Selasa, 24 Maret 2015

Menunggu itu masih ada



Dan tentang pagi, kita pernah menikmatinya bersama udara yang kita hirup. Memainkan daun putri malu di pinggir jalan dan membuatnya benar-benar malu bersama kita. Sama seperti kita. Saat itu, di padatnya kota, di tengah bisingnya kendaraan, di antara ribuan manusia, kita saling memandang siluet matahari yang jatuh dan berbinar cerah di mata kita. Sama-sama tertunduk. Katanya malu.
Apakah kau tahu kalau pagi selalu meminta itu?Tetapi menunggu itu masih ada. Ceria untuk menjemputmu masih kugenggam erat. Meski aku tak pernah tahu kapan kau akan datang. Meraih tanganku, merangkulnya, menggenggamnya erat, lalu memelukku. Dan berkata lirih “Aku mencintaimu”
Hari ini pada jam 7, menit ke 5, detik ke sekian.. Aku duduk di tengah-tengah bumi. Terdiam dalam senyap alam. Tak ada suara. Hening. Desir angin, kepak daun, kicau burung, kau kira ada? Tidak ada. Hening. 
Hari ini, di tahun 2014,  bulan pertama. Aku duduk di tengah-tengah bumi. Menunduk kaku. Tenggelam dalam keadaan sekitar. Tak ada bunyi, tak ada suara. Manusia, hewan, tumbuhan, kau pikir ada? Tidak ada. Kosong. Bukankah ini yang kutakutkan? Uratku kaku, aliran darahku perlahan melamban. Tak ada senyum. Tak ada gurat bahagia. Tak ada hiburan. Dan angan.. Yah, hanya ada angan.. Angan untuk lepas dari jeratan hari ini.. Lepas dari perangkap hari ini.. Lepas dari kungkungan yang selama-lamanya tak pernah kuinginkan.. Tapi sekali lagi kukatakan, hari ini benar-benar ada... Aku ingin pulang pada sebuah kata. Ingin terlepas dari siksa yang menyandra batin serta fisik. Tak beri ampun. Aku ingin menatap sebuah kesungguhan yang selalu kugandeng dahulu.. Pada masa terlewat setelah hari ini hadir. Sungguh angan itu amat kuinginkan..Tak bisakah semesta berbaik hati padaku hari ini? Kini sebuah zaman baru kujejaki tanpa ku minta. Hari ini tak pernah menjadi anganku. Bahkan mungkin, jika Tuhan mengizinkanku, membiarkanku, melepaskanku atas hari ini.. Tak akan pernah kuanggap bahwa hari ini ada..Hari ini gelap, Hari ini diam, Hari ini senyap, Hari ini kosong, Dan hari ini benar-benar ada..
Sungguh, aku tak pernah marah, benci apalagi dendam. Aku hanya tidak suka kebencian itu tiba-tiba menyerangku bergantian. Satu-satu kalimat demi kalimat yang tersampaikan tak kusangka akan seperti itu. Berjejeran tak terkendali.

Sungguh aku tak pernah berpikir bahwa hari ini akan ada. Hari aku begitu sangat memikirkan hal itu. Mencambukku untuk terus memikirkannya. Apa aku tahu? Aku masih menyanyangimu seperti pertama kali bertemu di senja sore itu. Bagiku, kau adalah bagian terpenting dalam hidupku. Menulis semua tentangmu tak pernah juga air mataku tak ikut menemani. Ia selalu saja terjerembab seketika. Memenuhi wajahku. Ya, entah kenapa aku seperti ini. Padahal kau tahu apa yang telah terjadi, dan tentu kau tak menginginkan aku seperti ini. Aku selalu saja mengenangmu, tanpa kau pernah ketahui.
Kau pernah menjadi duniaku. Tinggal di hatiku. Kau masih ingat? tak pernah sedikitpun kau lepas dari kungkungan ingatanku. Selalu tentangmu. Tentang sebuah masa yang hilang. Masa yang sebenarnya tak pernah kuinginkan akan berubah nama menjadi kenangan. Tentang kisah yang dulu penuh dengan kesungguhan. Yang penuh dengan suka duka kita. Yang penuh dengan penerimaan terhadapku, penerimaan yang aku tahu sebenarnya kau sangat sulit menerimanya, tentang aku yang sederhana, tentang aku yang mungkin tak bisa membahagiakanmu. Tapi aku bahagia, karena ada satu yang tak henti kuberikan untukmu.. Satu itu adalah senyum, Satu itu adalah air mata, Satu itu adalah ketulusan, Dan satu itu adalah rasa sayang.
Yah, semua itu tak pernah kulepas bahkan setelah semua kejadian ini. Kejadian yang amat kau ketahui. Tetapi, yang selalu menjadi pertanyaan bahkan dalam setiap detik yang terlewat, yang sedang berjalan, dan yang akan kutemui nanti..
"MENGAPA AKU TERAMAT MENCINTAIMU?"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar