Minggu, 16 April 2017

Hujan dan Jarak

Berawal dari sebuah kelabilan akan sebuah pilihan, akhirnya terbentuklah sebuah perjalanan. Perjalanan singkat (dunia) dan sederhana, namun menghadirkan banyak canda untuk ditawakan, banyak langkah untuk dijejaki, petualangan yang selalu dikenang, dan sebuah rasa yang menawarkan sebuah cerita. Di bawah rintik air yang jatuh malu-malu setia membasahi kota, hujan dan berselimutkan kabut tipis yang samar mengiringi, sebuah lamunan seolah menghisap seluruh isi dunia, gerak dan suara, dalam sebuah bingkai batas khayalan dan kenangan. Terbias sebuah gambaran utuh cerita yang seolah terproyeksi dalam pikiran, tentang aku, tentang kamu, dan entahlah, mungkin tentang kita. Bila kita masih boleh menjadi sebuah harapan dalam sebuah cerita, jarak adalah sejengkal rindu yang tetap akan terjaga. Pada jarak, Mungkin tak ada yang istimewa. Hanya hujan. Hanya kabut. Lalu lalang jalanan. Hutan dan pepohonan. Dalam gelap. Dalam malam masing masing kota kita berpijak. Sendiri dalam diam yang tak sepenuhnya hampa. Suara deru knalpot, sumbangnya klakson, teriakan dan makian sopir angkot menjadi lagu pengiring untuk setiap lamunan. Sepi yang tak seutuhnya kosong. Lalu lalang jalanan, orang-orang yang berlarian,  dan temaram lampu menjadi latar untuk sebuah drama. Dan hujan bersama kabut menjadi utama mengawal kisah ini.
Hujan, mengisahkan apa yang hati kesahkan. Dan hujan itu, kembali mengantarkan pada kisah tentangmu. Hujan, mewakili sebuah babak yang bernama Jarak. Dan dalam hujan, bayangan tentangmu, tentang kepergian, tentang tempat masingmasing dimana kita berpijak menjadi nyata tergambar, dan biarlah. Ini pada akhirnya mengalir menjadi cerita, yang akhirnya terhapus bersama hilangnya air yang menggenangi jalanan.
Bukan keberadaanmu yang aku cemaskan, tetapi justru kedatanganmu yang aku gundahkan. Kepergianmu hanya berarti kesepian, tetapi entah mengapa kedatanganmu justru berarti sebuah kehilangan. Sebuah jarak
Kehilangan. Entah apa sesungguhnya arti kehilangan. Dan selalukah kehilangan menjadi begitu linier dengan kesedihan? Apakah kehilangan adalah saat tak ada lagi berhadapan dan bersentuhan? Apakah kehilangan adalah ketika tak lagi bersama?
Dan kehilangan ini lebih dari sekedar kepergian dan ketiadaan. Ini tentang keberadaan. Tak perlu wujud yang sempurna tanpa penghalang. tak perlu pertemuan sesering detak jarum jam. Hanya perlu ketakberwujudan dan kesemuan namun penuh perlindungan.
Ini bukan tentang apa yang harus dibicarakan dan diutarakan, tapi ini tentang apa yang harus diluapkan. Ini bukan tentang bagaimana bertahan dan menyerah. Tapi ini tentang bagaimana harus menangis. Dan ternyata tak pernah mudah, sekalipun menangis adalah naluriah. Rindu.
Apa artinya jauh, bila dekat saja sudah berarti jarak. Apa artinya diam, bila berbicara saja tak lagi memiliki arti. Diam dan jarak menjadi jawaban atas apa yang disebut sebagai pengharapan.
Dan hujan telah mengantarkan setiap langkah itu menuju sebuah pemberhentian. Persinggahan. Tempat bersandar setiap pedihnya rasa. Sebuah persimpangan atas sebuah pemahaman. Dan juga penerimaan.
Jarak itu tak selalu bersanding dengan kesedihan. Dia hanya menyapa namun akan berlalu. Jarak hanyalah sebuah proses untuk belajar menerima kebahagiaan, yang terkadang datang malu-malu. Ketika telah tersiapkan hati atas kehilangan akan jarak, maka bersiaplah menyambut senyuman yang mengetuk pintu. Membuka gerbang untuk sebuah kisah yang selanjutnya. Kisah yang bermula dari sebuah jarak dan kehilangan (temanjarakjauh).

Satria Imaduddin


#☺😗😄😅
#kisah
#LDRnamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar