakan bibir melekukan senyuman yang sebenarnya aku tak ingin. Tertawa terbahak bahak bila bermain games bersama. Apapun denganmu aku tertawa lepas. Sadarpun, hatiku tidak beku sangat saat mengucapkan, aku rindu.
Berulang kali kupertimbangkan untuk mendekatkan diri, sebab melihat kamu bukan seseorang yang bisa dimiliki. Tidak pada langkahmu yang memburu, tidak pada mimpimu yang kau cintai, tidak pada dirimu yang selama ini berdiri sendiri.
Aku pernah mengutarakannya, tapi kamu bersikeras meyakinkan..
Dan, aku jatuh pada setiap nyawa yang diberikan lewat kata dalam pesan singkat. Bagaimana aku merasa hidup kembali setelah sekian lama mati?
Katakan, bagaimana untuk tidak mencintai orang yang menerbangkan kupu-kupu di dalam sepanjang hari. Katakan, bagaimana menahan diri untuk tidak jatuh pada orang yang tertawa dan senyumnya dikagumi. Katakan, bagaimana bersikap tenang ketika ingatan akanmu yang senantiasa berlalu-lalang?
Kamu tau benar bagaimana sering aku mengakuinya. Aku tidak pandai mencintai dalam diam tapi merasa dalam diam. Jika bukan bibir, maka jariku tidak akan berhenti menyusun uraian emosi. Atau akupun akan terjaga sepanjang petang hingga pagi. Berusaha keras mengusir dari imaji. Jadi aku memilih membiarkannya, membiarkanmu bersepakat dengan hati untuk membawa lari warasku.
Pernah ingat bagaimana hatimu berdebar membaca namaku di layar ketika saling mengirim pesan? Aku masih mengingatnya benar. Pun kamu ingat bagaimana hatimu terasa penuh dan menduga-duga, apakah aku cinta? Apakah kamu, pernah benar-benar punya rasa?
Dan sungguh seluruh hari tak pernah sama lagi. Warna-warna yang kau bawa selalu berbeda, dan semuanya mengesankan. Menerimamu begitu cepat menjadi bagian dari kisahku. Meleburkanmu jadi satu di antara alasan-alasanku untuk bahagia. Begitukah? dengan mudah kusimpulkan aku jatuh terhadapmu.
Jarak tak pernah begitu mampu membatasi rasa. Aku pernah mengatakan jika akhirnya aku percaya, bahwa rasa bisa datang dari dimensi apa saja. Dan kau tergelak, aku tidak sedang mengatakan kamu datang dari dunia fana. :”) Haha
Rasanya ternyata kata-kata tak mampu lagi menyuratkan rasa dengan baik.
Seseorang ini, tanpa perlu banyak usaha telah membuatku jatuh. Tentu bukan salahmu saat ku katakan aku menjatuhkan hati sepenuhnya. Juga tak bisa menyebutnya salahku. Hanya saja, kau telah menjelma poros didalamnya. Maaf jika terus berlari ke arahmu.
Pun pada akhirnya kamu memilih diam, aku menduga, mungkinpun aku merasa memiliki rasa terlalu amat banyak? Atau pikiran-pikiran tentang hidup dan kematian yang membuatmu begitu lelah. Hari itu kau ceritakan tentang banyak pintu terkunci di dalam kepalamu. Tentang banyak paham mengenai kebebasan.
Dan orang-orang disekitarmu yang kental dengan keputusasaan.
Pada akhirnya, sadar bahwa aku hanya berdiri di ambang. Tanpa pernah benar-benar mampu menyentuh. Pernah berharap membuka satu pintu di kepalamu dan tinggal selamanya di sana untuk menjadi salah satu alasanmu bahagia. Tapi aku bukanlah seseorang yang kamu inginkan untuk tinggal bukan?
Aku pernah berbicara tentang harapan, bagaimana selalu hidup dan berharap untuk mewujudkan mimpi yang bahkan telah lama dilupakan. Lalu kenapa harus takut ketika kamu telah sepenuhnya hidup untuk mewujudkan mimpimu? Kita hidup pada sebuah bola biru yang beredar mengelilingi bara api tanpa pernah terbakar. Dan kamu masih berpikir ulang tentang keajaiban? Kamu tau, jika kita benar-benar bisa bertukar mata, aku akan memaksamu melihat lewat mataku, agar tau bagaimana semua yang kamu miliki sudah amat pantas disyukuri. Cobalah untuk tidak terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti, membangun benteng-benteng pertahanan yang tidak perlu di hati dan kepala. Duduklah dengan tenang, kenyataan tidak akan pernah membiarkan kita lemah tanpa harapan bukan?
Jadi apakah sekarang kamu sedang menggelengkan kepala, menolak semua kata yang membuatmu tidak nyaman? Karena lebih takut merasa bersalah ketimbang melihat betapa tabah aku ingin bertahan.

Bagaimana jika kamu tidak pernah merindukanku? Sebab tak pernah memberimu ruang untuk itu. Bagaimana jika kehadiranku tak pernah begitu kamu inginkan? Sebab aku tak pernah meninggalkanmu. Bagaimana jika kamu berusaha menghancurkan? Sebab aku begitu keras kepala bertahan.
Bukan, bukan ingin mengatakan betapa hebat menghadapi luka. Hanya ingin kamu tau, seseorang sepertimu selalu pantas untuk ditunggu.
Baiklah. Aku akan memeluk lewat doa, seperti yang selama ini dilakukan pada tiap-tiap malam. Namun lebih erat, agar kita menjadi dua orang yang selalu sungguh baik-baik saja, yang saling memberi nyawa dan bukan mematikan. Hingga semua hal buruk tak pernah mampu menyentuhmu. Pun kamu melihat masih banyak hal yang patut kita syukuri. Hingga semua mimpimu pada akhinya menjadi nyata. Hingga, aku begitu beharap memiliki hati yang tidak akan pernah patah untuk memahami dan sebuah aamiin untuk pertemuan yang masih menjadi mimpi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar