Minggu, 07 April 2024

Istri, jantung rumah tangga

SEBUAH RUMAH TANGGA DIIBARATKAN BAGAI SUATU TUBUH

Kepala rumah tangga adalah Ayah. Namun jantung rumah tangga adalah Ibu.
Kamu tau apa itu jantung?
Guru Biologi bilang, jantung adalah kantung berdenyut yang terbuat dari otot yang paling kuat. KUAT! 
Ia adalah organ tubuh tersibuk.
Sangat sibuk!

Saat otak dan seluruh tubuh berhenti dan beristirahat, jantung tidak pernah berhenti bekerja. Dengan adanya denyut nadi, kita mengetahui bahwa tubuh masih hidup.
Jantung mentransfer darah yang mengandung makanan dan oksigen yang sangat penting bagi seluruh organ vital tubuh. 5 menit saja tanpa oksigen, maka otak akan mengalami kerusakan. 

Jantung adalah yang membuat rumah tangga kita tetap berdenyut. 

Begitu pula dengan sebuah keluarga. 5 menit saja tanpa campur tangan istri, maka suami akan kelimpungan seharian.

Istri adalah jantung rumah tangga, bila ia bahagia, seisi rumah akan merasakannya. Ketika ia berhenti bekerja maka berhentilah seluruh kehidupan di dalamnya.
Bagaimana pun orang memaknainya istri adalah pemegang kelarasan kehidupan berumah tangga. 
Suami banyak pengorbanannya, nafkah adalah tanggungan. Istri lebih lebih banyak pengorbanannya. 

Jangan memandang apalagi menyebut istri pengemis saat ia menyampaikan kebutuhannya, saat ia menyampaikan keinginannya. Perhatian dan interaksi yang selaras. Itu adalah hak mereka. Bila itu adalah kebutuhan pokok maka sudah semestinya tanpa diminta seorang suami bersegera memenuhi kebutuhannya. Bila tidak, berdosalah ia di mata Allah SWT. 

Rasulullah SAW bersabda:

‎كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

"Cukuplah seseorang berdosa dengan mengabaikan orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Ahmad).

Maka carilah nafkah yang halal sebaik-baiknya. Gunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri hingga level terpuji (di mata Allah). Ketika mereka mengeluhkan kebutuhan yang dirasa kurang, maka jangan hardik mereka, jangan sebut mereka sebagai pengemis karena kewajibanmu untuk memenuhinya. Engkaulah yang memang telah diamanati oleh Allah untuk memenuhi nafkah mereka.

Istri, katanya banyak tuntutannya, kurang bersyukurnya. Padahal ia hanya menginginkan rumah tangga yang saling mendengarkan, mengasihi. 
Ternyata berumah tangga lebih banyak egonya. Hingga muncul kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Itu akan selalu terngiang dan tak terlupakan.

Percayalah, kewarasan istri tergantung dari cara kamu memperlakukannya, jagalah Jantung Rumah tanggamu itu dengan ilmu agama dan kasih sayang.


Tulisan ini di dedikasikan untuk seluruh ibu yg merasa lelah sebab tidak pernah berhenti bekerja. Seakan pekerjaan tak pernah usai dan habisnya. Menit berganti jam, hari berganti malam, bahkan saat sakitpun tugas ibu tetap tidak pernah terbengkalai. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar